"Nggak satupun orang di dekat kamu yang mikir kalau kamu nggak penting, nggak ada yang pernah mikir kalau kamu nggak berharga." Gue mamaksakan senyuman.
"Kamu juga penting untuk Abang." Sambung Bang Lian menegaskan ucapannya.
"Abang minta maaf kalau memang ada sikap atau ucapan Abang nyakitin kamu, Abang nggak bermaksud." Gue tahu.
"Tapi coba kamu pikir ulang, Abang laki-laki, Abang bisa aja cuma ngiain di depan Mama tapi nggak bener-bener dateng jeput sesuai permintaan kamu, tapi nyatanya apa? Abang ada di depan rumah begitu kamu keluarkan?" Apa iya?
"Laki-laki nggak akan bisa di paksa kalau memang bukan itu yang dia mau." Gue terdiam masih mencoba meyakinkan diri sendiri.
"Laki-laki yang dulu sempat sangat kamu kejar juga gitukan? Dia nggak berbalik arah karena bukan kamu yang dia mau, jadi berhenti mikir aneh-aneh." Omongan Bang Lian yang bikin gue mikir aneh.
"Abang nggak bisa bohong dengan bilang kalau abang cinta tapi kamu juga bukan orang lain, dari awal kamu penting dan akan selalu sepenting itu."
Gue menghela nafas dalam mencoba mengembalikan kesadaran gue, nggak ada gunanya gue berpikir negatif cuma karena omongan Bang Lian toh gue juga tahu perasaan Bang Lian gimana.
"Kamu penting Bia." Pada akhirnya gue mengiakan.
"Heummmm, maaf kalau aku nyusahin." Gue memaksakan senyuman tapi sorot mata gue nggak bisa bohong kayanya, ada sedikit kekecewaan walaupun gue nggak tahu, alasan gue harus ngerasa nggak berharga kenapa.
"Abang tahu dari dulu kalau kamu itu nyusahin tapi Abang yang milih untuk dibikin susah jadi nggak papa." Gue terdiam sembari mengusap mata gue cepat, luluh gue kayanya.
"Yaudah kalau gitu kamu beberes dulu setelahnya turun makan, minum obat kamu, Abang juga mau langsung pamit pulang." Gue mengangguk mengiakan.
"Abang udah makan belum?" Gue nahan lengan Bang Lian yang berencana bangkit.
"Nanti di rumah Abang makan jadi jangan ajak Abang makan disini, kamu tahukan kenapa?" Lagi-lagi gue mengangguk cepat, makan malamnya bakalan canggung kalau Bang Lian harus berhadapan sama Kak Gea disaat kaya gini.
Gue kembali terpaku untuk sesaat, apa gue sama Bang Lian harus terus menghindar di depan Kak Gea? Canggungnya mau sampai kapan?
"Bia, hei." Bang Lian nyentil kening gue pelan yang membuat fokus gue balik seketika.
"Kasih Abang waktu, kamu nggak harus mikirin apapun, paham? Ngerti?" Bang Lian nepuk pelan tangan gue yang memang masih memegang lengannya.
Membiarkan Bang Lian pulang, gue juga mulai beberes dan turun makan seperti ucapan Bang Lian tadi, gue juga harus jujurkan, gue memang nggak cinta untuk saat ini tapi kalau diperlakukan dengan baik, perempuan mana yang nggak akan luluh?
Gimanapun gue perempuan normal, lebih-lebih gue lagi nggak mikirin apalagi tertarik dengan laki-laki manapun, jadi kalau ada laki-laki yang ngasih perhatian dengan baik, ya nggak ada salahnya gue pertimbangkan?
Tapi itu Bang Lian? Dia cintanya sama Kakak gue, gue harus sadar kalau itu nggak akan mudah, mau sebaik apapun nggak akan menutupi kenyataan kalau memang bukan gue yang dia mau diawal.
Merancang rencana jatuh cinta sama Bang Lian sama aja kaya nyari masalah hidup di kisah percintaan gue sendiri.
This is galau time mah ini, lagi!
______
"Lian kemana, Dek? Nggak di ajak makan sekalian?" Tanya Kak Gea ke gue, ternyata Kak Gea tahu kalau Bang Lian ada di rumah tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romansa"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
