📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀
•••
𝓑ogor memutuskan mengakhiri November dengan kedinginan. Terlebih Kota Hujan yang disematkan dalam saku bajunya. Hujan pun tak ubah menjelma teman. Terlampau banyak kenangan tertumpah-ruah mengecupi tiap sudut kota ini. Pun terhitung dia. Sebabnya mengapa Meyra tak kuasa berpaling.
Mana sanggup mematikan bara napas yang selama ini telah terhembus di sepanjang hidupnya, meniadakan mata air yang melahirkan dirinya. Lantas bagaimana bisa dia tetap hidup tanpa kota ini?
Gempita tangisan mega biru di luar sana melambai pada bening kaca jendela, membisiki dirinya untuk menyibakkan mata tanpa butuh sapaan. Tak luput rinai yang menjemputnya dari dekapan semu. Bahkan gelegar petir turut merapalkan fatwa.
Akhirnya Meyra menuruti kehendak hujan. Manik amber titipan Tuhan padanya berpendar ke sekeliling meskipun batin terus berkomat-kamit.
Sungguh, dia masih ingin terlelap jika bujukan hujan adalah nyata. Namun, untuk apa langit berbohong jika air matanya merembah jatuh jadi tabir untuk bumi?
Itulah yang pedih, alam selalu jujur.
Benar, lagi-lagi mimpi mengajaknya bermain petak umpet.
Meyra menyapu kasar wajahnya. Dia bangun dan duduk bersandar pada bantal, menyeka keringat dingin di keningnya. Dadanya sesak. Terhimpit tak ada ruang. Selama ini harapan membuatnya kembali tegak dari gemetar kaki yang hendak tergelincir. Lihatlah sekarang, bukankah hanya tersisa mimpi?
Lalu tawa getir terjerembab halus dari bibir yang lama-lama berujung lolosnya isakan mulus.
Selanjutnya siapa lagi yang berkemas pergi?
Terakhir, diusapkannya kedua ceruk mata dan memijat pelan pelipis yang nyeri.
Tidak. Ada Biru. Ada Gibran. Terimalah, esensinya hidup memang begini. Tak lain tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan, bukan?
Kemudian Meyra beranjak. Ia menarik selimut, menyusun semula. Setelah buku hariannya menyambut, ia genggam pena. Menuangkan semua yang tak terhitung dalam tinta. Melukiskan seluruh ayunan simfoni yang pupus sudah, jadi kelabu. Ia harus akui segala tanda tanya yang telah tergenapi titik.
Sesudahnya Meyra pandang kembali kata-kata yang sedikit gila oleh tangannya, tapi ia tak mampu jumpai dusta dalam coretan di atas kertas itu.
Jemarinya menggapai lembar foto yang mengintip di sudut meja.
Satu menit, dua menit, tiga menit, perempuan itu bungkam saja.
Kemudian ia dekatkan bibirnya pada permukaan kertas doff itu. "Aku janji," bisiknya pedih meneguk kalimat yang terbang hilang, tak akan temukan kata miliknya yang berujung sepi sendiri.
"Aku janji." Hampir hening. Ia pejamkan mata yang berdenyut, Meyra rasakan bayangan kehadiran dia.
Dia pergi. Tiada lagi. Ikhlaslah, Mey.
Meyra ketahui air matanya memang kering tak lagi bagai lilin yang meleleh. Namun, hatinya terasa lebih sakit. Bibirnya malah bergetar menahan tangis yang tandus. Ingin berhenti, tapi pelik sekali.
Setelah merasa sedikit reda, tiba-tiba Meyra tersadar. Sejak kapan dia berpindah ke ranjang, lalu tertidur? Rasanya terakhir kali yang ia ingat, ia masih duduk membaca novelnya.
"Mbak? Mbak sudah bangun?" ujar suara halus dari balik pintu sesudah ketukan dua kali sebelumnya.
Meyra terdiam sebentar sebelum menjawab, "Masuk saja, Mbok." Meyra memandang Mbok Asri masuk sambil tersenyum dengan membawa baki berisi makanan dan segelas air putih hangat yang diletakkan di atas nakas. Jangan lupakan beberapa kemasan aluminium foil yang ikut tergeletak di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomantikDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
