Marshed|22

80 3 1
                                        

Bagian Duapuluh dua

Parkiran di sekolah pagi itu penuh seperti biasa, kendaraan berseliweran, siswa-siswa sibuk bercengkerama sebelum masuk kelas. Marsya mengendarai mobil putihnya dengan hati-hati, mencari spot kosong di dekat pintu masuk. Setelah beberapa kali berputar, akhirnya dia menemukan satu tempat yang pas.

Tapi belum sempat dia memutar setir, sebuah motor melaju kencang, menerobos langsung ke spot parkir itu. Dalam detik yang sama, motor tersebut menyerempet bumper mobil Marsya. Bunyi gesekan logam membuat kepala semua orang di sekitar parkiran menoleh.

Marsya menginjak rem mendadak, wajahnya merah padam. Dia keluar dari mobilnya dengan langkah cepat, napasnya memburu karena amarah.

"Hei! Lo nggak liat, ya? Gue udah mau parkir di situ!" serunya lantang.

Pemilik motor, seorang laki laki, hanya menoleh santai. Dengan jaket jeans lusuh dan helm yang masih menggantung di setangnya, dia memandang Marsya dengan senyum tengil.

"Wah, Mbak Cantik. Gue kira ini parkiran bebas, siapa cepat dia dapat," balasnya, mengangkat alis seolah tidak bersalah.

Marsya melotot, menunjuk bumper mobilnya yang tergores. "Lo gak liat itu? Lo nyerempet mobil gue, tahu nggak!"

Laki laki itu mendekat, melihat goresan itu sekilas, lalu mengangkat bahu. "Ahh Cuma lecet doang, kok. Santai aja, gue bayar nanti."

Jawaban itu hanya membuat Marsya semakin kesal. Dia membuka mulut untuk membalas, tapi langkah berat di belakangnya membuatnya berhenti.

"Udah," suara berat dan dingin itu memecah suasana.

Marsya menoleh, dan di sana berdiri Xabiru, dengan jaket hitam yang khas dan wajah tanpa ekspresi. Dia menatap Marsya sekilas, lalu memindahkan pandangannya ke arah laki laki itu.

Laki laki tinggi yang hampir menyamai tinggi Xabiru, yang awalnya terlihat santai, kini berhadapan dengan mata tajam Xabiru. Tapi alih-alih mundur, dia malah tersenyum kecil, penuh rasa tengil. "Oh, ini pacar lo, ya? Datang buat jadi pahlawan?" katanya sambil menyeringai.

Xabiru tidak menjawab. Dia hanya melangkah maju dengan tenang, berdiri hanya beberapa langkah di depan si cowok. Tatapannya dingin, menusuk, dan suasana di sekitar mereka langsung berubah tegang.

"Lo nabrak mobilnya," kata Xabiru singkat, nadanya datar tapi penuh tekanan.

"Udah gue bilang gue bayar, kan?" jawab nya, mencoba mempertahankan sikapnya yang santai. "Lagian, lo gak perlu repot-repot ngurusin urusan kecil kayak gini."

Xabiru tetap diam, tapi matanya tidak pernah lepas dari lawan bicaranya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat siapa pun merasa seperti sedang ditelanjangi, seolah tidak ada tempat untuk bersembunyi.

"Lo gak bisa liat jalan, atau lo cuma gak peduli?" Xabiru akhirnya berbicara, suaranya masih pelan, tapi intonasinya cukup untuk membuat suasana semakin mencekam.

Ia tersenyum miring, mencoba melawan rasa tidak nyaman yang perlahan muncul. "Gue gak buta, kok. Cuma tadi gue buru-buru aja. Namanya juga manusia, ya kan? Salah dikit wajar."

Marsya mendengus kesal di belakang Xabiru. "Salah dikit? Lo serius?"

Xabiru mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar Marsya tenang. Dia kembali menatap si cowok, tatapan yang tidak menunjukkan emosi apa pun, tapi cukup untuk membuat lawan bicaranya diam beberapa detik.

"Nama lo?" Tanya Xabiru dengan tenang namun dingin

Si cowok, yang jelas-jelas berusaha tetap tenang meski suasana makin menegangkan, menyeka telapak tangannya di celana abu abunya, seolah memastikan tidak ada noda. Dia menjulurkan tangannya dengan senyum tengil.

MARSHEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang