📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀
•••
"𝓢udah siap, Biru?" Lengkung bibir Gibran tertarik ke atas ketika melihat gadis kecilnya telah menanti dirinya di depan pintu. Dia menunduk dan mengecup pipi mungil di hadapannya.
Biru mengangguk dan tertawa kegelian saat rambut-rambut halus di wajah Gibran menyapu kedua pipinya.
"Ibu mana, Sayang?"
Suara ketukan heels menyambut mereka berdua. "I'm here." Seruan Meyra menyahuti dari undakan tangga terakhir, tak jauh dari tempat Gibran dan Biru berdiri.
"Okay, let's get the ball rolling," kata Gibran ketika rasanya tak mampu berpaling dari Meyra saat ini.
Lalu Meyra berjalan ke arah mereka. Dia tersenyum samar memandangi Gibran. Malam ini Gibran berbeda sekali dari biasanya. Tak ada lagi setelan jas atau bahkan dasi yang tampak dilonggarkan seperti biasa ketika lelaki itu mengunjunginya selepas pulang kerja. Kini hanya ada sosok pria tegap yang lebih tinggi tiga puluh sentimeter dari tubuh pendek Meyra, persona yang hanya terbalut oleh kaus Polo putih, bomber hitam sebagai outer, celana jeans hitam, dan sepasang sneakers putih.
"Ternyata bisa juga kamu terlihat sepuluh tahun lebih muda."
"Ternyata motifmu tak berubah dari dulu. Pujian dibalik penghinaan." Gibran pura-pura tampak meringis. "And you look out of this world," tambahnya mengulas senyum menggoda.
Meyra hanya membalas dengan tersenyum remeh dan tak menjawab. Dia mengikuti Biru yang telah memasuki mobil lebih dahulu.
"As pretty as always." Gibran sengaja berbisik pelan sambil menarik handle mobil, membukakan pintu untuk Meyra. Saat ini dia yang akan menyetir, tidak ada Pak Damar dan hanya mereka bertiga.
Kalian tahu apa tanggapan dari Meyra ketika menangkap bisikan Gibran barusan? Seperti biasa, dia hanya mengangkat bahu tak acuh. Ia mencoba sebisa mungkin menghambat lepasnya hormon adrenalin yang meningkatkan sirkulasi darah pada wajahnya yang disesaki pembuluh darah kecil bertabur komprehensif.
Ck, lagian kenapa sistem saraf simpatik tubuhku senantiasa merespon begini, sih? Tidak bisakah semburat bening saja yang terbit, bukan malah rona merah? Syukurlah, ini malam hari.
***
"Sungguh?"
Ini yang pertama dicetuskan Meyra begitu mereka bertiga sampai ke tempat tujuan Gibran yang penuh kejutan katanya.
Suara teriakan di mana-mana, stan-stan yang menawarkan permen kapas dan es krim, bianglala, komidi putar, dan berbagai wahana adrenalin lainnya mengabuti ruang pandang Meyra ketika sepasang kakinya melangkah keluar dari mobil. Adakah sebutan lain selain taman hiburan?
Gibran mengangguk atas keheranan Meyra, sedangkan Biru jangan ditanya lagi, mata mungilnya sudah berbinar-binar menjelajahi kerlap-kerlip lampu yang dipantulkan dari dalam taman hiburan di hadapan mereka.
"Kenapa? Bukankah kamu suka?" Alis Gibran bergerak naik mengamati raut wajah Meyra yang masih melongo.
Meyra melirik Gibran kesal. "Suka tentu saja." Kemudian beralih mengamati dirinya dari ujung kaki. "Tapi bilang dulu, dong. Masa aku pakai pakaian begini, Iban?" Dia kembali meratapi penampakannya malam ini. Gaun maroon dengan bawahan mengembang di atas lutut sedikit dipadu atasan sabrina dan ankle strap heels senada. Sangat menyiksa.
"Sekalian saja rambutku harusnya tadi disanggul dan diberi sirkam ala-ala," kata Meyra mencibir, dia jelas kesal dengan Gibran. Ia pikir Gibran akan mengajaknya dan Biru makan di restoran seperti biasanya sembari diiringi musik jazz klasik, atau bahkan lelaki itu akan menyewa penuh restoran untuk malam ini seperti yang ditawarkan oleh kebanyakan novel roman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomanceDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
