📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀
Seraya dengarkan lagu di atas.
•••
"𝓘ban, kita kenapa serba putih begini? Kamu mau ajak aku ke mana?" Meyra mengernyit heran dan menurunkan pandangan. Gaun cocktail putih gading menjuntai hingga lutut dengan potongan A-line dan hiasan renda brokat di sekujur bagian melekati tubuhnya.
Bahkan tadi, Gibran sekonyong-konyong mengambil sejumput rambut miliknya. Lelaki itu mengepang, lalu menggelung menjadikan cepolan. Meloloskan secercah helai menggantung bebas. Sebagai pemanis barangkali.
"Iban." Sekali lagi.
Tak mengindahkan dirinya, Gibran menarik lengannya masuk ke semata wayang pintu di sepanjang koridor kelam yang telah mereka lewati.
Hembusan nada-nada masygul menyergap tandas kedua telinga Meyra. Belum sempat ia menyerap dentingan tuts piano yang menyambut, Gibran kembali menariknya duduk pada dua bangku tersisa di barisan terdepan deretan kursi penonton.
Ada apa?
Matanya menyentuh sekeliling. Semua persis seperti dirinya dan Gibran, berpakaian putih.
Namun, lantunan nada yang tadi menyiksanya kembali mengambil alih perhatian Meyra.
Meyra terpaku. Kedua kelopak matanya tak berkedip menyimak jalannya melodi yang ditalunkan pianis berbahu lebar nan tegap di balik piano hitam itu. Sampai-sampai ia abai dengan apa yang terjadi. Tak acuh pada semua penonton termasuk Gibran yang turut tercengang sedari tadi menatap ke satu titik.
Aneh sekali. Kenapa rasanya Meyra ingin menangis?
Suasana redup minim sekali pencahayaan dalam ruangan ini turut melimpahkan tanda tanya seperti apa rupa pianis penuh takjub di hadapannya.
Bergulinglah tiga ratus enam puluh detik tersisa.
Enam menit telah luruh bagi pianis misterius itu membungkam bersih segenap pasang mata yang menyaksikan irama lagunya. Terlalu sembiluan tak bertepi. Menghipnotis seantero jiwa yang hadir pada permainannya. Seakan ikut berdansa pilu bersama dirinya. Termasuk Meyra. Ia menyaksikan gadis itu tak berkedip.
Sontak Meyra berdiri, bertepuk tangan kencang. Dirinya terpesona.
Tunggu. Lihatlah sekitar.
Meyra menyadari keganjilan. Gema tepukan tangannya hanya bergaung sendirian.
Apa lagi sekarang?
Tak satu pun turut bertepuk tangan, hanya Meyra. Tidak pula Gibran.
Perempuan itu menjamahi kanan kirinya. Segala kecuali dirinya masih tak berkedip memandang ke depan.
Apa mereka tak mendapati permainan pianis lelaki itu telah usai?
"Iban," Dia membisiki Gibran.
Tak ada tanggapan. Gibran tetap saja menatap lurus pada hadapannya.
Meyra lantas beralih pada sang pianis. Lelaki di balik piano besar itu berdiri. Tak lama membungkukkan badan. Pianis misterius itu tegak tepat di bawah satu-satunya lampu yang menerangi panggung dalam nyala kecil.
Meyra masih bisa melihat jelas. Dirinya mengejapkan mata sekali.
Tetap saja.
Ia terhenyak. Jantungnya berdegup cepat sekali. Sesak membius habis dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomantikDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
