(7)

4.4K 385 30
                                        

Lian Point Of View

"Abang mau kamu ikut." Ulang gue sekali lagi belum melepaskan tangan Bia.

Gue nggak bisa melepaskan tangan Bia karena gue sadar, gue baru aja melakukan kesalahan beberapa saat yang lalu, Bia nggak protes tapi tatapannya sangat mengganggu, gue nggak tega.

"Bang! Nggak papa, ini juga bukan pertama kalinya Abang keluar berdua sama Kak Geakan?" Bia mencoba menurunkan tangan gue tapi masih belum gue lepas.

Bia masih bisa tersenyum tapi ini yang paling nggak gue suka, senyum yang dipaksakan, gue nggak bisa bohong dengan bilang nggak punya perasaan apapun untuk Gea, Bia tahu semuanya jadi berbohong nggak akan membantu apapun.

Tapi Bia juga penting, gue memang kenal Gea sejak umur 3 tahun tapi Bia tumbuh dalam pengawasan gue juga, gue hafal dengan sikapnya, mengalah dan diam adalah cara Bia menyelesaikan masalah.

Dari dulu gue selalu ngingetin Bia tentang hal ini, diam nggak selalu baik, masalahnya selesai tapi beban di hati Bia enggak akan kelar, malah numpuk dan berakhir sakit sendirian.

"Ian, orang sakit mah nggak usah lo paksa, sejak kapan lo jadi maksa-maksa adek gue begitu?" Gea tertawa lepas memperhatikan gue sama Bia sekarang.

"Dia memang adik lo tapi dia juga calon istri gue sekarang, lo gue bawa masa Bia gue tinggal, sakit lo." Gue juga memberikan jawaban sembari tertawa lepas menatap Gea.

Gea juga bukan anak-anak lagi, harusnya dia paham dan ngasih tahu gue dengan jelas perginya sama siapa aja, jangan malah bikin suasana jadi kacau begini.

"Kamu tunggu disini, Abang pulang, ambil mobil." Melepaskan tangan Bia perlahan, gue langsung keluar dan ganti kendaraan, apa gue udah bilang kalau rumah gue sama Gea cuma beda komplek? Nggak terlalu jauh, Gea udah sempat nawarin buat naik mobilnya aja tapi gue yakin situasinya makin nggak enak entar.

"Lo juga tunggu, berulah terus lo perasaan." Gue mengingatkan Gea, kenapa Gea bisa ngelakuin kesalahan sampai kaya gini? Adiknya udah siap begitu malah mau ditinggal.

________

"Ayo berangkat." Gea masuk duluan dan ngambil posisi di samping kemudi, membuat Bia terpaksa duduk di belakang, posisi kaya gini memang udah biasa tapi entah kenapa sekarang berasa salah, Bia yang harusnya di depan.

"Jalan Ian, ngapain bengong?" Gea nepuk pelan lengan gue, melirik Bia sekilas yang mulai menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan mata membuat gue ikut terdiam, udahlah.

"Lo sebenernya mau beli apaan? Jangan lama, gue sibuk, banyak kerjaan."

"Yaelah sok sibuk banget yang mau nikah padahal semuanya udah diatur orang tua, calonnya aja udah dicariin, nggak ada susahnya kan lo." Gea tertawa menatap gue seperti biasa.

"Mau diatur orang tua sekalipun, yang nikah tetap gua."

"Lagian mau dicariin orang tua sekalipun kalau bukan itu yang gue mau, lo pikir bakalan jadi?" Gue berharap Bia mendengarkan kalimat gue ini.

"Ya ya ya, nggak usah ngegas begitu juga bisa kali." Gea masih tertawa lepas, selama ini tawa Gea selalu yang paling ingin gue dengarkan tapi disituasi sekarang, gue malah nggak nyaman.

"Lo yang berisik, adik lo tidur noh, bisa diem nggak?" Gea terlihat cukup kaget dengan kalimat terakhir gue barusan tapi ini lebih baik, gue nggak mau mempersulit siapapun, Gea udah milih pilihannya dan gue memilih setuju menikah dengan Bia itu artinya gue udah setuju untuk membahagiakan.

Mendadak suasana hening, Gea sibuk dengan handphonenya dan gue yang sesekali memperhatikan Bia yang ternyata tertidur cukup pulas, kondisi Bia memang keliatan kurang baik tapi kalau gue setuju untuk ninggalin Bia, gue akan memperburuk keadaan.

"Lian awas!" Gue yang cukup kaget dengan panggilan Gea tanpa sadar langsung nahan bahu Gea untuk nggak nubruk ke depan namun sialnya, Bia yang memang menyandarkan kepalanya ke arah kaca mobil malah kepentok jendela cukup keras.

"Lo nggak papa?" Tanya gue lagi-lagi memastikan keadaan Gea lebih dulu, dalam hati gue udah mengutuk diri gue sendiri, ternyata memang sesulit itu, gue bisa mencoba bersikap baik dengan Bia tapi perasaan gue nggak bisa nipu.

"Dek! Kamu nggak papa?" Tanya Gea mulai ikut membatu mengusap kepala Bia yang terlihat meringis kesakitan.

"Heum nggak papa, aman." Jawab Bia memperlihat senyuman tapi nggak natap gue sama sekali.

"Lo bisa lebih hati-hati nggak? Lo ngeliat kemana mulu elah." Protes Gea mukul lengan gue sekali lagi.

"Gue merhatiin adik lo." Gumam gue nggak yakin.

Mencoba bersikap setenang mungkin, gue kembali melanjutkan perjalanan sampai kita bertiga udah di tempat yang Gea tuju, kita turun tapi belum sempat gue mengeluarkan suara, Bia langsung pamit mau ke toilet katanya.

"Mau Kakak temenin?" Tawar Gea yang di tolak Bia cepat, memperhatikan Bia pergi, gue mengusap kasar wajah gue sekarang dengan perasaan penuh sesal.

"Gue kenapa kaya gini gila?" Gue membatin.

"Lo kenapa? Kepala lo kut kepentok juga?" Tanya Gea memegang kening gue biasa.

"Bakalan lebih bagus kalau kaya gitu." Jawab gue mundur beberapa langkah menjauh.

"Ting." Gea mengeluarkan handphonenya dan nggak lama Gea ngasih tahu kalau kita disuruh masuk duluan, Bia bakalan nyusul katanya.

Belum gue jawab, Gea udah narik lengan gue duluan untuk jalan, karena pemikiran yang masih kacau, gue malah pasrah ditarik dan beneran ninggalin Bia sendirian, ini salah.

"Ge! Lo duluan deh, gue nungguin Bia dulu."

"Kalau lo nungguin Bia, terus gue sama siapa? Sendiri gitu? Gue minta lo ikut itu untuk nemenin, kalau ujung-ujungnya jalan sendiri, gunanya gue ngajak lo buat apaan?" Jawab Gea nggak mau melepaskan lengan gue sama sekali.

"Yaudah lo sebenernya mau nyari apaan? Jangan lama." Gea tersenyum ceria dan mulai masuk ke toko yang dia mau, lengan gue sekarang mungkin digandeng Gea tapi gue nggak bisa berhenti mikirin Bia.

Hampir 20 menit gue nemenin Gea tapi dia belum nemuin barang yang dia mau, kesabaran gue habis, gue harus nyariin Bia sekarang, udah selama itu masa Bia belum selesai juga di kamar mandi, katanya mau nyusul.

"Gue keluar dulu." Narik paksa tangan gue yang di gandeng Gea, gue keluar dan berjalan cepat menuju toilet yang tadi tapi belum sempat gue jalan jauh, gue mendapati Bia duduk sendirian dengan satu cup kopi ditangannya.

"Kenapa nggak langsung nyusulin?" Tanya gue duduk tepat dihadapan Bia, dengan raut wajah sedikit kaget, Bia menatap gue sekilas sebelum kembali menundukkan wajahnya.

"Kak Gea kalau belanja mana pernah cepet, selalu lama." Jawab Bia biasa dan kembali meneguk kopinya.

"Masih sakit?" Gue mencoba mengusap kepala Bia yang langsung di tepis, Bia beneran marah.

"Nggak papa, aman." Tiga kata yang cukup membuat gue mencelus.

"Maaf!" Gue yang salah.

"Aku yang kepentok kenapa Abang yang minta maaf? Abang nggak salah, nggak sengaja jugakan? Nggak usah minta maaf." Bia terlihat memaksakan senyuman, gue bisa gila dengan tatapan Bia sekarang.

"Abang minta maaf karena mengabaikan kamu." Ini kesalahan terbesar gue.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang