Marshed| 26

12 0 0
                                        

Bagian Duapuluh Enam

Paginya, Indah sedang sibuk di dapur, sesekali tersenyum pada ART rumah yang membantu mengaduk sup di panci besar. Meski perutnya yang mulai membesar membatasi gerakannya, ia tetap terlihat luwes. Pagi itu dapur dipenuhi aroma sup ayam dan wangi nasi hangat, menciptakan suasana yang nyaman.

Marsya dan Marcel turun dari lantai dua, berseragam rapi dengan dasi yang terikat sempurna. Marsya masih mengucek matanya, sementara Marcel sudah sepenuhnya siap dengan jaket baseball hitam kesayangannya yang selalu membuatnya terlihat lebih gagah.

Marsya, yang melihat Indah sedang sibuk memasak, langsung melangkah cepat ke dapur. "Ndah! Lo ngapain? Lo kan tamu di sini. Gausah repot-repot masak kayak gini, apalagi lo lagi hamil. Lo harus banyak istirahat," katanya dengan nada khawatir, menghampiri Indah.

Indah hanya tersenyum kecil, menghentikan sejenak gerakannya. "Gapapa, sya. Gue cuma mau bantu. Gue gak enak kalau cuma diem aja. Lagi pula, masak itu bikin gue ngerasa lebih tenang."

Marsya membuka mulut, ingin membalas, tapi terdiam.  juga bisa merasakan ketulusan di balik alasan itu. Akhirnya, Marsya hanya menghela napas. "Tapi nanti kalau capek bilang, ya. Jangan maksa. Semalem gue nanya chat gpt gimana nge treat ibu hamil dengan baik dan benar, katanya jangan ngerjain pekerjaan yang berat berat apalagi hamil muda"

Marcel, yang sudah duduk di meja makan, hanya melirik ke arah adiknya dengan heran "Excited banget kayanya nih bocah." Lantas wajahnya terlihat acuh namun terlihat melirik sekilas ke arah Indah

"Indah, lo gak harus repot-repot. ART di sini juga udah biasa masak," kata Marcel akhirnya, suaranya datar tapi tak terdengar dingin.

Indah hanya tersenyum sambil menuangkan sup ke dalam mangkuk besar. "Gapapa, kak. Gue juga cuma bantu, gak ngelakuin semuanya sendiri ."

Marsya melirik kakaknya, lalu menatap Indah lagi. "Tapi gue tetap ngerasa gak enak. Lo istirahat aja abis ini, ya?"

"Iya, sya. Tenang aja," jawab Indah lembut.

Marsya dan Marcel akhirnya duduk di meja makan. Meski Marcel terlihat acuh, Marsya tahu bahwa kakaknya sedang mengamati Indah dengan seksama, seperti menilai seseorang.

Saat Indah membawa sup ke meja makan, Marcel melirik sekilas. "Lo masak ini sendiri?" tanyanya.

"Dibantu sama Mbak di dapur, kak," jawab Indah sambil duduk di kursi kosong.

Marcel mengangguk pelan, lalu mengambil sendok dan mencicipi sup itu. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi Marsya bisa melihat sudut bibir kakaknya sedikit melengkung, seolah mengakui bahwa sup itu enak.

Marsya tersenyum kecil melihat itu, lalu memulai sarapannya sambil sesekali mengobrol dengan Indah. Meski suasana pagi itu terasa sedikit canggung, ada kehangatan baru yang mulai muncul di rumah itu, Marsya memang cepat akrab dengan orang, namun Marcell butuh waktu nampaknya untuk menerima orang baru. Meskipun memang tak bisa di pungkiri bahwa sudut mata Marcell nampak terus memperhatikan gadis malang itu.

Setelah sarapan selesai, Marcel bangkit dari kursinya, membawa piring kotor ke wastafel. Meski biasanya ia menyerahkan urusan ini pada ART, pagi itu ia melakukannya sendiri. Marsya menatap kakaknya dengan heran, tetapi tidak berkomentar. Marcel tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, namun sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah Indah.

"Lo istirahat aja kalau capek. Jangan terlalu maksa diri," ujarnya datar, kemudian berjalan ke pintu depan tanpa menunggu jawaban.

Marsya memiringkan kepalanya, mencoba membaca perubahan sikap kakaknya. Namun, ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. "Ndah, gue sama Marcel cabut dulu, ya. Lo di sini aja. Kalau butuh apa-apa, bilang aja sama Mbak Rina atau Mbak Siti. Mereka bisa bantuin lo," katanya sambil berdiri dari kursinya.

MARSHEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang