Marshed|22

31 2 0
                                    

Bagian Duapuluh dua

Di parkiran sekolah yang ramai, Marsya memutar kemudi mobilnya perlahan, mencari tempat parkir yang biasa ia gunakan. Pandangannya langsung tertuju ke spot favoritnya yang kosong di ujung. Namun, sebelum ia sempat memarkirkan mobilnya, sebuah BMW putih melaju cepat dan menyerobot tempat itu tanpa ragu.

"Astaga, ini orang buta apa katarak anjir?! Parkiran gue maen serobot serobot ajaa!" gerutu Marsya sambil mengetukkan jarinya ke setir mobil. Ia menginjak rem mendadak dan mendengar suara pelan benturan dari arah depan mobilnya.

Marsya mendesah panjang, membuka pintu mobilnya dengan emosi yang sudah di ambang batas. Namun, saat ia hendak melontarkan protes, seorang laki-laki keluar dari BMW itu. Mata gadis itu melebar begitu mengenali sosoknya.

"Cavin?!" teriak Marsya, setengah heran dan setengah kesal.

Cavin tersenyum kecil, tapi wajahnya menampilkan rasa bersalah. " Marsya? Hai dan sorry, gue nggak sengaja. Gue pikir parkiran ini kosong."

Marsya menatap Cavin dengan tajam. "Nggak sengaja? Lo nggak liat gue udah mau parkir di sini? Lo main serobot gitu aja!" Suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa siswa lain di sekitar mereka.

Cavin mengangkat kedua tangannya, seolah meminta maaf. "Sya, gue beneran nggak tau. Lo gapapa kan? Ada yang sakit ngga?"

Marsya mendekat, menunjuk mobil Cavin yang kini menempel dengan bemper mobilnya. "Lo nggak liat bemper mobil gue lecet gara-gara lo? Dan ga usah so manis di depan gue sekarang"

Cavin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Sukur deh kalo lo ga luka, gue ganti rugi, oke?"

Marsya mendengus, menahan amarah. "Gausah gue ga butuh duit lo"  Ia melipat tangan di dada, menatap Cavin dengan penuh rasa kesal berniat meninggalkan Cavin begitu saja

Cavin menghela napas dan mencoba menahan Marsya. "Sya, gue ga biasa dengan lo yang jutek gini ke gua. Maafin gue yaa,  gue nggak mau ribut di hari pertama gue jadi murid baru di sini."

"Hah? Sorry Gue pasti salah denger" Marsya memotong, menatap Cavin dengan ekspresi tidak percaya, baru menyadari bahwa Cavin memakai seragam yang sama dengannya  " Murid baru? Maksud lo, lo sekolah di sini sekarang?"

Cavin tersenyum lebar, mengangkat alis. "Iya, Sya. Gue murid baru di sini. Mulai hari ini. Surprise, kan?"

Marsya mengerjap, mencoba mencerna situasi ini. "Lo serius? Lo ga waras ya? Ngapain lo pindah kesini?"

Cavin menyilangkan tangan dan bersandar di mobilnya. "Tenang Sya. Ini ga seperti yang lo fikirin ko"

Marsya memutar bola matanya, rasa kesalnya belum hilang. "Tau apa lo tentang apa yang gue fikirin?! Jelas lo pindah kesini karena ada maksud tertentu sama Biru kan?"

Cavin terkekeh pelan. "Santai, Sya. Gue cuma murid baru yang pengen adaptasi. Gue ga ada niat apa apa, lo bisa percaya sama gue kayak biasanya"

"Kalo lo sampe berani macem macem sama cowok gue, gue sendiri yang bakal ngancurin lo, Vin" Ancam Marsya dan berbalik sampai ia menemukan sosok cowok tinggi pujaan nya

Suasana di parkiran tiba-tiba berubah tegang ketika Xabiru dan teman-temannya, Gio, Alza dan Xender, muncul dari arah gerbang parkiran. Mereka berjalan mendekat dengan langkah cepat, sorot mata mereka langsung tertuju pada Cavin yang berdiri santai di sebelah mobilnya. Marsya yang semula masih sibuk dengan amarahnya pada Cavin mendadak merasa atmosfer di sekitarnya berubah.

"Bii" panggil Marsya, mencoba menarik perhatian Xabiru yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Namun, tatapan Biru tetap terkunci pada Cavin.

Cavin menoleh, menyadari kehadiran Biru dan gengnya. Senyumnya yang santai justru menambah ketegangan. "Hallo jagoan, udah lama ngga ketemu ya"

Xabiru mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia maju selangkah, berdiri di hadapan Cavin dengan tatapan yang dingin. "Apa yang lo lakuin di sini, bangsat? "

Cavin terkekeh kecil, menyandarkan punggungnya ke mobil. "Santai, X. Gue cuma murid baru. Itu bukan masalah besar, kan? sekolah ini kelihatannya seru. Apalagi dia ada di sini." Cavin melirik Marsya sekilas dengan senyum kecil, membuat Biru semakin geram.

"Jangan pernah berfikir lo diterima dengan tangan terbuka di sekolah ini!" Gio, yang biasanya lebih tenang, kini maju beberapa langkah. Tatapannya tajam ke arah Cavin. "Lo masih berani datang ke sini setelah semua yang lo lakuin waktu itu?"

Cavin mengangkat alis, masih terlihat santai. "Gio, Xender, lo berdua lupa siapa yang mulai duluan? Anak buah lo nyerang duluan, mereka bikin salah satu orang gue mati. Lo pikir gue bakal diem aja? Gue cuma kasih pelajaran yang pantas mereka terima."

Ucapan Cavin membuat darah Xender mendidih. "Anak buah lo yang mulai, Cavin! Dan lo tau itu! Tapi lo malah main hakim sendiri!"

Xabiru mengangkat tangannya, menghentikan Xender yang tampak ingin maju lebih jauh. Pandangannya tetap tertuju pada Cavin, matanya gelap seperti badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak. "gue nggak peduli alasan lo. Tapi lo udah nginjek garis yang salah dari awal, dan kalo lo ngelangkah lebih jauh dari ini, gue pastiin ga ada yang selamat dari lo, entah itu nyawa atau harga diri lo."

Cavin mendengus pelan. "Lo kira gue takut sama ancaman lo? Bagi gue, lo ga lebih dari sebutir debu, tapi lo ga usah khawatir, gue disini bukan buat bikin dramaa apalagi cari ribut, lo urus aja urusan lo sendiri gausah ngurusin gue"

Marsya, yang menyaksikan situasi itu, merasa bingung sekaligus khawatir. Ia mendekati Biru menarik ujung lengan jaketnya pelan. "Bii, udah kita pergi ajaa"

Namun Biru tak bergeming, tatapannya tetap tajam pada Cavin. "Gue cuma mau ingetin satu hal. Kalau lo nyentuh salah satu orang gue lagi, atau lo bikin masalah sekecil apa pun di sini, gue sendiri yang bakal beresin lo."

Cavin hanya tersenyum kecil, lalu berjalan mendekat hingga hanya beberapa langkah dari Biru. "Kita lihat aja, X. Tapi ingat, gue nggak pernah takut sama lo. Bahkan nggak pernah sekalipun."

Marsya, yang merasa situasi semakin panas, langsung berdiri di antara mereka. "Oke, cukup. Situasi nya udah ga kondusif, gue gamau lo kena masalah cuma gara gara dia"  mencoba membujuk Xabiru dengan tatapannya

Cavin melangkah mundur dengan senyum tipis. "Tenang, sya. Gue nggak mau bikin masalah. Setidaknya nggak di hari pertama gue di sini."

Xabiru masih mengepalkan tangannya, tapi ia akhirnya mundur setelah Marsya memegang lengannya erat. "Bii" bisik Marsya. Biru menghela napas panjang, menenangkan dirinya, lalu menarik Gio dan Xender menjauh.

Cavin memandang kepergian mereka dengan tatapan penuh arti. "Seru juga sekolah ini," gumamnya pelan sebelum kembali masuk ke mobilnya. Entah kenapa, senyum Cavin terlihat seperti seseorang yang tengah merencanakan sesuatu.


Next chapter yeorobuun

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MARSHEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang