Bagian Duapuluh
Meleburlah dalam pelukku, biar ku halau perih yang mencoba mereka sisipkan pada dadamu.
***Timeline utama.
Kamar Biru sunyi, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak perlahan. Marsya duduk di lantai dengan lutut ditekuk, di depan Biru yang hanya mengenakan kaus tanpa lengan, memperlihatkan luka lebam di lengannya. Di meja kecil di samping mereka, terdapat kotak P3K yang terbuka, kapas, alkohol, dan perban yang telah dikeluarkan.
Biru duduk di kursi, diam dengan wajah datar, meskipun tubuhnya menegang setiap kali Marsya menyentuh lukanya dengan kapas yang telah dibasahi antiseptik. Marsya, dengan ekspresi serius, terus bekerja dengan telaten, meski hatinya perih melihat luka-luka itu.
"Sakit gak?" Dengan suara lembutnya ia bertanya, pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya sendiri
Biru mengangkat bahu, memalingkan wajahnya "Udah biasa."
Marsya menghentikan tangannya, menatap Biru dengan tatapan tajam "Jangan sok kuat,Bi. Gue tahu ini sakit"
Biru menoleh perlahan, matanya bertemu dengan mata Marsya. Ada sesuatu dalam tatapan Marsya yang membuat hatinya sedikit mencair. Dia akhirnya menghela napas panjang, mengendurkan bahunya yang tegang.
"Iya... sakit."
Marsya tersenyum kecil, meskipun hatinya masih terasa berat. Dia kembali mengusap luka di lengan Biru dengan kapas. Kali ini, tangannya lebih lembut.
"Harusnya lo gak perlu ngerasain ini semua, Biru." Bisik Marsya yang masih bisa Biru dengar
Biru tertawa pahit "Gue juga gak minta lahir di keluarga yang kayak gini."
Marsya menghentikan tangannya lagi, menatap Biru dengan raut yang serius
Marsya berbisik pelan dengan mata yang berkaca kaca "Gue gak pernah tahu sesakit apa jadi elo, tapi lo udah ngelewatin hal yang hebat banget, dan gue bangga bisa kenal sama lo, lo keren banget"
Biru menatap Marsya lama. Ada sesuatu dalam kata-katanya yang menyentuh bagian terdalam hatinya, bagian yang selama ini selalu ia kunci rapat-rapat.
Marsya kembali bekerja, membersihkan luka terakhir di wajah Biru. Tapi kali ini, jarak di antara mereka terasa terlalu dekat. Marsya berusaha fokus, tapi detak jantungnya mulai menggema di telinganya.
Marsya mengambil perban, mencoba mengalihkan kegugupannya"Gue iket ya. Jangan banyak gerak."
Biru tersenyum kecil, suaranya sedikit serak "Kayak gue bisa kabur aja"
Marsya menunduk, menyelesaikan balutannya dengan hati-hati. Setelah selesai, dia mengangkat wajahnya, hanya untuk menemukan Biru sedang menatapnya. Tatapan itu—dalam, hangat, tapi juga rapuh—membuat Marsya tertegun.
Marsya gugup, mencoba memecah suasana "Kenapa bi?"
"Lo gak penasaran, kenapa bokap gue bisa sebegitu bencinya sama gue?"
"Boleh gue tahu?" pertanyaan balik menjadi jawaban yang Marsya pilih.
Biru menundukkan kepalanya, seolah menghindari pandangan Marsya yang penuh rasa ingin tahu. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.
"Nantii, gue bakal ceritain nanti saat waktunya tepat. Gue belom siap" katanya, suaranya terdengar lebih rendah dan penuh keraguan.
Marsya mengangguk, meskipun rasa ingin tahunya membuncah, dia bisa merasakan betapa beratnya beban yang sedang dibawa Biru. Dia tak ingin memaksanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MARSHED
Teen Fiction**Sinopsis:** Xabiru Arya Ganendra tumbuh dengan luka mendalam akibat masa lalu kelam dan perlakuan ayahnya yang kejam. Dunia baginya hanya tempat gelap tanpa cinta, hingga ia bertemu Marsya Eva Diandra, gadis manja dengan hidup yang sempurna. Keh...