Danu Amarta

322 21 1
                                    


Pencarian yang belum menemukan hasil, namun Panji sangat berharap pada esok hari akan menemukan hasil.

Mencoba memejamkan mata, tapi seperti biasanya, dia rasanya sulit untuk tidur.

Cahaya pelita dari kedai kedai pinggiran pelabuhan, menggoda hatinya untuk pergi kesana.

Saat kakinya sudah dekat dengan kedai kedai itu, jelas terdengar tawa tawa pria dengan kendi ditangan.

Mereka menghabiskan malam dengan bermabuk mabukan dengan suara tawa dan bicara yang tidak tentu arah.

Ada sebuah kedai yang tidak begitu terang pencahayaan apinya, tapi Panji melihat seseorang yang membuat mendidih darahnya.

Melihat wajah yang ada dalam kedai tersebut, kedua jari jemari Panji langsung terkepal erat.

" Danu....., keluar kau "

Suara riuh yang semula terdengar keras di kedai itu tiba tiba langsung hilang.

Walau terkejut melihat kedatangan Panji, sikap tenang ditunjukkan oleh Danu amarta.

" kau kesini, untuk bergabung denganku, atau menangkapmu ? "

" aku akan menangkapmu, hidup atau mati "

Danu amarta kembali masuk kedalam kedai, sebuah kotak kayu dia bawah kehadapan Panji.

" aku beberbaik hati kepadamu, ikut denganku, maka aku beri kau sedikit bagian "

Danu amarta membuka kotak tersebut, terlihat jelas berisi uang gobog penuh satu kotak.

" bagaimana Panji ? "

" aku tidak tertarik "

Satu kali jawaban dari Panji sudah cukup bagi Danu amarta, dan dia tidak akan memaksanya kembali.

Tidak ada kata lagi yang Danu amarta ucapkan, dia putar tubuhnya dan masuk kembali kedalam.

Dengan tenang Danu amarta kembali duduk diantara teman temannya.

Seolah sudah mengerti apa yang Danu amarta inginkan, beberapa orang yang bersama Danu amarta bangkit dan berjalan keluar.

Dalam keremangan malam, terlihat jika mereka mulai mengeluarkan keris.

" ada dimana Aryo suto ? "

Belum sempat Panji mendapatkan jawaban, salah satu dari mereka langsung menghunus kerisnya menyerang Panji.

Tangan Panji bergerak cepat menangkis tusukan keris tersebut, dan sebuah pukulan sekuat tenaga dia lepaskan.

Telak mendarat diwajah lawanya, dia langsung tersungkur dengan mengerang kesakitan.

Satu orang roboh dipukul Panji, sudah membuat duduk Danu Amarta tidak tenang, seolah tidak percaya, dia langsung berdiri untuk bisa melihat lebih jelas.

Mata Danu Amarta kian terbelalak, saat penyerang kedua nasibnya lebih tragis,
karena Panji berhasil merebut kerisnya, dan langsung menusuk orang tersebut.

Tiga orang maju bersamaan menyerang Panji, Danu amarta sangat yakin, jika ini akan menjadi akhir perlawanan Panji.

Namun yang terjadi sungguh diluar apa yang dia perkirakan, karena dengan mudahnya Panji menghabisi satu demi satu.

" aku akan menghabisimu Panji "

Danu amarta mengatur hembusan napasnya, tangannya bergerak seperti orang menari, dan saat semua tenaga dirasa sudah berkumpul di telapak tangannya.

" mati kau Panji...."

" tidak semudah itu Danu "






Ksatria Majapahit Panji Raka Jaya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang