"Nikah sama Bang Lian!"
"Sama Bia juga nggak masalahkan?"
"Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya.
Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
Seperti mau Bang Lian, kita berdua pindah dan seperti katanya juga, rumah yang sekarang cukup dekat dari kampus, deket banget malah kalau kata gue.
Terus gimana sama Bang Lian? Bakalan jauh banget pasti, ya memang, gue udah sempat ngingetin tapi katanya nggak papa, paling nggak gue nggak kewalahan.
"Kamu kuliah kan tinggal tiga semester lagi, bentar lagi mau skripsi jadi harusnya nggak masalah, kalau kamu mau Abang nggak kecapean, selesain kuliah kamu sesegera mungkin." Malah begini katanya.
Dan beginilah keadaan kita berdua sekarang, seminggu berlalu, nggak banyak yang berubah, cuma di rumah yang sekarang, gue punya kamar sendiri, Bang Lian juga punya kamar sendiri jadi gue bisa lebih nyaman.
Gue kuliah kaya biasa dan Bang Lian juga ke kantor kaya biasa, nggak banyak yang berubah, perubahan yang paling jelas dari kita berdua ya cuma status dan cincin pernikahan yang melingkar di jari kita berdua.
"Dek, Abang mungkin pulang agak telat hari jadi kamu nggak usah nunggu, langsung istirahat terus jangan lupa kunci pinti rumah." Gue mengangguk mengiakan.
"Abang hati-hati kalau gitu." Ini masih jam enam kurang tapi Bang Lian harus udah berangkat kalau nggak mau telat, gue sendiri udah mandi tapi belum ganti baju aja, masih kepagian.
"Kamu juga hati-hati nanti berangkatnya, kalau ada apa-apa, kabarin Abang." Lagi-lagi gue mengiakan dan berjalan cepat nyalim ke Bang Lian, ini adalah salah satu biasa baru gue yang terhitung baru berjalan beberapa hari terakhir.
"Abang." Panggil gue mengantarkan Bang Lian sampai pintu rumah.
"Kenapa?"
"Kalau nanti pulang kuliah, aku mampir ke toko buku sebentar terus mungkin mampir ke minimarket juga, boleh nggak?" Mumpung ingat yaudah minta izin sekalian aja.
"Boleh sayang, ada lagi?" Gue menggeleng pelan.
"Uang belanja sama uang jajan kamu masih cukup?" Gue mengangguk mengiakan, masih cukup banget malah.
"Yaudah kalau nggak ada lagi, Abang berangkat sekarang."
.
Seperti izin gue ke Bang Lian tadi, pulang kuliahnya, gue mampir ke toko buku lebih dulu, ada novel baru yang mau gue baca, semoga aja ada.
Gue berjalan pelan mulai nyari buku yang gue mau tapi sangking fokusnya, gue sampai nggak sadar kalau ada seorang laki-laki yang berdiri disamping gue cukup lama.
"Bia!" Panggilnya masih menatap gue tajam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Fokus banget sampai nggak ngeliat Mas disini." Sambungnya berbalik menatap gue dengan senyuman yang cukup sumringah.
"Mas Azan." Kaget gue balas menatap Mas Azan nggak percaya, gue beneran nggak nyangka kalau Mas Azan bakalan ada disini.
"Heumm, fokus banget sampai nggak sadar kalau Mas udah ngikutin kamu dari tadi." Melihat senyum Mas Azan, tanpa sadar gue juga ikut menyunggingkan senyuman.
"Maaf Mas, aku lagi nyari buku jadi nggak ngeh kalau Mas disini?" Gue beneran nggak sadar bukan pura-pura nggak liat.
"Kamu nyari buku atau nyari novel, Bia?" Mas Azan tertawa lepas masih dengan tatapan, yang udahlah, nggak bisa gue jelaskan, beneran.
"Novel sih Mas, hehe." Balas gue ikut tertawa kecil.
Kalau ada yang lupa, gue mau ngingetin ulang, kenalin ini Mas Azan, laki-laki yang gue kejar cintanya selama lima tahun lebih tapi gue memilih menyerah karena gue tahu, bukan gue yang Mas Azan mau.
"Mas sendiri ngapain? Sama siapa?" Gue mencoba bersikap sebiasa mungkin ya karena memang biasa, gue udah nggak punya perasaan apapun tapi gue masih sangat menganggumi sikap dan sifatnya Mas Azan.
"Mas juga nyari novel, sendirian aja, memangnya kamu berharap sama siapa?" Tanya Mas Azan balik.
"Sama teman atau bahkan sama istri Mas mungkin." Secara Mas Azan udah nikah jadi nggak anehkan kalau gue nanya begini? Harusnya sih enggak.
"Mas udah cerai, Bia." Dan mendadak obrolannya jadi suram, senyum kita berdua langsung hilang seketika, lebih tepatnya cuma senyum gue yang menghilang sepenuhnya, nggak dengan Mas Azan.
"Maaf Mas, aku nggak tahu." Liat aja muka kaget gue sekarang, siapa yang nyaka kalau Mas Azan udah cerai padahal nikah aja belum sampai dua tahun?
Gue masih ingat banget gimana cintanya Mas Azan sama istrinya, oh mantan istri maksud gue, tapi Mas Azan memang sesayang itu sampai gue yang ngejar dia selama lima tahun aja nggak di gubris sama sekali.
"Kamu harus minta maaf kenapa? Lagian itu juga bukan masalah lagi, Mas memang udah cerai dan kamu nggak tahu jadi nggak ada yang salah sama pertanyaan kamu tadi." Jelas Mas Azan tapi tetap aja gue nggak enak, kaya ngerasa lagi ngintrogasi orang aja padahal memang nggak sengaja dan nggak tahu.
"Udah nggak papa, by the way, kamu nyari novel apa? Ini bukan?" Mas Azan nunjukin satu novel di tangannya dan mata gue langsung berbinar lagi, bener ini novelnya, gimana Mas Azan bisa tahu.
"Mas nyari novel yang ini juga?" Mas Azan mengangguk pelan.
"Iya, Mas nyari novelnya dan tiba-tiba jadi inget kamu, tadi Mas pikir Mas yang salah liat makanya Mas deketin, ternyata beneran kamu, apa kabar Bi?" Mas Azan nvasih novelnya ke gue sambilan nanya kaya gini.
"Alhamdulillah baik kaya yang Mas liat sekarang, Mas sendiri? Baikkan?" Tanya gue balik.
"Alhamdulillah Mas juga baik, mau makan bareng? Mas udah lama nggak ngobrol sama kamu." Otak gue langsung nolak, gue izin sama Bang Lian cuma ke toko buku sebentar terus belanja, nggak izin untuk makan siang di luar, lebih-lebih sama Mas Azan.
"Duh maaf banget Mas, aku lagi buru-buru, izinnya memang cuma mau nyari novel sebentar." Tolak gue baik-baik, gue nggak bohong juga, gue jawab jujur.
"Oh iya nggak papa, lain kali mungkin." Heumm, mungkin nggak bakalan kejadian.
Setelah nolak ajakan makan Mas Azan, kita berdua jalan ke kasir untuk bayar dan lagi-lagi novel gue berubah jadi traktiran, gue udah mau ganti uangnya tapi tetap di tolak sama Mas Azan, nggak papa katanya, yaudah.
"Sekali lagi makasih untuk novelnya ya Mas, kalau gitu aku pamit sekarang." Gue masih harus mampir ke mini market.
"Heum, hati-hati." Gue mengiakan.
"Mas juga ha__"
"Boleh Mas minta nomer kamu?" Potong Mas Azan malah minta nomer, mau gue kasih buat apa? Tapi mau gue tolak juga gimana? Nggak mungkin gue bilang nggak punya handphonekan? Atau gue bilang nggak hafal nomer?
"Bi? Kenapa? Kamu nggak berencana bilang nggak bawa handphonekan? Itu handphonenya di tangan kamu." Heh? Dan pada akhirnya nomernya tetap gue kasih.
"Aku pamit ya Mas." Pamit gue sekali lagi.
"Iya, kamu hati-hati sama titip salam untuk Ayah sama Bunda di rumah ya." Gue mengangguk pelan.