8

232 16 0
                                    

Jalanan tampak lenggang udara pun masih sejuk karena sisa hujan semalam. Syifa yang masih fokus pada buku paket di pangkuannya sesekali menikmati terpaan angin dari kaca mobil yang ia biarkan terbuka sedangkan Juna yang berada di kursi kemudi fokus menyetir.

Bunda sedang kerepotan dirumah karna akan mengadakan syukuran sekaligus ngundang tetangga baru biar lebih akrab jadi Juna menawarkan diri untuk mengantar Syifa ke sekolah sebelum ke kantor. Mobil berhenti tepat di depan gerbang, Syifa pamit pada Juna.

Syifa menyapa Mang Jono di pos satpam karna jam masuk juga masih lama

Belum lama syifa ketawa-ketawa sama mang jono ada bapak-bapak yang jatuh dari sepedanya di dekat gerbang sekolah.

"Saya saja yang samperin pak, bapak nugas aja nanti bapak dikira makan gaji buta lagi" syifa tersenyum ke arah Mang Jono

"Iya neng"

Syifa menghampiri kemudian membantu bapak itu duduk di pinggir trotoar, "Bapak nggak apa-apa? Ada yang luka pak?" Tanya Syifa khawatir

"bapak baik-baik aja, terima kasih sudah menolong bapak"

Syifa mengeluarkan botol air yang selalu ia bawa dari tasnya kemudian menyerahkan botol itu ke bapak yang duduk didepannya, "Bapak minum dulu, sudah sarapan pak?"

"Belum neng dari kemarin tidak dapat uang jadi tidak makan neng"

"Bapak tunggu disini saya mau masuk dulu, sebentar saja yah pak"

Bapak itu hanya mengangguk sedangkan  Syifa masuk ke sekolah dan berlari ke arah kantin, untung saja sudah buka ia memesan nasi dan lauk serta air botolan.

"Terimah kasih bu" Syifa membayar makanannya lalu berjalan ke luar gerbang dengan tergesa-gesa.

"Ini Pak makan dulu" Syifa menyerahkan bungkusan makanannya

"Terimah kasih neng"

"Sama-sama pak"

Bapak itu makan dengan lahap, sepertinya ia sangat kelaparan sampai jatuh dari sepeda karena lututnya bergetar menahan lapar.

Syifa yang memperhatikan bapak yang ada di depannya ini makan dengan lahap langsung mengingat ayahnya. Syifa buru-buru menepis pikiran itu

"Nama bapak siapa? Bapak tinggal di daerah sini?"

"Hartono neng, bapak tinggal di pinggiran kota neng jauh dari sini"

"Ohh begitu, bapak kerja disekitar sini?"

"Bapak mau pulang ke rumah neng terus kebetulan lewat jalan ini, neng tidak masuk nanti di hukum sama gurunya?"

"Nanti aja pak"

Tampak dari penglihatan syifa gerbang sekolahnya sudah tutup dan itu berarti ia sudah terlambat.

"Terima kasih banyak yah neng , semoga tuhan selalu melindungi neng bapak pamit yah" ujarnya setelah menghabiskan makanan dan minuman yang di berikan oleh Syifa

"Terimah kasih doanya pak" Syifa membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar uang di dompetnya untuk ia serahkan ke Pak Hartono. "Diterima yah pak, jangan di lihat nilainya saya ngasih bukan karna kasihan sama bapak tapi saya benar-benar ingin berbagi sama bapak"

"Terimah kasih banyak neng" Pak Hartono tersenyum dengan mata berkaca-kaca menerima uang yang diberikan Syifa kemudian Syifa mencium tangan Pak Hartono sebelum pak Hartono naik ke sepedanya.

"Hati-hati pak"

Pak hartono pergi mengayuh sepedanya dengan senyuman yang sangat merekah di wajahnya tuanya.

SYIFA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang