Marshed| 25

42 2 0
                                        

Bagian Duapuluh lima

Suasana dalam mobil terasa sunyi setelah pertarungan di parkiran. Hanya deru mesin dan suara jalanan yang terdengar samar. Marsya duduk di kursi depan, sesekali melirik ke arah Indah yang duduk di belakang dengan tatapan kosong, memandangi jalanan yang bergerak cepat.

Biru, yang fokus menyetir, melirik Marsya sesekali melalui sudut matanya. Wajah kekasihnya terlihat penuh dengan pertanyaan, tapi dia tahu Marsya sedang menahan diri, sesuatu yang jarang sekali terjadi.

"Ndah," Marsya akhirnya membuka suara, nada suaranya lembut, penuh kehati-hatian. "Gue boleh nanya gak? Kalo gak boleh, gapapa. Gue ngerti kok situasi dan kondisinya."

Indah mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Marsya sejenak. "Gapapa kok, tanya aja."

Biru tetap diam, tapi telinganya terpasang tajam, siap mendengar percakapan mereka.

Marsya menggigit bibirnya, berpikir sejenak sebelum mengutarakan apa yang ingin ia tanyakan. "Ndah, tadi tuh... apa? Banyak banget hal yang gue pengen bahas, tapi satu hal ini ganggu banget di kepala gue. Lo beneran hamil?"

Biru, yang mendengar pertanyaan itu, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ekspresinya berubah seketika, meski dia berusaha untuk tetap fokus pada jalan.

Indah terdiam sejenak, tangannya perlahan mengelus perutnya yang sudah sedikit terlihat membesar. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keheningan panjang, dia tersenyum kecil. "Gue beneran hamil. Dan anak ini... dia satu-satunya alasan gue bertahan hidup sekarang."

Marsya menatap Indah dengan penuh rasa ingin tahu. "Kok bisa hamil?" tanyanya spontan, tanpa menyadari betapa blak-blakannya pertanyaan itu.

Biru langsung menghela napas panjang, tangannya mengetuk-ngetuk kemudi dengan pelan. "Sya," ujarnya lembut, meski ada nada mengingatkan dalam suaranya. "Yang lain aja nanyanya."

Marsya langsung menyadari kekeliruannya dan menoleh ke Biru dengan wajah bersalah. "Oh, iya, maaf. Gue gak maksud—"

Indah, yang terlihat lebih tenang sekarang, malah tersenyum kecil, merasa sedikit terhibur oleh kelakuan Marsya. "Gue ngerti kok."

Marsya menghela napas lega, lalu mencoba mengganti topik. "Gimana lo bisa kenal Tristan, Ndah? Maksud gue... kenapa lo bisa berakhir pacaran sama dia? Dia tuh... psikopat, lo tahu kan?"

Pertanyaan itu membuat Indah kembali terdiam. Raut wajahnya berubah serius, matanya terlihat menimbang-nimbang apakah ia ingin menjawab.

"Gue belum bisa cerita sejauh itu, Sya," ujarnya akhirnya. "Lo ngerti kan? Kita baru ngobrol hari ini. Gue gak... ya, gue gak siap."

Marsya langsung mengangkat lima jarinya ke depan wajah Indah, seolah menyerah. "Oke, oke, gue paham. Gue gak akan paksa lo."

Biru, yang memperhatikan dari spion tengah, tersenyum kecil melihat Marsya. Ada sesuatu yang selalu menggemaskan dari caranya bersikap spontan dan jujur, meskipun terkadang terkesan kurang peka.

"Ndah," kata Biru tiba-tiba, suaranya datar tapi penuh perhatian. "Lo sekarang aman. Marsya, gue, dan yang lainnya akan protect lo sebisa kita""

Indah mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Makasih, X. Marsya. Kalian berdua..." suaranya bergetar, "Gue gatau apa yang bakal terjadi sama gue kalo tadi Marsya ga ada"

Marsya menoleh ke belakang, tersenyum lebar meski ada sedikit air mata di matanya juga. "It's okay Indah, ini juga masuk list cita cita gue jadi superhero buat orang orang sekeliling gue"

Mobil melaju di jalan malam yang tenang, membawa mereka menjauh dari trauma yang baru saja terjadi. Tapi di kepala Biru, satu pikiran terus berputar.

Tristan.

MARSHEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang