Bia Point Of View !
"Kak, temen Kakak kenapa lagi?" Gue maju beberapa langkah mendekat ke sisi Kak Gea menantikan jawaban.
"Nggak usah kamu tanya, orang gila mah udah biasa begitu." Jawab Kak Gea santai, jawaban Kakak gue memang santai tapi gue yang ngeliat penampakan Bang Lian sekarang malah berasa ngeri.
"Kalau gila kenapa Kakak lepas disini? Bawa ke rumah sakit gih, tar menelan korban gimana?" Ucap gue sedikit keras, seketika Bang Lian berbalik menatap gue kesal.
"Kelakuan Adik Kakak sama aja." Tatapan Bang Lian kenapa gitu?
Gue yang bodo amat malah tertawa kecil dan berlalu pergi ninggalin Kak Gea sama Bang Lian gitu aja, capek kalau harus ikut nimbrung sama drama hidup mereka berdua.
Dari awal gue memang udah yakin kalau pertanyaan gue nggak akan di jawab serius dan jujur, ini juga bukan pertama kalinya gue ngeliat Bang Lian kaya orang kesurupan begitu, anaknya rada gila memang.
"Bia!" Masih gue melangkah menuju kamar, panggilan Kak Gea membuat gue kembali menoleh sesaat.
"Heumm?" Gue bergumam tapi masih fokus dengan handphone yang gue pegang sekarang.
"Kamu kalau di ajak ngomong nengok napa?" Protes Kak Gea.
"Apa Kakakku?" Ulang gue mengalihkan pandangan dan tersenyum memaksakan.
"Temenin Lian bentar, Kakak ada perlu diluar, temenin sama kasih makan sekalian." Hah? Gimana?
"Ogah banget, Bang Lian juga udah gede gitu ngapain dijaga? Takut di culik? Yaelah Kak, orang kalau mau nyulik juga kira-kira, yang modelan sahabat Kakak itu mana laku dijual." Kak Gea berjalan cepat dan satu jitakan mendarat di kepala gue.
"Sakit Kak." Keluh gue kesal, penindasan mulu perasaan.
"Mulut kamu ya, Dek! Kalau Lian denger gimana?"
"Lah itu orangnya memang denger." Gue menunjuk ke arah Bang Lian dengan dagu.
"Lo kalau mau keluar yaudah sana, tar gue kalau mau makan gampang, tinggal minta Bi Sari." Bang Lian ngomong sama Kak Gea tapi ikut mendaratkan satu jitakan di kening gue.
"Nah itu orangnya juga nggak ambil pusing, udahkan? Aku capek banget ini, mau tidur siang." Nggak usah di bikin ribet.
"Bener-bener ya ni anak, kita ini numpang di rumah Lian, kamu kaya nggak punya rasa terimakasihnya banget."
"Bang! Abang keberatankah kalau aku nginep disini?" Bang Lian menatap gue sembari tertawa kecil.
"See, orang yang punya rumah aja santai, lagian aku udah bilang dari awal mending kita di rumah aja, Ayah sama Bunda cuma pergi 2 harikan? Kalian aja yang ribet sendiri." Gue santai banget.
Dari awal gue udah nolak nginep di rumah keluarganya Bang Lian, gue sama Kak Gea bukan anak-anak lagi yang harus di kawal begitu, Ayah sama Bunda aja khawatirnya berlebihan, di tambah orang tua Bang Lian juga ikut mengiakan, jadinya ya begini.
Oh, sekedar informasi, orang tua gue sama Bang Lian itu sahabatan lama, udah kaya keluargalah, nginep disini juga bukan hal baru, cuma karena Kak Gea sama Bang Lian seumuran, mereka berdua jadi lebih dekat, gue kebagian ribetnya doang.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romansa"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
