Confessions and Consequences

14.9K 2.1K 154
                                        

"Ken..." aku menarik nafas dalam-dalam.
"Tunggu! Aku duluan!" Ken memotongku tanpa terduga.
"Hah? Jangan dulu!", sergahku buru-buru.

Ken gak mendengar, dia menarik tangannya dari genggamanku dan mencari-cari sesuatu dalam tasnya. Beberapa detik, dan ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Bentuknya hati.

Ia membukanya di hadapanku. Sebuah cincin berwarna perak dengan berlian. Aku kehilangan kata-kata dalam sedetik.

"Aku mau melamar Tyas. Menurut kamu, dia bakalan suka gak?"

WHAT THE FUCK?

Mendadak pandanganku terasa berkunang-kunang. Jantungku berdebar kencang, aku seolah merasakan semua darah mengalir... seluruh bagian tubuhku terasa panas. Lalu dingin. Lalu panas lagi.

"Kamu....bukannya kamu putus sama dia kemarin...?" Setengah mati aku mengeluarkan suara. Terbata-bata.

"Saat di Rusia tiba-tiba dia video call. Minta balikan. Dia kemarin putusin aku karena ngerasa aku kurang berkomitmen sama hubungan kita dan dia pengen nikah buru-buru. Saat itu aku kesepian banget, dan aku pikir...aku gak mau lagi buang-buang waktu untuk kenal orang baru. Dia cukup tau aku, aku juga cukup tau dia... Why not?"

Aku berusaha keras menahan air mata. Setiap kata yang Ken ucapkan terasa menusuk-nusuk hati. Aku kenal kamu banget, Ken! Aku gak cuma sekedar tau, aku hafal semua hal dalam hidupmu! Aku tau password emailmu, pattern password handphone-mu, kapan kamu harus bayar STNK mobil, ukuran sepatu kamu, ulangtahun ayah ibumu, aku bahkan punya fotokopian paspor kamu di dompetku!

"Kamu...kenapa, Mad? Kok kamu nangis? Are you okay?"
Mendengar suara Ken yang penuh perhatian, air mataku gak bisa dibendung lagi. Jatuh bercucuran. Aku mengambil tisu di meja dan menghapusnya sebisaku.

"Maddaaaaa...", Ken panik dan mengusap-usap bahuku, "Kamu kenapaa? Please don't tell me it's only happy tears!"

HAPPY TEARS???
Setelah merasa ditusuk-tusuk sampai tembus ke jiwa, kemarahan besar naik perlahan-lahan ke dadaku.

"It's not." Jawabku dingin.
"Madda..."
"Kenapa sih kamu gak pernah biarin aku ngomong sama kamu duluan! Kamu kan tau aku mau bilang sesuatu yang serius sama kamu!" Tanpa bisa ditahan, aku melempar tisu ke meja, membentak Ken yang makin kebingungan.
"Aku pikir ini penting juga buat kamu tau...Are you okay?"
"Engga! Aku apa-apa. Aku apa-apa banget!" Aku berhenti ngomong sejenak, buang ingus, lalu melanjutkan, "Aku gak mau kamu kawin sama Tyas. Aku gak mau kamu kawin sama Fira.."
"Finza.."
"..aku gak mau kamu kawin sama Nanda.."
"Syanda.."
"Ya intinya semua pacar-pacar kamu selama ini yang aku bahkan gak apalin namanya deh!"
"Aku tau kamu gak suka sama mereka sih tapi..."
"Aku gak suka sama mereka karena aku suka sama kamu!"

Wajah Ken tampak pucat pasi meski di bawah remang lampu. Kami sama-sama terdiam sesaat. Ia menatapku nanar. Aku pastilah sudah sangat berantakan saat ini. Sempat aja barusan aku lihat sisa maskara di gumpalan tisu di atas meja.

"Aku suka sama kamu sejak dulu, Ken. Bukan. Aku suka, aku naksir, jatuh cinta, sejak lamaaaa banget dan masih cinta sampai sekarang..." lanjutku. Tanggung. Udah gak ada kata-kata lain yang bisa diperhalus dan dipermanis saat ini.

"Tapi..."

"Tapi sudah cukup jelas buat aku kalau selama ini aku memang bertepuk sebelah tangan. Dah deh. Aku pulang aja..." aku menyambar tasku di atas meja dan berjalan pergi secepat kilat... Secepat yang bisa kulakukan dengan heels sih, lebih tepatnya.

At least the truth comes out.
Keluar dari lift, diiringi pandangan heran orang-orang yang berpapasan, aku kabur ke kamar mandi di lantai dasar yang (untungnya) kosong, lalu menjatuhkan diriku di pojokan dan menangis sejadi-jadinya.

**

"Mbak, mbak..."

Aku membuka mata. Dua orang asing menunduk di atasku. Setelah berkedip beberapa kali, aku baru sadar kalau keduanya wanita paruh baya berseragam khas cleaning service. Buru-buru aku bangkit. Kepalaku pening macam habis terbentur.

...aku lalu sadar masih di kamar mandi gedung tempat Sky Lounge. Kulirik jam tangan. Sudah hampir jam 1 malam. Kebiasaan buruk ngantuk habis nangis.

Dua cleaning service langsung sok-sok ngelap pintu kamar mandi sementara aku rapi-rapi baju dan melihat kaca...
ASTAGANAGA.

Aku kayak korban razia tramtib dengan maskara lumer kemana-mana, lipstik beleberan, rambut mencuat di sana sini. Sebisa-bisanya aku berusaha membersihkan riasanku yang hancur lebur dan cuci muka.

Lalu mendadak aku merasa kelu. Mengingat reaksi Ken barusan, sudah bisa dipastikan aku kehilangan sahabat sejak kecil, objek fantasi, partner-in-crime, dan...cinta sejati dalam hidupku. Aku kembali terisak-isak di depan cermin.

Salah satu cleaning service menepuk pundakku. "Sabar ya mbak..." ucapnya pelan. Dia gak tau apa yang aku alami, jelas banget cuma berasumsi kalau aku butuh kesabaran menghadapi hidup.

But you know what.

Aku udah cukup sabar sih selama ini. Aku gak mau sabar lagi. Aku gak mau nunggu gak jelas lagi. Aku mengangguk pada si ibu random di sampingku.

"Saya gak mau sabar-sabaran lagi. Makasih ya Bu."
Ia memandangku shock.

Lalu aku keluar kamar mandi sambil pesan Gojek.

StuckTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang