Pukulan Naga

446 24 0
                                    


Pedang pedang itu sudah menyayat kulit Panji, darah sudah mengucur, dan rasa perih mulai dia rasakan.

Tidak ada yang diharapkan dalam keadaan seperti ini, selain cuma bertahan menghadapi mereka.

" aku tidak boleh kalah oleh mereka "

Kepanikan mulai melanda pikiran Panji, hal pertama yang diingat cuma gagalnya misi ini membawa surya Majapahit ke baginda prabu Wikrama Wardhana.

Panji memang pernah menimba ilmu Kanuragan bersama Danu amarta, namun dia belum sempat menguasai ajian ajian sakti, karena keburu menjadi prajurit.

Kini dalam keadaan tersudut, dan seolah olah nyawa berada diujung pedang lawannya.

Panji mencoba kembali mengingat setiap kata yang pernah gurunya sampaikan.

" baiklah.., semoga ini berhasil "

Dalam posisi menerima serangan, Panji mencoba mengatur irama napasnya.

Saat dia merasakan adanya kekuatan yang mengaliri tubuhnya, dengan cepat dia lepaskan kerisnya.

Melihat keris Panji jatuh ke tanah, para penyerangnya mengira Panji sudah menyerah.

" jangan bunuh dia "

Teriak Danu amarta pada para penyerang Panji.

Merasa ada kekuatan yang telah mengaliri tangannya, dengan mata terpejam, dan dibarengi teriakan lantang Panji, dia langsung mengarahkan tinjunya kedepan.

" mati kalian...."

Teriakan lantang Panji membuat suasana seketika langsung hening, tidak ada suara yang terdengar.

Panji merasa yakin, jika para pengeroyoknya sudah terpental kena pukulan naga darinya.

Dengan perlahan dia membuka matanya, sungguh tidak dia duga, ternyata mereka masih berdiri di tempatnya.

Saat itu juga, tawa mereka langsung terdengar kencang, Panji kian kebingungan, ternyata lawan tidak apa apa.

" sudah gila prajurit ini Danu "

" Panji sudahlah, hentikan lelucon ini, sekarang ikutlah denganku "

Panji merasa kebingungan, namun nalurinya sebagai prajurit, tetap ingin melawan, walau nyawa yang menjadi taruhan.

" jangan mimpi Danu "

" baiklah kalau begitu, kau tidak menguasai pukulan naga, dan kau ingin merasakannya ? "

Danu amarta mulai berkonsentrasi untuk mengatur irama napasnya, sejenak kemudian, kedua tangannya sudah terkepal erat.

" ini pukulan naga Panji, coba kau rasakan "

Panji cuma terperangah, dia sudah tidak bisa berbuat apa apa.

Melihat raut wajah Danu amarta terlihat jelas, jika dia sudah tidak main main lagi.

Seperti memukul begitu kuat, tangan kanan Danu amarta langsung disorongkan kedepan.

Cuma dalam hitungan jari, dada Panji merasakan sebuah hantaman yang begitu keras di dadanya.

Tubuhnya langsung terlempar kebelakang, dan langsung tercebur sungai Brantas.

Panji sudah tidak mengingat semuanya, tubuhnya hanyut terseret arus sungai.

" maafkan aku Panji "

Danu amarta langsung berbalik arah, ada kesedihan yang dia rasakan.

Dia yang mengajak Panji untuk mengabdi di Majapahit, dan ada ikatan keluarga diantara mereka.

Tentu rasa sedih selalu ada, saat kehilangan salah satunya, namun demi harta, saudara adalah nomor dua, pemikiran itu yang ada dibenak Danu amarta

Ksatria Majapahit Panji Raka Jaya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang