Panji cuma terdiam, tangannya masih menggenggam surya Majapahit, sementara pistol Jalak setro tepat mengarah di kepalanya." kamu tidak bisa menggunakan senjata itu Jalak setro "
" kau salah Panji, aku tidak sebodoh yang kau kira "
" apa kau tega melakukannya ? "
" untuk benda paling berharga yang ada di genggamanmu itu, saudaraku sendiri saja bisa aku bunuh "
" tapi seluruh Majapahit akan mencarimu "
" bagaimana mereka bisa mencariku ?, ketika kau sudah mati "
Situasi dirasa sudah tidak menguntungkan, Panji letakkan surya Majapahit itu dilantai kapal.
" tindakan yang bijaksana Panji "
Mundur beberapa langkah kebelakang, dan memikirkan sesuatu dalam sesaat, jadi jalan yang terbaik untuk Panji saat ini.
" kau tidak akan bisa menjual benda itu Jalak setro "
" aku lebih berpengalaman dalam menjual barang, jadi kamu tidak perlu meragukan keahlianku itu "
Menunggu saat yang tepat, dan berharap tidak dibunuh Jalak setro dalam waktu yang cepat, hanya itu yang bisa Panji pikirkan saat ini, sebelum menyerang Jalak setro.
Tangan kanan memegang pistol, sementara tangan kiri meraih benda yang tergeletak, tanpa melihat letaknya, karena pandangannya cuma tertuju kepada Panji.
" keuntungan apa yang kau peroleh, jika membunuhku Jalak setro ? "
" itu sama saja kau minta ampun kepadaku "
" seorang prajurit tidak pernah takut mati Jalak setro "
" pada dasarnya setiap manusia takut akan kematian, dan ucapanmu itu cuma omong kosong, tunggulah, kematianmu akan datang sebentar lagi "
Dengan todongan senjata Jalak setro, dengan langkah yang pelan, Panji melangkah keluar.
" akan kau apakan prajurit Majapahit ini Jalak setro ? "
" aku ingin berbagi rezeki dengan ikan ikan yang ada dilaut "
Tangan kanan menggenggam gagang pedang, tangan kiri mendorong tubuh Panji.
Ingin rasanya melawan, tapi moncong pistol Jalak setro masih mengikuti kemana arah tubuhnya bergerak.
Anak buah Jalak setro yang tinggal beberapa orang itu langsung menarik tubuh Panji.
Mereka menyeret Panji keujung kapal, sementara dengan pistol ditangan, Jalak setro cuma mengawasi.
" misiku belum selesai, aku harus melawan "
Dua langkah didepan orang yang mendorongnya, adalah situasi yang tepat Menurut Panji.
Sekilas Panji melirik, pedang mereka saat ini tidak dalam posisi siap, atau ujungnya menghadap kebawah, dan ini adalah kesempatan.
Melompat keatas, dengan melepaskan tendangan memutar, dan lawan yang ada dibelakangnya seketika itu juga langsung tersungkur.
Kemampuan silat Panji diatas mereka, walau dengan tangan kosong, empat orang itu dengan mudahnya dia lumpuhkan.
" dor.."
Menghindar, dan langsung menghilang dibalik dinding kapal, saat bunyi letusan itu terdengar.
" aku kira kau seorang bajak laut tangguh Jalak setro, ternyata pengecut "
" Jika aku membunuh seseorang, aku tidak ingin mengotori tanganku "
" ayo kita bertarung Jalak setro "
" buang buang tenaga "
Cuma suara mereka yang bersahutan, keduanya sama sama tidak melihat keberadaan masing masing.
Terus bersembunyi bukanlah ide yang baik, itu sama dengan menanti datangnya timah panas yang ditembakkan oleh Jalak setro.
Panji langsung memutuskan untuk memancing Jalak setro keluar, dan dia berharap ada sebuah kesempatan untuk menyerangnya.
Melemparkan benda benda kecil yang dia temui, langkah ini dia rasa tepat untuk memancing Jalak setro.
Tidak sia sia, beberapa lemparan Panji langsung dibalas oleh tembakan pistol Jalak setro.
Tidak terdengar lagi suara tembakan, Panji memutuskan keluar, dan ternyata Jalak setro kebingungan dengan senjatanya tersebut.
" kau sudah tidak bisa lagi mempergunakannya Jalak setro "
" dengan pedangku kau mati Panji "
Ini yang Panji harapkan, bertarung langsung dengan Jalak setro.
Pedang Jalak setro bergerak dengan cepat, Panji berusaha untuk menghindarinya.
" aku harus melepaskan pukulan naga "
Terdesak akan serangan bertubi-tubi Jalak setro, Panji mulai mengatur aliran tenaganya.
" mampus kau Jalak setro.."
Panji merasakan betapa kuatnya tenaga yang dia keluarkan untuk pukulan jarak jauh tersebut.
tapi apa yang dia lihat, sungguh membuat dirinya tidak percaya." cuma ini kemampuanmu Panji ? "
Hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi itulah kenyataannya.
Pukulan naga itu telak mengenai Jalak setro, namun tubuhnya cuma terdorong sedikit kebelakang, dan tidak terjadi apa-apa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ksatria Majapahit Panji Raka Jaya
Historical FictionPanji raka jaya,seorang prajurit majapahit yang begitu setia mengabdi dan mendharma baktikan hidupnya untuk majapahit.tanpa melihat majapahit yang sedang dilanda kemerosotan dan menuju kehancuran. baginya majapahit tetaplah kerajaan besar,dan tidak...