56 - All for Maura

112K 8.3K 1.6K
                                        


"Lo ngapain bawa gue ke sini?" tanya Malvin saat mobil Alvarel memasuki gedung tak terpakai.

Alvarel tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum miring lalu keluar dari mobil dan menyeret Malvin memasuki gedung tersebut. Alvarel tidak mempedulikan umpatan dan ringisan kesakitan Malvin.

Bruk!

Alvarel mendorong Malvin hingga terhempas ke tumpukan besi. Lagi-lagi Malvin meringis kesakitan akibat benturan keras di punggungnya.

"Brengsek! Mau lo apa sih hah?! Sebutin apa mau lo, uang? Jabatan? Gue bakal kasih lo semua itu asal lo lepasin gue!"

Sebelah sudut bibir Alvarel terangkat membentuk senyuman yang mengerikan. Alvarel menggulung lengan kemejanya dan berjalan mendekati Malvin.

"Nyawa lo."

Malvin terbelalak. Tubuhnya tiba-tiba merinding. "Kenapa lo ngincer nyawa gue sialan?!"

"Gue udah sebutin alasannya tadi."

"Jadi cewek murahan itu ngadu yang nggak-nggak ke lo?" Malvin tertawa. "Ah, gue tau sekarang. Lo lakuin hal sejauh ini karena Maura jual tubuhnya ke lo, kan?"

"Gue nggak nyangka ada banyak cowok yang lindungin Maura gue. Gue terharu, tapi sorry, Maura cuma milik gue, bukan milik lo atau siapapun!"

Alvarel tersenyum tipis. "Percaya diri lo tinggi."  Raut wajah Alvarel berubah dingin. "Tapi bajingan kayak lo nggak pantes buat Maura."

Bugh!

Alvarel memukul telak wajah Malvin hingga tersungkur. Untuk kesekian kalinya Malvin meringis merasakan sakit di sudut bibirnya. Tapi bukan itu yang menjadi pusat pikirannya saat ini.

"Bangun, lawan gue! Gue akan bebasin lo kalo lo berhasil ngalahin gue," tantang Alvarel. Emosinya sudah di ubun-ubun sekarang. Alvarel rasanya ingin menghabisi Malvin sekarang juga namun Alvarel menahan ambisinya. Alvarel akan sedikit bermain-main untuk mengetes kemampuan Malvin, seberapa kuat cowok itu sampai dia bisa menyakiti Maura.

Alvarel tidak suka kekerasan pada perempuan. Perempuan diciptakan untuk di lindungi, bukan di sakiti. Hanya laki-laki pengecut yang tega melakukan kekerasan pada perempuan, salah satu contohnya adalah Malvin.

Malvin menyeka darahnya lalu meludah ke samping. Malvin mengumpat. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menantangnya. Sejak dulu Malvin tidak pernah terkalahkan tapi saat Alvarel menantangnya seperti ini, itu melukai harga diri Malvin.

Malvin bangkit dan menyerang Alvarel namun belum sempat kepalan tangannya menyentuh wajah Alvarel, Malvin kembali tersungkur karena tendangan yang dilayangkan pria itu.

"SIALAN!" Malvin berteriak marah.

Alvarel tersenyum remeh. "Ternyata lo nggak lebih dari seorang pecundang yang bisanya nyakitin perempuan. Gue pikir lo jago berantem."

Kedua tangan Malvin mengepal. Malvin bersumpah akan membunuh pria di depannya ini bagaimanapun caranya.

Malvin berdiri memungut besi di dekatnya. Tatapannya begitu nyalang pada Alvarel yang berdiri santai dengan satu tangan di masukkan ke dalam saku celana. Emosi Malvin tidak terbendung lagi melihat Alvarel tersenyum mengejek. Seolah-olah Malvin tidak ada apa-apanya di bandingkan pria itu.

"Nggak usah banyak bacot! Gue bisa bunuh lo kalo gue mau." Malvin bergerak lagi, kali ini gerakannya lebih sangar. Malvin tidak ragu-ragu mengayunkan besinya untuk melukai Alvarel. Keinginan terbesar Malvin saat ini adalah melenyapkan Alvarel lebih dulu. Pria yang ada kaitannya dengan Maura hingga membuatnya marah. Malvin harus melenyapkan semua laki-laki yang ada di sekitar Maura, termasuk Rafa dan cowok yang menghajarnya di sekolah.

My Cold PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang