📌JANGAN LUPA KLIK BINTANGNYA📌
Hope you like it🍀
Don't forget to listen the song above.
•••
𝓜enjelang senja mati di penghabisan, Meyra membinasakan langkah dengan menyusuri danau yang tergelar persis di kanannya.
Tak kira angin apa yang membujuk. Sayangnya, hamparan dedaunan teh yang hijau selaras dengan jernihnya air juga jingganya langit tak sampai manjakan mata Meyra. Sungguh pun goresan kabut tipis yang menggantung rendah di mega lembayung ikut mendesaknya, tetap saja tiada membakar segala tanya.
Tak apalah, kelabu di benaknya cukup memudar. Apalagi di penghujung pekan serupa kini, alih-alih tersesaki kerubungan pelancong, danau ini malah sepi sunyi. Suatu midas touch baginya bisa berduaan bersama panorama ini.
Lumayan puas membunuh detik, Meyra mendekati sebuah pohon rindang yang ditangkap oleh netra, diselonjorkan kedua kakinya, lalu disandarkan badan pada batang pohon yang tampak sepuh. Masih lekat mencoba memuja danau di muka, Meyra menjangkau lintang tangannya ke samping, menentang siapa saja angin yang hendak melawan.
Dia pejamkan kelopak mata, seakan mendengar sahutan angin, begitu syahdu senyatanya. Gendang telinganya terasa jauh lebih peka. Didengarnya riakan danau yang semestinya tenang, riuh dedaunan yang membisiki dirinya, ocehan burung yang lewat di angkasa petang, dan jeritan yang mengusik.
Tunggu... Meyra sontak saja menyibakkan mata lebar. Tidak salah tangkap, bahana pekikan balik menyadarkan. Dijamahinya kanan kiri, nol. Apa telinganya hanya meracau?
Namun, semua terjawab. Ketika kepalanya tertuju lurus, asal jeritan itu ada di sana.
Meyra mengejapkan mata. Sekali, dua kali. Tidak, dia tidak terjangkiti rabun senja. Sesuatu yang bergerak tampak mengapung di atas gelagat danau. Ada sepasang tangan melambai remang. Oh Tuhan, tidak mungkin salah. Sosok anak puan kecil menjerit, memohon pertolongan.
Secepat angin yang membelai polos, Meyra lekas berdiri, bertekad lari menyelamatkan sosok yang jelas tak bisa berenang.
Namun, apa-apaan ini? Segala otot di kakinya malah bersandiwara dalam kaku. Kakinya bisu, seolah lumpuh sesaat. Sekeras apapun ia paksa tegak, tak bisa. Nihil.
Tidak, tidak! Bagaimana ini? Jasad sosok kecil itu perlahan mengecil dari penglihatannya. Bayangan ngeri tertampil dalam pikirannya. Tidak boleh, hidupnya akan dibayangi tak berkesudahan jika menyaksikan anak kecil itu lenyap ke dasar danau. Gadis kecil itu harus selamat, harus melihat alangkah ragamnya menu yang ditawarkan denyut bumi, bagaimanapun itu kebolehjadian yang mengadangi.
Meyra tak acuh sungguh bukan main-main nyerinya menggerakkan kaki yang bertampuk kandas.
"Tolong! Siapapun tolong!" Menjerit tersedu-sedan dikabuti kalut, Meyra tak kuat ketika dilihatnya air meraup masuk ke dalam mulut anak perempuan itu.
"TOLONG!!" Laungan sembilu Meyra tak sekalipun tersambut. Dia tak mau menjadi saksi seumur hidup atas seseorang yang meninggal sia-sia di depannya sendiri tanpa bisa ia selamatkan.
Tuhan, dia tak ingin.
"Siapa pun tolong!!" Meyra terus merintih dalam kesakitannya yang terus menggerakkan kaki.
Percayalah, saat itu lembayung senja hanya terkelu di kediamannya. Hanya mampu menyaksikan ketika suara Meyra tercekat dengan mata yang nyalang memerah, seakan air danau turut mencekik Meyra, bahkan menyerang tembus ke dalam indra penglihatnya.
***
"Tolong! Tolong!" Kini, apa lagi? Meyra merasakan tubuhnya kentara sekali diguncangkan. Bukan, bukanlah dia yang harus diselamatkan! Sosok kecil itu, di mana gadis puan mungil itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Nyala Renjana
RomanceDear Ilahi, Banyak manusia-Mu bilang, kami tidak pernah tahu apa yang kami miliki sampai hal itu hilang. Namun, bagaimana jika dia tidak pernah benar-benar hilang? ••• ❝ My heart is mute.❞ ❝ Then i must speak for it.❞ ••• All rights reserved 2019 by...
