2.2. [Detik Kelabu]

110 27 3
                                        

📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀

Don't forget to listen the song above.

•••

5 November 2017.

𝓜alam itu, Gibran baru pulang dari kantor setelah acara penyambutan untuknya atas kenaikan jabatan menjadi wakil direktur utama. Perasaannya bergejolak tak sabaran. Sedari tiba di rumah sakit, senyuman tak henti disampaikan oleh rautnya. Meyra pasti akan senang ini, pikirnya. Begitu juga dengan Ibu, sungguh pun raganya terbaring tak berdaya dengan berbagai selang yang terpasang, Ibu tentu senang mengetahui kabar ini.

Semoga bisa menambah semangat Ibu untuk berjuang sembuh.

Dalam langkah panjang, Gibran berlari menyusuri koridor bangunan serba putih itu. Saking tergopoh-gopoh, dia nyaris menabrak bahu seorang perawat yang tengah mendorong brankar.

Sesampainya di depan ruang Ibu dirawat, Gibran mengatur napasnya yang tak beraturan. Baru saja ia ingin mencari Meyra, tetapi senyumnya memudar. Pupilnya tercengang, dilihatnya Meyra meringkuk di atas marmer yang dingin. Sorot mata perempuan itu menatap kosong pintu kaca ruangan di depannya. Bahkan, tak ada jaket ataupun sweter yang membungkus tubuh mungil Meyra saat malam dingin di musim penghujan seperti waktu ini.

Gibran akhirnya mendekat dan harus membungkukkan sedikit tubuhnya. Ketika hendak dilepaskan jas yang ia kenakan, suara Meyra menyela.

"Semuanya menurun, Iban," lirih datar Meyra. Tentu saja Meyra bisa merasakan kehadiran Gibran, aroma parfum khas pria itu menyeruak ke dalam indra penciumannya. Meyra masih memandang awas dan lurus pintu ruangan ICCU di hadapannya. Pintu ruangan tempat berlalu-lalang pasien kritis dewasa yang mengalami gangguan pada jantung.

Manik mata amber gadis itu tak terlihat berkaca-kaca, tetapi Gibran sangat tahu apa yang sedang melingkupi benak teman hidupnya. Ada kesakitan yang lebih nyeri daripada kesakitan yang kasat mata.

Meyra kemudian melirik Gibran yang terkelu, "Iban, temani aku salat isya, ya."

Gibran mengangguk, kemudian berdiri menemani Meyra ke masjid untuk salat. Saat ini bukan waktu yang tepat untuknya menceritakan kenaikan jabatan yang ia peroleh pada Meyra.

Seusai memanjatkan doa dan zikir di atas sajadah selepas salat, Gibran berdiri bangkit. Masjid rumah sakit ini hening sekali. Dia menilik jarum luminous pada arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan angka sembilan.

Pantas saja.

Orang-orang tentu telah sedari tadi melaksanakan salat isya. Wajar bila masjid ini tampak senyap. Namun, Gibran mendengar isakan kecil. Suara yang dikenalinya.

Dia lekas menghampiri Meyra. Mukena dengan renda putih terlihat masih terpaut pada tubuh mungil itu.

Isakan itu terdengar semakin pilu. Begitu pedih hingga Gibran juga ikut merasakan pedih ketika mendengarnya. Sungguh, dia tak sanggup menangkap suara itu. Ingin rasanya memaksa telinga untuk tak mampu meraba isakan Meyra.

Kepala Meyra tertunduk dalam. Gibran sontak memegang pergelangan tangan Meyra, menarik ke dalam rengkuhannya. Gibran tidak berkata apapun, dia hanya mengusap kepala belakang Meyra berusaha menenangkannya.

"Menangislah sepuasnya," ucap Gibran dengan lembut. Dia ikut menjatuhkan kepalanya di atas kepala perempuan dalam dekapannya.

Gibran paham, bukan kata-kata manis atau penuh semangat sebagai penghibur yang dibutuhkan Meyra sekarang. Melainkan sebuah sandaran, hanya itu. Bukan, bukan sandaran sekadar menawarkan bahu. Lebih dalam daripada itu, sandaran batin yang berempatiーturut dan dapat merasai. Sedang Gibran tahu betul tentang Meyra saat ini. Hal-hal semacam ini lebih dini dia lewati beberapa tahun silam, bahkan langsung menemuinya berlipat ganda.

Nyala RenjanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang