Setelah perjalanan singkat paliiiing awkward dalam hidupku, aku dan Ken sampai ke flat-nya Sam. Sepanjang 30 menit tanpa bicara, tanpa suara. Semua dengan pikiran masing-masing: bahkan buka handphone pun lupa.
Sampai di apartemen Sam, ia membuka kunci, menyuruh kami masuk, dan langsung ke dapur sambil membuka kemeja. Tanpa sadar aku menatapnya, hanya mengenakan kaos dalaman hitam yang ketat dan menempel di tubuh langsingnya. Sam bukan tipikal cowok bulky tinggi besar yang mirip superhero macam Ken. Ia kurus tapi in-shape. Dan aku kangen banget peluk Sam, merasakan semua bagian badannya di pelukanku.
"Stop staring, you looked stupid." Siku Ken telak kena rusukku.
Aku menyipitkan mata sebel padanya.
"Kids, we're making a wonton soup, and salad, and some beef. You can watch or help." Sam berkata, mencuci tangannya.
Aku baru ingat dia jauh lebih tua dariku dan Ken.
Ken melepas ranselnya, ikut ganti baju dengan kaos di kamar mandi, lalu mengekor Sam ke dapur.
"Madda?" Sam mengajakku bergabung.
"I'll just sit here and enjoy the view," jawabku.
Sam tersenyum.
***
Weirdest dinner ever.
Bayangin. Ada sahabat sekaligus mantan pelaku friendzoning yang sudah ada dalam hidupku sejak aku ingat, dan seorang kekasih baru yang bikin aku melting setiap saat. Keduanya bareng-bareng, di dapur, masak, dan...somehow terlihat gembira.
Seiring memasak, sikap keduanya mencair satu sama lain. Gak sampai beberapa menit, mereka udah ngobrol dan bersikap seperti dua teman, mengabaikan aku yang duduk dan memandang.
Seumur hidup aku gak pernah mikirin threesome, but now...
Aku buru-buru menghapus pikiran ngaco dan memutuskan untuk menyiapkan meja.
"Let's eaaaat!" Ken berseru sambil membawa piring-piring ke meja kecil. Dia nge-hype abis. Aku gak tau itu gara-gara laper atau pengalaman baru masak untuk pertama kalinya. I mean, all he did, all his life, was indomie.
No offense. So did I.
"Menu kita hari ini: sup wonton, salad kale-brokoli, dan mongolian beef!" Ken mengumumkan, "I cook!"
"Yea rite...", aku memutar mata.
"Beneran, kok, dia yang masak." Sam menambahkan, datang bawa rice cooker.
"Oke, makan. Makan. Makaaan!" Ken mengambil piring dan mengisinya. Aku melirik Sam, yang entah gimana, tersenyum memandang Ken. Dan mendadak ia mengalihkan pandang padaku. Kami bertukar senyum lagi.
Selesai makan, ada kopi dan cake.
Selesai itu, aku mencuci piring sementara keduanya duduk di depan TV, ngobrol-ngobrol entah apa.
Sepanjang malam, aku memperhatikan Ken dan Sam...dari sisi yang jarang terlihat. Ken yang biasanya kalem, hari ini terlihat super excited. Sam yang biasanya ceria, hari ini cool banget. I realized why I'm so in love, with both of them. They're perfect in their own way. Dan suasananya, seperti tiga teman yang nyambung, bukan keruwetan seperti sore tadi.
"Aku mandi dulu sebentar, lalu aku antar kalian berdua pulang ya," Sam berkata saat aku selesai cuci piring dan bergabung duduk.
Ken menggeser posisinya lebih dekat saat aku duduk.
"So. Because I'm your best friend in the whole world, who's it gonna be? Him or me?" Ken bertanya serius.
"Because you're my best friend in the whole universe, you know who's it gonna be," jawabku.
Ken memandangku sesaat sebelum mengernyitkan wajahnya. "Damn!"
"Are you okay?"
Ken menganggukkan kepalanya. "He's a good person. And what I did... I was wrong. I'm so sorry," ia berkata sambil memandangku dalam-dalam.
"Me too," aku meraih tangan Ken dan meremasnya. "Juga soal Tyas..."
"Oh, dia telpon aku minta balikan."
Seriously?
"Trus?"
"Aku lagi mikir-mikir. You dumped me anyway, after the best dumpling in town made by me." Ken mengangkat bahu.
"Kasitau kalau udah selesai mikir. Jangan pas habis ambil keputusan ya."
Aku harus cerita tentang Tyas ke Ken, kalau dia berniat mengawini makhluk cantik satu itu. Tapi kalau gak...aku males juga buka-buka aib orang sih.
"Will do." Ken mengacak rambutku, "Can I hug you before your cool boyfriend finish showering?"
Aku tertawa kecil dan memeluk Ken.
***
Kami berkendara untuk kedua kalinya sama-sama, dengan suasana yang jauh berbeda. Entah gimana, kami lebih mirip tiga teman yang habis nongkrong bareng ketimbang tiga orang dengan hubungan complicated.
Sam mengantar Ken lebih dulu ke apartemennya.
"We're okay?" Ken bertanya saat kami berdiri di luar mobil Sam.
"We're always be okay, dude." Aku menjawab sambil menepuk lengannya.
"Kamu harus kasitau Sam perasaan kamu, ya. Dia laki-laki normal, bukan aku yang bisa baca pikiran kamu kayak cenayang," pesannya dengan suara pelan. Aku mengangguk.
"Thanks, Sammy. Text me, Somad."
Ken mengedipkan sebelah mata dan berlari ke dalam gedung apartemennya.
Aku masuk dan duduk di samping Sam.
"Kamu mau langsung pulang atau..."
"Aku mau bicara sama kamu." Walaupun aku nervous parah, tapi aku memang butuh bicara sama dia. Now or never.
"Aku...ada meeting di Sky Lounge," Sam mengeluarkan ponselnya, "Jam 21."
What? Meeting apaan jam 21 malam, di Sky Lounge pula. Ugh. Tempat yang bikin trauma banget itu.
Fixed banget. Sikapnya Sam yang nampak normal dan biasa ini membuatku yakin kalau dia kayaknya sudah 100% move on dariku.
Mungkin malah dia udah ada janji sama pacar barunya di Sky Lounge.
Tempat terkutuuuukkkkk!
"Oke, aku bisa pulang pakai ojek aja kok," jawabku dengan hati agak tercabik-cabik.
"Don't be silly, Madda. Aku antar. Atau kamu mau ikut?" ia menawarkan, "Aku cuma sebentar aja, nanti setelahnya kita bisa ngobrol..."
Hmm. Mungkin aku overthinking soal ketemu cewek lain. Kalau Sam mau ngajakin aku, gak mungkin lah dia ketemu gebetan.
"Bisa nyusul kok ngobrol-ngobrolnya besok-besok..."
"Aku besok-besok gak bisa," Sam melirikku dengan wajah tegang, "Aku besok pagi banget mau ke Singapore. Aku dapat tawaran dari AFC, dan...mungkin aku akan pindah ke sana."
WHAT? WHY? WHY?
"Kamu mau pergi?" Aku berusaha keras menahan air mata dan suaraku yang gemetar supaya gak keluar.
Sam mengangguk sambil tersenyum.
"Selamat ya," aku akhirnya berkata.
Padahal aku shock banget. Mungkin aku bisa jadi aktor. Seharian ini emosiku sudah macam rollercoaster sampai kepalaku pening, dan aku masih kalem.
"Kamu sudah gak pakai cincin kamu lagi?" Sam bertanya. Sejak Jumat penuh disaster itu, aku menyimpan cincin Sam di tempatnya, di secret compartment dalam ranselku.
"Aku bawa sih...", aku mengeluarkan kotak cincin dari ranselku. Memberikan...well, lebih tepatnya, mengembalikannya pada Sam.
Ia membuka kotak, memeriksa sesaat, lalu tanpa komentar lebih lanjut, memasukkannya ke dalam saku celana.
It's officially over.
Sejujurnya, aku berharap aku bisa minta maaf sama Sam, minta kesempatan untuk bisa bareng-bareng lagi, janjiin kalau Ken akan jadi lebih behave seperti barusan...dan, kasihtau Sam perasaanku.
I love you.
I'll choose you, undoubtly, over and over again.
I want you.
Hatiku meneriakkan kalimat-kalimat itu berulang-ulang. Sedihnya, Sam gak mendengar apapun.
Kami sama-sama terdiam sepanjang perjalanan ke Sky Lounge.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stuck
RomanceFriendzoned kelamaan oleh tetangga masa kecilnya, Ken, sejak mulai remaja sampai jadi pekerja, akhirnya Madda memutuskan untuk move on dan punya pacar betulan. Gebetan terbaru Madda, seperti yang banyak orang impikan: koki yang ganteng, baik, dan ro...
