Pekara Bang Lian beneran cemburu atau enggak, gue nggak terlalu ambil pusing, kenapa? Ya karena gue udah mutusin untuk bertahan dengan mengutamakan kebahagiaan diri gue sendiri, walaupun akhirnya tetap sakit tapi setidaknya nggak terlalu.
Kaya sekarang aja, pekara gue nggak sengaja ngebahas soal ada temen laki-laki gue yang nanya apa bener gue udah nikah aja, bisa jadi pembahasan panjang, raut wajah Bang Lian langsung berubah padahal itu cuma pekara temen sekelas gue nanya dan udah gue jawab.
"Abang ini kenapa sebenernya?" Masalahnya dimana?
"Kenapa kamu nggak ngomong langsung sama Abang? Denger ya Bia, laki-laki nggak akan mau tahu kalau dia nggak tertarik." Begini jawabannya.
"Lah terus Abang mau aku gimana? Pas ada yang nanya aku udah nikah apa belum masa aku jawab, bentar ya aku tanya suami aku dulu? Kan itu lebih lucu lagi." Nggak harus sampai kaya gini dong, gue nggak sepenting itu dimata orang lain.
Menurut gue semua orang punya kehidupannya masing-masing, kadang walaupun kita ngerasa masalah hidup sendiri udah sangat menarik tapi kita juga harus ingat, nggak semua orang tertarik, nggak semua orang peduli, mereka punya masalah mereka sendiri dan waktu mereka udah habis untuk ngurusin masalah hidup masing-masing.
"Kamu liat nggak ekspresi dia waktu kamu bilang udah nikah?" Tanya Bang Lian lagi.
"Ya biasa aja, cuma ngasih selamat dan nanya kenapa nggak ngundang-ngundang, aku jelasin dan kelar." Nggak seribet itu, gue bahkan nggak terlalu peduli dengan raut wajah orang lain, muka Bang Lian aja udah cukup bikin gue pusing sekarang.
"Udahkan? Abang nggak perlu panik sampai sebegitunya, nggak semua orang tertarik sama hidup aku dan gue nggak tertarik untuk ngebahas hidup orang lain." Gue ngomong gini juga untuk ngingetin Bang Lian, sama hal nya gue nggak peduli suka orang lain ikut campur dalam hidup gue, gue juga nggak berniat ngurusin hidup orang lain, termasuk hidup Mas Azan.
"Abang kaya gini juga karena Abang khawatir sama kamu." Kenapa harus?
"Hah? Memangnya Abang harus khawatir kenapa? Aku nggak punya masalah apapun, aku juga nggak ngerasa bikin masalah, apanya yang bikin khawatir?" Andai gue bikin masalah nah baru tu Bang Lian boleh panik.
"Gimana Abang nggak khawatir kalau ada laki-laki lain yang mulai ngedeketin kamu?" Gue menatap Bang Lian nggak percaya sama jawabannya barusan.
Bang Lian yang udah terang-terangan masih punya rasa sama perempuan lain nah sekarang malah mikir kalau laki-laki lain yang mulai ngedeketin gua? Bang Lian lagi becanda? Gue tahu kalau Bang Lian rada gila tapi nggak separah ini juga.
"Siapa yang ngedeketin siapa sih Bang? Abang bisa berhenti nggak ngomong sama ngebhaas hal yang nggak penting kaya gini? Stop mikir aneh-aneh, yang harus Abang pikirin itu perasaan Abang sendiri." Yang bermasalah itu perasaan Bang Lian bukan perasaan laki-laki lain untuk gue.
Lagian ni, kalau memang Bang Lian ngomongnya belum cinta sama gue, terus yang bikin dia sepanik ini kalau memang beneran ada laki-laki yang suka sama gue itu kenapa? Masalahnya dimana? Kalau dia bisa mikirin perempuan lain, kenapa gue enggak?
"Jadi kamu nyalahin sikap Abang sekarang? Apa Azan sepenting itu untuk kamu? Sebelumnya kamu nggak pernah ngomong kaya gini." Kenapa malah ini yang jadi jawabannya? Bukan ini inti pembahasan gue.
"Allahu akbar, yang nyalahin Abang siapa? Yang ngebahas Mas Azan juga siapa?" Gue nggak nyalahin dan gue nggak nyebut nama Mas Azan sama sekali dari tadi, lagian gue ngebela Mas Azan dari segimananya?
"Okey, kalau memang kamu ngerasa sikap Abang berlebihan, Abang minta maaf, Abang yang salah, Abang yang nuntut terlalu banyak hal sama kamu padahal Abang sendiri masih kaya gini." Bang Lian memang memperlihatkan senyumannya tapi percaya kata gue, itu senyuman kagak ada rasa keikhlasan sama sekali.
"Abang ngambek sama aku? Beneran? Serius?" Wah, gue kehabisan kata.
Mengabaikan pertanyaan gue, Bang Lian bangkit dari meja makan dan berjalan cepat masuk ke kamarnya, gue ngapain? Ya gue susul, gue hafal sama sifatnya Bnag Lian, kalau nggak gue bujuk sesegera mungkin, merajuknya bakalan parah sampai gue nggak punya cara buat nenangin lagi nantinya.
"Abang!" Panggil gue langsung buka pintu kamar Bang Lian, nggak dijawab tapi gue tetap masuk dan duduk disamping Bang Lian yang udah berbaring di ranjangnya sekarang.
"Abang." Panggil gue lagi dan Bang Lian malah nutup wajahnya pakai lengan sekarang, wah beneran kaya anak kecil kalau udah ngambek begini, nyusahin gue aja ni orang tua.
"Harusnya yang ngambek sekarang itu aku loh." Gue megang lengannya Bang Lian.
"Coba Abang pikir deh, yang masih cinta sama perempuan lain siapa ayo? Abangkan? Kalau aku mah enggak, aku nggak lagi cinta sama siapapun, nggak ngejar siapapun jadi kenapa kesannya kaya aku yang salah sekarang?" Tanya gue tanpa sadar langsung nepuk pipi gue sendiri, kenapa gue nanya begini? Nambah masalah yang ada ini mah.
"Karena Abang tahu kamu lagi nggak cinta sama siapapun makanya Abang sepanik ini." Bang Lian menyingkirkan tangan gue perlahan dan bangkit duduk di atas ranjang, posisi kami berdua cukup dekat sekarang.
"Maksud Abang apa?" Gue nggak paham, harusnya Bang Lian bisa lebih tenang karena gue nggak tertarik sama siapapun, itu artinya hati gue bukan milik siapapun, kenapa jadi malah sebaliknya? Paniknya udah kaya istrinya mau di rebut sama orang lain.
"Karena nggak ada siapapun di dalam hati kamu sekarang jadi siapapun bisa masuk, bahkan yang sempat kamu keluarkan bisa jadi kembali datang karena nggak ada siapapun di dalam sana." Bang Lian menatap gue sembari tertawa miris.
"Beda sama Abang, Abang cuma harus mengeluarkan Gea dari dalam sana, sisanya cuma kamu, nggak akan ada orang lain." Kalimatnya terlalu manis tapi syukurnya gue nggak terlalu suka hal-hal manis jadi bisa gue terima tanpa menambah rasa apapun, aman.
"Abang tahu, sikap Abang sekarang ini terlihat egois, sikap Abang sekarang terdengar nggak adil untuk kamu tapi aku juga nggak tahu kenapa, memikirkan kalau ada laki-laki lain yang menginginkan kamu, itu nggak nyaman."
"Ini yang aku maksud, Abang terlalu banyak mikir makanya jadi kaya gini, lagian laki-laki mana yang menginginkan aku kaya maksud Abang barusan?" Lawaknya Bang Lian itu udah kejauhan.
Kenapa kita berdua nggak mikirin yang memang udah ada di depan mata aja? Yang belum kejadian ya jangan di terlalu dipikirin, apalagi kalau sampai berdebat terus kaya gini, hari besok itu masih rahasia jadi khawatir berlebihan juga nggak baguskan?
"Abang juga laki-laki dan Abang menginginkan kamu." Heh? Kenapa kalimatnya jadi horor begitu?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romansa"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
