Bagian Duapuluh Tiga
Marsya dan Fara berjalan santai menuju kelas, meski langkah Marsya sedikit lebih cepat dari biasanya karena penasaran dengan apa yang ingin Fara bicarakan.
"Far, lo tadi buru-buru banget ngajak gue ke kelas. Ada apa sih?" tanya Marsya, menoleh ke Fara yang berjalan di sampingnya.
Fara menghela napas, menundukkan sedikit kepalanya sambil memikirkan cara menjelaskan. "Gue tadi pagi ke kamar mandi cewek, sekitar setengah tujuh, masih sepi banget. Tapi di sana gue ngeliat Indah, dia lagi nangis," katanya dengan nada rendah.
Marsya langsung mengernyitkan kening. "Indah? Yang jarang banget masuk kelas itu?"
Fara mengangguk, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Iya. Gue kaget banget, Sya. Dia nangis sambil duduk di lantai, kepalanya nunduk terus. Gue ampir teriak karena ngira itu setan. Gue coba deketin, terus gue liat tangannya penuh lebam. Kayak habis dipukul, atau... gue gak tahu. Tapi itu jelas-jelas bukan luka biasa."
Marsya berhenti melangkah, memandang Fara dengan serius. "Tangannya lebam? Banyak banget?"
"Parah, sya. Ya, gue coba nanya si. Tapi dia cuma bilang, 'Gak apa-apa.' Terus langsung kabur gitu aja. Kayak gue bakal nanya lebih banyak, padahal ya... gue kepo juga, sih."
Marsya tersenyum kecut, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Aneh banget sih dia. Maksud gue, emang lebam-lebam itu dia dapet dari mana? Bisa jadi gara-gara siapa, gitu."
Fara mengangguk setuju, suaranya mulai pelan. "Iya, makanya gue penasaran. Jarang banget kan dia masuk kelas, terus sekalinya ada malah begitu."
Marsya menatap Fara, bibirnya sedikit mengerucut. "Tapi apa kita cari tahu kali, Far. Siapa tahu kita bisa bantu, tapi gimana pun kita gabisa ikut campur yaa"
Fara mengangkat bahu santai. "Iya, kita gabisa maksa. Tapi, ya... kalau dia ada cerita, kita gak keberatan denger juga. Gue pengen tahu dia kenapa yaa jujur aja gue khawatir, tapi kalau dia gak mau cerita, yaudah."
Marsya mengerutkan kening, langkahnya sedikit melambat. "Gue tuh gak tahu banyak soal Indah, Far. Emang dia tuh orangnya kayak gimana sih?" tanyanya, nada suaranya penuh rasa penasaran.
Fara mendesah pelan, seperti mencoba mengingat-ingat. "Indah tuh ya... dia cukup tertutup dari kelas 10. Gue gak pernah liat dia deket sama siapa pun, kayak gak punya temen. Tapi pas awal kelas 11, dia sempet diomongin satu sekolah gara-gara katanya pacaran sama Tristan, anak IPA sebelah. Gue gak tahu itu bener apa enggak."
Marsya mengangkat alis, merasa cerita itu mulai menarik. "Terus? Kok gue gak pernah denger gosip itu?"
Fara menghela napas panjang, menurunkan nada suaranya. "Gue juga gak terlalu peduli waktu itu. Tapi sempet ada kejadian gede banget, sya. Foto telanjang Indah kesebar waktu itu, di hotel. Katanya... Tristan yang nyebarin."
Marsya langsung berhenti di tempat, wajahnya penuh keterkejutan. "Hah?! Tristan? Ngapain dia gitu?!"
Fara menatap Marsya, suaranya pelan tapi serius. "Katanya... karena Indah gak nurut, gak ngasih 'jatah' ke Tristan. Gue juga gak ngerti gimana ceritanya, tapi waktu itu bener-bener heboh. Kasian banget si Indah, gue gak bisa bayangin gimana rasanya."
Marsya bergidik ngeri, kedua tangannya memeluk diri sendiri seolah menahan rasa tidak nyaman. "Serem amat, Far. Percintaan orang bisa sebrutal itu?!"
Fara mengangguk kecil, wajahnya penuh rasa simpati. "Iya, Sya. Sejak saat itu, Indah jarang banget masuk sekolah. Paling cuma muncul pas pelajaran seni doang. Gue denger sih dia emang suka banget seni, kayak itu satu-satunya hal yang bikin dia masih mau datang ke sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
MARSHED
Novela Juvenil**Sinopsis:** Xabiru Arya Ganendra tumbuh dengan luka mendalam akibat masa lalu kelam dan perlakuan ayahnya yang kejam. Dunia baginya hanya tempat gelap tanpa cinta, hingga ia bertemu Marsya Eva Diandra, gadis manja dengan hidup yang sempurna. Keh...
