"Bia Point Of View."
"Abang minta maaf karena mengabaikan kamu." Kalimat Bang Lian yang meruntuhkan pertahanan gue hari ini, gue pikir dengan diam bisa menghentikan air mata yang susah payah gue tahan dari tadi tapi ternyata gue salah.
Dengan kepala masih tertunduk, gue mengusap air mata gue cepat dan kembali memaksakan senyuman, harusnya itu bukan masalah, gue tahu perasaan Bang Lian jadi sikapnya tadi itu wajar, itu adalah perasaannya.
"Abang nggak salah, Abang cuma nggak bisa bohong dengan perasaan Abang sendiri." Gue mencoba mengerti, gue nggak mau berharap dan menuntut lebih.
"Abang salah, Abang_"
"Kalian berdua kenapa?" Tiba-tiba Kak Gea dateng dan langsung ambil posisi disamping Bang Lian, gue tersenyum menatap mereka berdua.
"Nggak papa, udah dapet barangnya belum?" Gue mengalihkan obrolan, nggak ada yang harus diperpanjang lagi.
"Udah, makasih ya udah di temenin." Gue mengangguk pelan dan Bang Lian terlihat cukup berpikir keras sekarang, dia mikirin apa sampai keliatan kebingungan begitu?
"Ian, lo belum pesen minumkan? Pesenin gue juga sekalian, samain aja." Kak Gea nepuk punggung tangan Bang Lian berkali-kali.
"Iya bentar gue pesenin." Bang Lian bangkit meninggalkan gue sama Kak Gea berdua, Kak Gea keliatan cukup puas dengan barang belanjaannya.
"Dek! Kamu nggak mau beli apapun?" Tanya Kak Gea buka obrolan.
"Ada, tapi bentar lagi." Dan ini rencana gue, dari pada ngeliatin mereka berdua, lebih baik gue jalan sendiri sambilan nunggu mereka selesai minum.
Sebenernya gue bukan nggak suka, gue juga bukan marah tapi rasa canggungnya sangat mengganggu, gue tahu sekarang Bang Lian calon suami gue tapi gue juga sadar perasaan Bang Lian untuk siapa, gue nggak bisa protes dan gue juga malas ribut.
"Oh, okey." Kak Gea kembali fokus dengan handphonenya dan nggak lama, Bang Lian balik dengan segelas kopi susu ditangan dan satu cup es krim, sejak kapan Kak Gea suka es krim?
"Punya lo, kopi susu kan?" Oh ternyata kopinya untuk Kak Gea, Bang Lian suka es krim? Kok gue baru tahu.
"Terus lo makan itu? Icip dong, gue juga mau." Begitu Kak Gea mau nyicip langsung di tarik sama Bang Lian.
"Sembarangan banget, ini punya Bia." Bang Lian ngasihin es krimnya untuk gue dan langsung duduk ngambil posisi tepat disamping gue juga.
"Terus lo minum apaan? Mau berdua sama gue? Mana cukup?" Protes Kak Gea tertawa kecil.
"Gue minum kopinya Bia, lo nggak inget adik lo sakit malah lo biarin minum kopi." Bang Lian langsung menuguk kopi gue.
"Heh, terus lo pikir es krim bagus untuk orang sakit?" Senyum Kak Gea mulai berkurang.
"Bang! Tapi itu kopinya bekas aku." Gue nggak enak, kenapa nggak pesen lain aja.
"Memang kenapa kalau bekas kamu?" Bukan cuma gue yang kebingungan tapi Kak Gea juga langsung terdiam dengan raut wajah yang entahlah, nggak ngerti lagi gue.
"Aku jalan sebentar ya, mau beli sesuatu." Nggak nunggu jawaban siapapun, gue langsung bangkit berjalan kemanapun, yang penting kabur dulu, suasana macam apa itu?
Berjalan sambil menyuap es krim di tangan gue yang mulai memeleh, gue kembali menghela nafas berkali-kali sekarang, ini yang gue takutkan, walaupun gue nggak cinta tapi tanpa sadar, gue berharap di perlakukan lebih baik kalau mengingat status gue sekarang apa.
Gue ingin di perlakukan lebih dari Kak Gea tapi gue nggak bisa ngomong kaya gitu, gue tahu perasaan Bang Lian dan omongan jujur gue cuma akan bikin Bang Lian merasa terbebani, gue nggak mau nambah masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romance"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
