(18)

3.9K 352 30
                                        

"Kalian nginep disinikan?" Tanya Bunda sembari menatap gue sama Bang Lian bergantian.

Dapat pertanyaan kaya gitu, gue langsung menatap Bang Lian sekilas, Bang Lian yang harusnya ngasih jawaban karena gue ikut gimanapun keputusan dia, senyamannya Bang Lian aja.

"Kayanya enggak Nda, Lian mau ngajak Bia pulang ke rumah Lian." Jawab Bang Lian yakin.

"Rumah kamu? Nggak kejauhan dari kampus Bia?" Bunda nanya lagi, kalau rumah orang tua Bang Lian masih cukup dekat dari rumah Ayah sama Bunda, beda lagi kalau rumah Bang Lian, rumah itu di beli ya supaya Bang Lian dekat kalau mau ke kantor.

"Untuk sementara aja Nda, Lian lagi cari yang lain juga soalnya." Heh? Bahasanya lagi cari rumah kaya lagi cari baju, enteng bener.

"Repot bener, ada rumah yang deket, malah nyari yang jauh, nambah kerjaan, ngabisin duit." Kak Gea menimpali.

"Kak." Satu kata dari Bunda yang bikin Kak Gea diam.

"Kalau memang kalian rasa itu lebih baik, ya nggak papa, belajar hidup mandiri juga bagus, biar Bia juga lebih leluasa." Gue tersenyum kecil untuk jawaban Bunda.

Ya gimanapun, Bunda pasti paham keadaan gue sama Bang Lian sekarang, belum lagi sikap Kak Gea yang terus nyindir, mau disabarin kalau orang yang nyindir nggak kira-kira juga susah.

.

Selesai makan, gue sama Bang Lian langsung pamit, awalnya gue pikir kita bakalan singgah ke rumah Papa sama Mama dulu tapi ternyata enggak, kita langsung pulang ke rumah Bang Lian.

"Masuk, kenapa malah berdiri disitu?" Bang Lian mengulurkan tangannya ke gue yang gue raih perlahan.

"Aku mau tidur dimana?" Tanya gue masih bengong ngelirik sekeliling, bukannya apa, kalau rumah orang tuanya Bang Lian gue udah hafal seluk beluknya, nah beda lagi sama rumah yang ini, gue jarang kemari karena memang jarak yang cukup jauh, hampir nggak pernah malah.

"Di lantai." Jawab Bang Lian singkat menatap gue datar.

"Heh?" Serius?

"Kamu pikir Abang serius? Kamu nanya juga aneh, kamu tidur ya di kasur, memangnya mau tidur dikamar mandi?" Kali ini senyum Bang Lian terlihat jelas.

"Aku serius, aku tidur dimana? Setahu aku kamar Abang disini ranjangnya kecilkan? Berdua mana muat?" Gue nanya karena memang kepikiran.

"Memang kenapa? Bisa tidur sambil pelukan, bisa_"

"Abang!" Potong gue menatap Bang Lian serius, gue nggak nyaman kalau harus sedekat itu.

"Kenapa? Kamu nggak nyaman sama Abang?" Kalau boleh jujur, iya, gue nggak nyaman karena gue tahu perasaan Bang Lian gimana.

Tidur seranjang sama Bang Lian aja udah aneh, gue juga butuh waktu, nggak gampang untuk bisa nyaman sama Bang Lian disaat gue tahu perasaannya, gue memang nerima kenyataan kalau dia suami gue sekarang tapi gue juga nggak lupa kalau gue bukan pilihan utamanya.

"Abang juga masih belum bisa lupakan?"

"Yaudah nggak papa, Abang bisa tidur di sofa, masuk dulu." Raut wajah Bang Lian kembali datar dan gue juga nggak berbuat banyak, sebelum mikirin Bang Lian, gue harusnya juga mikirin diri gue sendiri lebih dulu.

Mana yang baik dan nggak baik untuk gue, walaupun gue sama Bang Lian udah nikah, selama perasaan Bang Lian masih untuk Kak Gea, gue harus menyisakan sedikit ruang kecewa di hati, kemungkinan kalau pernikahan gue sama Bang Lian nggak akan bertahan lama itu ada.

"Dek! Abang cuma nyuruh kamu masuk, kenapa mata kamu malah berkaca-kaca?" Gue langsung mengalihkan pandangan mendengar pertanyaan Bang Lian, baru mikir kemungkinan pisah aja, perasaan gue udah campur aduk gini.

"Kelilipan Bang, masih ngantuk juga." Gue memaksakan senyuman dan melirik ke berbagai arah, kemanapun asal bukan natap Bang Lian.

"Kamu nggak bakat bohong." Bang Lian mengusap kepala gue sekilas dan beralih masuk ke kamar lebih dulu, gue mengikuti dengan langkah pelan, mencoba bersikap sebiasa mungkin tapi kayanya bakalan sulit.

"Sekarang ini kamar kamu juga jadi Abang harap kamu bisa mulai nyoba untuk lebih leluasa, nggak akan ada yang ngelarang kamu ngelakuin apapun yang kamu mau di rumah ini tapi Abang cuma minta tolong satu hal sama kamu, kalau kamu punya pemikiran yang cuma bikin kamu sakit sendirian, lebih baik ceritain sama Abang, apapun itu kita cari solusinya." Gue menatap Bang Lian lama setelah ucapannya barusan, tatapan tajam Bang Lian membuat gue ikut terdiam untuk sesaat.

"Heum." Gue mengiakan masih menatap Bang Lian lama.

"Kalau kamu paham, sekarang kasih tahu Abang, kamu mikirin apa sampai berkaca-kaca kaya tadi? Raut wajah kamu bikin semua jelas kalau itu bukan tangis bahagia." Ternyata gue salah mengiakan ucapan Bang Lian barusan.

"Bia, Abang tanya kamu." Ulang Bang Lian yang berjalan mendekat tapi disaat bersamaan gue juga melangkah mundur.

Gue nggak mau terbiasa dengan sikap manis Bang Lian, gue juga harus sayang sama diri gue sendiri, kalau suatu saat Bang Lian pergi kembali ke Kak Gea, yang ditinggalkan adalah gue, yang sakit itu gue.

"Sekarang kamu bahkan menghindar dari Abang, kalau kamu bersikap kaya gini karena kejsian tadi, Abang minta ma__"

"Bang! Aku nggak bakat bohong, itu bener jadi karena Abang tanya, aku juga bakalan jawab." Potong gue cepat.

Gue kembali mundur beberapa langkah, menatap Bang Liat lekat dengan mata yang kembali berkaca-kaca, gue sakit dan itu nyata, gue juga nggak pinter untuk nyembunyiin perasaan jadi Bang Lian harus tahu alasan dari sikap gue sekarang itu kenapa.

Seperti kata Bunda, apapun masalahnya, bicarakan.

"Tiga bulan berlalu, aku hampir lupa kalau aku ini cuma pilihan ke dua, untuk sesaat aku lupa kalau perasaan Abang masih untuk Kak Gea, aku lupa kalau di hati Abang, bukan aku satu-satunya, terdengar sakit tapi itu kenyataan yang aku lupa untuk sesaat."

"Sikap Abang hari ini berhasil bikin aku sadar, sikap Abang berhasil membuat aku mikir ulang, apa pernikahan kita ini bener? Menyesal udah nggak guna memang tapi bodohnya, aku juga nggak bisa lupa kalau kemungkinan pernikahan kita nggak bertahan lama itu ada."

"Gimana kalau pada akhirnya Abang tetap nggak bisa lupa? Gimana akhirnya kalau Abang kembali memilih Kak Gea? Gimana kalau Abang ninggalin aku disaat aku lagi sayang-sayangnya? Aku gimana? Aku bakalan gimana?" Air mata gue menetes.

"Jadi gimana bisa kau terima semua sikap manis Abang di saat aku tahu kemungkinan itu? Kemungkinan kalau aku yang akan di tinggalkan, kemungkinan kalau aku yang harus nanggung semua sakitnya sendiri?"

"Dan Abang tahu apa yang paling bikin aku ngerasa gila, setelah membayangkan itu semua dan kalau suatu saat bayangan aku ini jadi kenyataan, aku masih akan memilih melepaskan Abang untuk Kak Gea, karena aku tahu dari awal memang bukan aku yang Abang mau, bukan aku yang Abang cinta."

"Mengalah untuk membiarkan Abang sama Kak Gea bahagia dalam arti aku yang menderita, aku tahu tapi asalkan kalian berdua bisa berbahagia, aku masih mau melakukannya."

"Pemikiran aku sekacau itu, sekarang Abang kasih tahu aku, aku harus gimana?" Isak tangis gue semakin menjadi.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang