Marshed| 24

23 0 0
                                        

Bagian Duapuluh Empat

Marsya menghela napas panjang, melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Parkiran sekolah mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang tersisa. Marsya berdiri di depan mobil hitam metalik milik Biru, menatap kosong ke kejauhan. Mobil yang ia bawa tadi pagi sudah diambil oleh montir pribadi Marsya saat istirhat tadi.

Biru tadi menyuruhnya menunggu di sini, katanya ada urusan penting yang harus diselesaikan bersama teman-temannya, Xender, Gio, dan Alza. Awalnya, Marsya merengek ingin ikut. Bibirnya maju beberapa senti, seperti anak kecil yang tidak diberi es krim.

Namun, Biru menolak tegas. "Nanti pas pulang gue cerita," ucapnya sambil mengusap kepala Marsya pelan.

"Hmmm, jangan lama-lama," balas Marsya setengah malas.

Kini, dia berdiri di parkiran, membiarkan pikirannya melayang-layang. Dejavu. Marsya teringat pertemuan pertamanya dengan Biru. Dulu, dia juga menunggu Biru di parkiran sekolah ini. Bedanya, saat itu pemilik mobil hitam metalik ini adalah orang asing baginya. Kali ini, pemiliknya adalah miliknya.

Tiba-tiba, sesuatu di kejauhan menarik perhatiannya. Seorang pria menyeret seorang perempuan dengan paksa ke koridor belakang sekolah. Langkah pria itu besar, penuh emosi, sementara perempuan itu tampak seperti tidak berdaya, mencoba melepaskan diri.

Marsya menyipitkan mata, mengenali sosok pria itu. Tristan.

Dan perempuan itu... dia mengenakan cardigan merah. Marsya langsung ingat. Itu Indah.

Marsya menggigit bibirnya, keraguan muncul sejenak. Tapi rasa penasarannya terlalu besar untuk diabaikan. Ia perlahan mengikuti mereka, memastikan langkahnya tidak bersuara.

Marsya sampai di koridor belakang sekolah, tempat yang jarang dilalui siswa lain. Tidak ada CCTV di sini, dan suasana sunyi membuat setiap langkah terdengar menggema.

Suara Tristan terdengar lebih dulu, kasar dan penuh emosi. "Berapa kali gue bilang, gugurin anak itu Anjing!lo kenapa batu banget jadi cewek?"

Marsya menyandarkan tubuhnya ke dinding, memastikan dirinya tidak terlihat. Ia mengintip sedikit, cukup untuk melihat Tristan berdiri dengan wajah merah padam, sementara Indah terisak-isak, tubuhnya terlihat gemetar.

"Aku... aku gak bisa, Tristan. Aku gak mau bunuh anak ini. Ini anak kita," jawab Indah dengan suara bergetar, hampir seperti bisikan.

Tristan mendengus, tawanya dingin dan penuh penghinaan. "Anak kita? Gue aja gak yakin lo cuma tidur sama gue. Sok-sokan bilang anak kita. Tidur sama siapa aja lo?"

Marsya mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras mendengar kata-kata itu.

Indah mencoba membela diri. "Aku bersumpah ini anak kamu. Aku gak pernah tidur sama siapa pun. Kamu sendiri yang nyiksa aku kalau aku ketahuan deket cowok lain, bahkan ngobrol sama cowok lain!"

"Kalau ketahuan. Kalau enggak? Udahlah, Ndah. Apa susahnya sih gugurin? Lagian lo buta ya? Gue masih sekolah, anjing. Gak mungkin gue mau ngurus anak sialan itu."

Marsya menahan napas, mendengar nada keras Tristan yang terdengar seperti ledakan bom.

"Kalo kamu gak mau tanggung jawab, gak apa-apa. Aku bisa besarin dia sendiri," ujar Indah, suaranya penuh ketakutan tapi juga tekad.

Marsya hampir ingin bersorak mendengar jawaban itu, tapi rasa lega itu hanya bertahan sekejap.

Tristan tiba-tiba berbicara dengan nada lembut, sangat kontras dengan kekasarannya sebelumnya. "Sayang, dengerin aku. Kamu tahu aku sayang banget sama kamu, kan? Aku gak mau kamu sakit karena harus lahirin anak itu. Kita bisa gugurin, terus kita balik kayak dulu lagi, ya? Aku janji bakal bersikap lebih baik sama kamu. Ya, sayang? Kamu percaya kan sama aku?"

MARSHEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang