1.9. [Yang Tak Kunjung Mati]

125 27 3
                                        

📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀

Don't forget to listen the song above.

•••

𝓓ear Dandelion,

Lagi dan lagi, aku mengecewakan Iban.
Tapi mau bagaimana lagi?
Iban akan sangat terluka manakala tahu aku masih mencari dia.

Hari demi hari, kenapa tereguk sia-sia?
Bagaimana bisa aku menomorsatukan Iban sementara relungku menjerit lain?

Setidaknya sampai aku temukan bab epilog yang pergi menyeret mimpi-mimpiku.

Mungkin saat ini, biar saja Iban hanya ketahui aku telah menerimanya.
Hanya ketahui aku semakin pandai mencintainya seperti cintanya padaku.
Tanpa tahu sesaknya dada melawan kehendak hati.
Karena apa lagi yang bisa kuberi?

Rasaku bukan pura-pura, sungguh! Aku serius.
Tapi entahlah mengapa begini?

Aku tak bisa mengikuti kata-kata July, membuang jauh semua ragu aku masih sanggup.
Namun, menghapuskan bayangnya adalah mustahil, datang tanpa aku undang.

Aku harap suatu waktu Iban bisa memaafkanku hari ini, mau memaafkan ketidakjujuran bukan hanya kondisi jiwaku, tapi juga raga.
Sudah cukup Iban menghabiskan waktunya untukku.
Sampai di sini saja.

Melintasi dua ratus empat puluh purnama bersama Iban, mengajariku bagaimana mencintai dengan jujur.
Namun, aku tetap saja tak mampu.

Meski terkadang nyala tulus dan setia Iban membakar ragu yang ada.
Pada akhirnya, aku tetap mengenang dia.

Bagaimanapun, selamanya aku tentu mencintai dia dan Iban.
Tanpa bisa menomorduakan salah satunya.
Mereka menempati ruang tak sama.
Berbeda, tiada bisa dijabarkan.
Biar saja waktu yang berperan.

Suatu hari nanti, boleh aku meminta padamu?
Andai kata tak sanggup, tolong sampaikan pada Iban, terima kasih telah mencintai gadis pembohong ini dalam ikhlas, dengan tulus begitu yang begitu jelitanya, mana pernah pantas kusambut pengorbanan dan kasihnya.

Hanya ingin Iban tahu, aku tetap mencintainya dengan cara ini, juga akan senantiasa mendoakan kebahagian menyentuhnya, tiada henti dalam tiap sujudku.

Sungguh, aku mana sanggup membohongi Iban lagi.
Habis sudah separuh nyawaku isaki ketulusannya.

***

Meyra merapatkan jurnal biru gelap yang mendampingi suka-dukanya beberapa warsa belakangan. Berdua dengan himpunan kelopak kering nan usang yang bersemayam pada halaman jurnal kuno Meyra, mereka menyamar saksi bisu bab-bab kisah Meyra yang telah dibaca.

Kemudian dia merebahkan diri, memandang suasana kamarnya yang lumayan meredamkan sesak. Sejenak saja, dia butuh seperti ini beberapa saat. Tanpa penerangan, sengaja Meyra tak menyalakan lampu dan membebaskan cahaya matahari pagi tak menerobos masuk.

Hanya ada dirinya dan langit malam rekaan yang ia harap sedikit lebih lama menemani. Menolong tenangkannya dari kecamuk yang enggan beranjak dalam benak.

Banyak orang bilang, kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar kita miliki sampai hal itu pergi. Meyra setuju. Dia tak mengindahkan rumitnya kisah yang sedang ia jalani. Dia tidak peduli jerit kesakitan jiwa raga sekalian yang menyiksa tiada henti. Dia hanya peduli untuk bertahan, menjalani hidup sebaik-baiknya hidup.

Nyala RenjanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang