(15)

3.8K 317 21
                                        

"Wow sekali jawabannya, wah." Suara Bang Lian terdengar sangat bahagia.

"Aku udah bilangkan, kalau udah aku genggam, nggak akan aku lepas." Mau sampai kapan gue harus nerima sindiran kaya gitu? Di diemin bukannya bagus malah makin menjadi.

"Nah kalau kaya gini kan Abang nggak usah nahan emosi, emosinya udah tersalurkan duluan." Ck, bisa-bisanya Bang Lian ngomong begini.

"Abang bukan nyuruh kamu berantem tapi jangan keseringan nahan diri, nggak semua orang paham niat baik kita, ada yang harus dikasih paham supaya tahu diri." Sambung Bang Lian mengacungkan jempol sedangkan gue udah geleng-geleng kepala.

"Kamarnya wangi kamu." Tiga kata dari Bang Lian yang bikin gue keselek angin dadakan.

"Ya karena ini kamar aku." Yang nanya nggak kira-kira banget, ini memang bukan pertama kalinya Bang Lian masuk ke kamar gue tapi komentarnya kali ini beneran nggak kira-kira.

"Bang, aku mau ta_"

"Dek! Kamu di dalam?" Panggilan Bunda yang bikin kalimat gue terhenti, gue menatap Bang Lian yang berjalan ngebukain pintu.

"Loh ada Lian juga." Bunda keliatan sedikit kaget tapi cuma sebentar, ya tadi gue memang langsung narik Bang Lian masuk ke kamar jadi belum sempat ketemu Ayah sama Bunda.

"Kenapa Nda?" Tanya Bang Lian yang ikut gue perhatian.

"Nggak papa, Bunda cuma nanya kalian mau makan siang apa? Bunda mau belanja soalnya."

"Apa aj__"

"Aku ikut, hehe." Potong gue cepat pakai semangat empat lima, walaupun gue belum terlalu pintar masak tapi salah satu hobby gue adalah ikut Bunda belanja, ini adalah kesempatan emas untuk jajan tanpa perlu mengingat tagihan.

"Kelakuan ya, Dek, nggak malu diliatin suami kaya gitu." Bunda nyubit pelan lengan gue.

"Kan yang nyuruh nikah muda juga Bunda jadi jangan salahin aku kalau masih malu-maluin." Gue tertawa kecil dan Bunda juga melakukan hal yang sama.

"Yaudah Lian anter aja." Bang Lian ikut menyunggingkan senyuman.

Setelah setuju, gue ngurungin niat buat beberes baju, gue lebih semangat mau ikut belanja sama Bunda, sebenernya kalau soal malu-maluin itu tergantung sama siapa sih, kalau sama Bang Lian mah mau jaga imej udah telat, orangnya udah tahu aslinya gimana.

"Kenapa senyam senyum begitu?" Tanya gue ke Bang Lian karena terus ngelirik gue waktu menuruni tangga beriringan.

"Bocah memang." Gumam Bang Lian tapi masih bisa gue denger.

"Abang!" Panggil gue kasal, kalaupun gue masih kaya anak kecil, nggak usah diperjelas juga.

"Apa sayang?" Ah jawaban macam apa itu?

"Hati-hati turunnya jangan kebanyakan hah heh." Bang Lian mengusap kepala gue sekali masih dengan senyum yang sama. Kita turun dan ternyata Bunda juga udah nunggu.

"Kalian mau kemana?" Tanya Kak Gea yang kebetulan lewat mau ke dapur.

"Mau belanja, kamu mau ikut Kak?" Tanya Bunda, awalnya gue pikir Kak Gea bakalan nolak ikut secara Kak Gea mana pernah mau diajak belanja sama Bunda, jangankan diajak belanja, diminta nganterin doang juga jarang maunya.

"Boleh." Heh? Boleh? Kak Gea beneran mau ikut? Nggak salah?

Gue sama Bang Lian sepakat saling tatap begitu Kak Gea setuju untuk ikut, bukan cuma gue yang hafal sama kelakuan Kak Gea tapi harusnya Bang Lian juga.

"Nggak papa." Bang Lian nepuk pelan bahu gue menangkan, menghela nafas dalam, gue berjalan lebih dulu masuk ke mobil Bang Lian, gue ambil posisi di depan, kali ini gue nggak akan ngalah.

"Yang ngerebut malah belagak jadi korban, dunia memang drama." Sindir Kak Gea yang membuat gue menghela nafas panjang.

"Kak!" Bunda memperingati karena tahu maksud ucapan Kak Gea barusan apa.

Bang Lian juga kembali menatap gue menenangkan, sorot matanya seakan ngingetin gue untuk lebih bersabar, ingat disini juga ada Bunda, nggak mungkin gue sama Kak Gea ribut disini.

Selama perjalanan, nggak ada yang ngomong banyak, paling cuma Bunda yang nanya sesekali tapi selebihnya, suasana balik hening dan menurut gue itu lebih baik, ketimbang ada suara tapi isinya sindirian nggak masuk akal semua.

Sampai di tempat, Bunda langsung mulai nyari keperluan dapur sama rumah sedangkan gue udah di wanti-wanti untuk jalan mencar berdua sama Bang Lian aja, kayanya Bunda paham kalau hubungan gue sama Kak Gea masih panas jadi nyuruh mencar kaya gitu.

"Yang sabar, banyakin doa, tahan emosi." Bang Lian mengusap lengan gue sambilan ngomong begini.

"Sabar sih sabar tapi Abang denger sendirikan omongannya tadi? Nggak enak di denger." Disindir terus-terusan juga nggak enak.

"Yaudah jangan dengerin." Solusi yang bukan solusi.

"Tapi aku punya telinga." Bang Lian malah nahan tawa mendengarkan keluhan gue sekarang.

"Ngeselin, omongannya masalah rebut merebut mulu, dikata Abang piala bergilir bisa di rebutin?" Gue kesal tapi Bang Lian malah keliatan seakan nahan senyum, bener-bener ya.

"Abang! Aku lagi serius." Protes gue karena ngerasa Bang Lian ngajak becanda terus.

"Ya Abang juga serius, dek. Kan udah Abang suruh sabar, tahan emosi, kamu mau Abang ngapain lagi? Berantem sama Gea? Kan memang lagi ribut." Bang Lian ngasih penjelasan tapi senyumnya belum hilang.

"Apaan serius? Abang ketawa sama senyam-senyum terus dari tadi." Nggak ada keliatan seriusnya sama sekali.

"Lucu aja ngeliatin kamu kaya gini, tapi disatu sisi Abang juga nggak mau terus memperkeruh keadaan, masa kamu kesal malah Abang komporin, Gea biarin aja, jangan diladenin, nanti orangnya juga capek sendiri."

"Kalau orangnya capek, kalau enggak?" Kemungkinan kaya gini ada, Kak Gea susah di tebak kalau emosinya lagi naik.

"Kalau enggak nanti kita pikirin lagi solusinya, lagian Abang nggak mau ngebahas Gea sekarang, hari pertama dengan status baru kita terlalu berharga buat di buang cuma untuk berdebat tentang Gea."

"Abang juga ngeselin." Kenapa harus nyebut nama Kak Gea terus? Ingin rasanya gue protes tapi kagak berani.

"Loh, kenapa jadi Abang yang ngeselin?"

"Nggak tahu." Uring-uringan lebih tepatnya gue sekarang.

"Udah jangan di pikirin, kita mau belanjakan? Ah salah, kamu yang mau jajan lebih tepatnya jadi ayo pilih, Abang yang traktir."

"Traktir-traktir, sebutannya itu nafkah sekarang, inget status Bang."

"Traktir sama nafkah beda, Dek. Kamu yakin mau bahas masalah nafkah sama Abang sekarang? Disini? Ditempat serame ini?" Bang Lian malah mengedipkan matanya natap gue.

"Heh? Apaan? Abang jangan mikir aneh-aneh ya." Tolong dikondisikan sikapnya Bang, baru hari pertama jangan terlalu banyak gebrakan.

"Abang atau kamu yang lagi mikir aneh-aneh sekarang?" Sejak kapan senyum Bang Lian jadi ngeselin begini?

"Ah nggak tahu, Abang juga sama ngeselinnya."

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang