(21)

3.9K 317 13
                                        

Selesai belanja, gue langsung pulang dan sekarang udah berdiri di depan pintu rumah, gue lagi nyari kunci rumah yang nggak tahu kemana, hilangkah? Lah kalau hilang, gue masuk gimana?

Masih gue ngubek-ngubek isi tas, pintu rumah yang tiba-tiba di buka dari dalam sukses besar bikin gue kaget.

"Kamu nyari apa? Ini bukan?" Tanya Bang Lian yang ternyata udah di rumah.

"Ya Allah, Abang ngagetin tahu nggak?" Kesal gue menatap Bang Lian masih dengan nafas ngos-ngosan.

"Bukannya tadi Abang bilangnya bakalan pulang telat? Terus itu kenapa kunci rumah aku bisa sama Abang?" Dari gantungannya itu jelas punya gue.

"Kerjaannya beres cepet, ya Abang pulang cepet, kenapa kunci kamu bisa sama Abang? Itu kunci Abang pungut deket pagar rumah." Kenapa dia bisa disitu?

"Heh?" Serius di pungut dekat pagar rumah?

"Jatuh mungkin ya Bang?"

"Yaiya jatuh Bia, kan nggak mungkin sengaja kamu lempar disitu sayangku?"

"Hehe." Gue cengengesan.

"Yaudah masuk, belanjaannya biar Abang yang angkat." Mengangguk, gue masuk ke dalam dan langsung masuk ke kamar, gue ganti baju dulu sebelum beberes bahan belajaan gue tadi.

.

"Dek! Abang masuk ya." Tanya Bang Lian dari luar pintu kamar.

"Masuk aja, kenapa?" Tanya gue balik begitu Bang Lian masuk dan langsung duduk di salah satu sisi ranjang gue.

"Tadi jadi beli bukunya?"

"Jadi, memang kenapa?" Gue udah natap Bang Lian fokua sekarang, mendadak banget nanya kaya gitu, biasanya kalau gue udah izin ya nggak bakalan di tanya-tanya lagi.

"Sama siapa tadi perginya?" Bang Lian nanya lagi.

"Sendiri, kan udah bilang sama Abang tadi pagi, memang aku mau pergi sama siapa? Temen? Abang kan tahu kalau aku nggak punya temen deket." Gue mah jalan, kalau nggak sama orang rumah, sama Kak Gea, ya sama Bang Lian, memang mau sama siapa lagi?

"Abang mau nunjukin sesuatu tapi kamu jangan marah ya? Abang cuma tanya." Gue meletakkan handphone gue gue pegang dan ikut duduk di samping Bang Lian sekarang, mendadak suasannya jadi aneh soalnya.

"Abang mau nunjukin apa?" Gue menatap Bang Lian kebingungan.

"Gea ngirim foto ini ke Abang tadi, kamu ketemu sama Azan?" Bang Lian nunjukin foto gue sama Mas Azan yang lagi di perpus tadi, gue kaget, ini Kak Gea dapet dari mana? Pake acara ngirim ke Bang Lian pula.

"Iya, aku ketemu Mas Azan nggak sengaja tadi, cuma nyapa bentaran doang kok, memangnya kenapa?" Gue cuma nyapa biasa, nggak mungkin mau gue musuhin cuma karena cinta gue di tolakkan? Yang cinta sepihak itu gue, Mas Azan nolak juga baik-baik, gue aja yang keras kepala sampe ngejar terus dan sakit sendiri.

"Dan kamu nggak cerita hal sepenting ini sama Abang?" Sambung Bang Lian melemparkan asal handphonennya.

"Hal sepenting ini? Maksud Abang? Kenapa aku ketemu sama Mas Azan jadi hal penting?" Menurut gue nggak ada penting-pentingnya, ya sama aja kaya pas gue ketemu sama temen Bang Lian waktu itu.

"Diakan per_"

"Dia orang yang pernah aku cinta? Lah itukan dulu, udah selesai." Potong gue cepat begitu tahu maksud pembicaraan Bang Lian.

"Bang! Abang sebenernya kenapa? Abang cemburu?" Tanya gue blak-blakan juga, itupun gue nggak yakin kalau Bang Lian bakalan cemburu, dia nggak cinta sama gue jadi harus cemburu untuk apa?

"Kalau Abang bilang cemburu, apa kamu bakalan percaya?" Bang Lian bahkan tertawa miris sekarang.

"Hah? Abang beneran cemburu? Serius?" Kalaupun bener ya memang masih sulit gue percaya.

"Bia, Abang nggak ngelarang kamu kalau mau ketemu sama siapapun tapi bukan sama Azan." Tatapan Bang Lian berubah sangat serius sekarang.

"Kenapa? Abang pikir aku bakalan jatuh cinta lagi? Abang kenal akukan? Abang tahu aku gimana? Sekali aku bilang udah selesai, itu artinya beneran udah, nggak ada apapun lagi." Gue juga nggak kalah serius sekarang.

"Jadi Abang nggak perlu khawatir, kalau Abang pikir aku bakalan ninggalin Abang cuma untuk balik ke Mas Azan, itu nggak akan mungkin." Gue jamin, kalau memang suatu saat gue harus ninggalin Bang Lian, gue pastikan alasannya bukan karena Mas Azan.

"Balik ke Azan? Bukannya dia udah nikah?" Lah malah ini yang ditangkap, yang gue bahas intinya lain.

"Mas Azan udah cerai, aku juga baru tahu tadi." Jawab gue biasa, ya memang biasa, ekspresi orang yang ada aja rada luar biasa.

"Maksud dia ngasih tahu kamu kalau dia udah cerai apa?" Raut wajah Bang Lian beneran panik.

"Hei, Abang kenapa? Nggak perlu panik kaya gitu." Orang yang cerai malah dia yang panik.

"Abang serius Bia, maksud dia ngasih tahu kamu kalau dia udah cerai apa? Apa dia mau nerima perasaan kamu sekarang?" Muka Bang Lian udah nggak tertolong, tangannya bahkan udah mengganggam tangan gue erat.

"Abang lagi ngelawak, perasaan apa lagi yang mau di terima, aku udah nggak ada rasa jadi Abang bisa stop mikir aneh-aneh." Pikiran Bang Lian yang udah kemana-mana, kejauhan malah.

"Abang tetap nggak suka kamu ketemu Azan, setelah ini kapanpun kamu ketemu Azan, Abang harus tahu." Untuk sesaat, gue terdiam di tempat mendengarkan ucapan Bang Lian.

Kenapa sikap Bang Lian beneran kaya orang cemburu? Tapi itu nggak mungkin, Bang Lian cuma nggak mau sesuatu yang udah jadi miliknya di rebut oleh orang lain dan itu jelas bukan soal cinta, sadar Bia.

"Iya, aku kasih tahu." Gue narik pelan tangan gue yang di genggam Bang Lian sekarang.

"Tapi ngomongin tentang cerai, jodoh nggak ada yang tahu ya Bang, Mas Azan yang keliatan sebegitu cintanya aja, usia pernikahannya ternyata nggak bertahan lama." Gue memaksakan senyuman, kalau orang yang sebegitu cintanya aja bisa cerai, apa kata gue sama Bang Lian yang nikah tanpa cinta.

"Syarat pernikahan kan memang bukan harus cinta." Jawab Bang Lian singkat.

"Tapi setidaknya kalau saling cinta, semua nggak akan terasa berat." Keyakinan untuk bisa bertahan selamanya pasti juga lebih besar.

"Cinta di awal bukan penentu, akhir yang baik itu tergantung usaha, kalau masih ada rasa saling menghargai, saling menyayangi, cinta bisa hadir kapanpun, dari arah manapun." Tangan Bang Lian beralih mengusap kepala gue seperti biasa.

"Heumm, yaudah kalau gitu aku turun dulu ya, mau beberes belanjaan tadi." Pembicaraannya udah terlalu jauh menurut gue jadi lebih baik gue berhenti bahas.

"Mau kemana? Udah Abang beresin barusan, kamu mau kabur lagi?" Tangan yang tadinya mengusap kepala gue, sekarang beralih melingkar di pinggang gue, perlahan Bang Lian ikut menyandarkan kepalanya di bahu gue juga.

"Dek! Kamu kayanya gendutan." Reflek gue ngedeplak kepala Bang Lian pas ngomong begini.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang