(24)

3.8K 328 36
                                        

Seminggu berlalu gitu aja setelah pembicaraam gue sama Bang Lian waktu itu, gue nggak tahu harus bilang apa, walaupun nggak bisa di bilang membaik tapi jujur aja ada sedikit kelegaan di hati gue sekarang.

"Abang, Abang tidur lagi? Memangnya nggak ke kantor?" Tanya gue begitu balik masuk ke kamar Bang Lian.

Gue udah sempat bangunin Bang Lian pas subuh tadi dan gue pikir orangnya udah siap-siap berangkat kerja juga tapi karena nggak kunjung turun ke bawah buat sarapan, gue samperin lagi ke kamarnya.

"Abang." Panggil gue sekali lagi karena nggak ada respon, gue melangkah mendekat dan mulai nepuk lengan Bang Lian pelan, orangnya masih belum ada pergerakan.

Awalnya gue berencana buat bangunin pake cara biasa, niup keningnya aja udah cukup ampuh tapi begitu gue liat wajah pucat Bang Lian sekarang, gue yang langsung panik.

"Abang sakit kenapa nggak bilang?" Gue meriksain keningnya dan bener aja badannya panas, Bang Lian demam.

"Abang nggak papa, cuma butuh istirahat." Gumam Bang Lian masih sempat-sempatnya mengusap wajah gue menenangkan.

"Nggak papa gimana muka udah pucat kaya gini? Ayo ke klinik." Gue nggak mungkin percaya sama kata-kata nggak papa Bang Lian.

Gue udah berusaha narik lengan Bang Lian untuk bangkit pelan tapi orangnya masih tetap nggak mau, dalihnya masih sama, ini cuma kecapean dan butuh istirahat doang.

"Susah banget dibilangin, aku bukan dokter, Abang juga bukan jadi Abang nggak usah ngasal ngasih doagnosa." Nggak usaha banyak alasan.

"Cuma demam, Dek, minum panadol juga mendingan."

"Heh? Panadol konon, nggak ada panadol di rumah." Masyarakat Indonesia sekali ternyata suami gue, apapun sakitnya, panadol obatnya.

"Kalau nggak ada tinggal beli, gojek juga bisa, apapun yang penting bukan klinik apalagi rumah sakit." Dan Bang Lian masih sempat-sempatnya berdebat sama gue.

"Abang mau aku jadi janda di tinggal mati?" Tanya gue kesal, mata Bang Lian langsung menatap gue kaget tapi ya gimana, orangnya di kasih tahu juga susah.

"Allahu akbar." Guman Bang Lian mengusap wajahnya pusing, walaupun kudu gue paksa, akhirnya Bang Lian setuju ke klinik.

.

"Gimana dok?" Tanya gue berdiri di samping Bang Lian yang duduk di hadapan dokternya sekarang.

"Masnya cuma kecapean sama kurang tidur juga, sekarang saya kasih resep terus  cukup." Denger penjelasan dokternya, gue bisa bernafas lega sekaligus ngerasa bersalah.

"Abang benerkan? Cuma kecapean." Bang Lian menatap gue dn tersenyum pelan.

Dokter awalnya nyaranin buat rawat inap aja tapi lagi-lagi Bang Lian nolak, istirahat di rumah lebih nyaman katanya, yaudah nggak berdebat banyak selebihnya gue langsung ngambil obatnya Bang Lian dan kita pulang.

"Bia, kamu marah?" Bang Lian nahan lengan gue.

"Memangnya kalau aku marah, Abang bakalan peduli? Kayanya enggak." Gue natap Bang Liaan datar, gue udah nggak punya tenaga untuk berdebat.

Lagian gue juga harus marah kenapa? Orangnya juga udah denger mau gue gimana dan pilihannya tetap nggak berubah, kalau Bang Lian udah milih, gue berdebatpun, nggak akan ngubah keputusannya, lebih-lebih dalam hal kaya gini.

"Abang beneran nggak papa, bukannya Abang nggak mau denger tapi Abang beneran nggak akan membaik kalau harus di rumah sakit, Abang nggak akan membaik, kamu juga nggak akan nyaman tidur disana." Tatapan gue yang awalnya datar langsung berubah kaget nggak percaya dengan apa yang gue denger barusan.

"Jadi Abang nggak mau rawat inap karena mikir aku yang nggak akan nyaman tidur disana? Wah." Gue beneran nggak percaya sama kelakuan Bang Lian.

"Abang bakalan lebih cepat sembuh kalau di rumah, kamu juga nyaman, udah cukup Abang yang sakit, kalau kamu ikutan tumbang dengan keadaan Abang kaya sekarang, Abang harus gimana?" Ah sudahlah.

Kadang-kadang gue heran sama Bang Lian, perasaannya itu sebenernya gimana? Nggak cinta tapi khawatirnya sampai kaya gini, mau berharap banyak terasa wajar tapi sikapnya ke Kak Gea juga bikin bingung.

"Abang sebegitu sayangnya sama aku?" Tanya gue menatap Bang Lian biasa karena jujur aja itu pertanyaan meluncur asal dari mulut gue.

"Suami mana yang nggak sayang istri, Bia?" Banyaklah Bang Lian punya sayang.

"Dikasih tahu malah ketawa, kamu sendiri gimana?" Bang Lian kembali meraih tangan gue dan narik lengan lengan gue untuk duduk di sampingnyaa.

"Gimana apanya?" Jangan kasih gue pertanyaan menjebak lagi.

"Kamu sebegitu khawatirnya sama Abang sampai panik kaya tadi, memang kamu sesayang itu?" Ck, pertanyaan yang harusnya Bang Lian udah tahu jawabannya gimana.

"Serius Abang tanya kaya gitu, Bia mah dari sebelum jadi suami aja udah sayang." Kalau gue nggak sayang, gue nggak akan peduli, sebelum jadi suami gue udah pedulikan? Sehatnya, sakitnya, sampe ke urusan hati aja gue dengerin.

"Hah? Gimana?" Hah Hah terus, kenapa malah Bang Lian yang ketularan hah heh gue?

"Hah? Apanya?" Apalagi?

"Udah sayang sebelum jadi suami, maksudnya?" Masih ditanya, memang Bang Lian beneran nggak tahu atau nggak paham?

"Kebanyakan maksud, ya sayang sama Abang, sebelum jadi suamikan aku anggap kaya Abang sendiri." Memangnya Bang Lian pikir gue punya maksud apalagi? Gue bukan Bang Lian yang seakan punya maksud lain terus.

"Kamu beneran nggak punya perasaan apapun untuk Abang?" Tatapan yang berubah serius juga sukses membuat gue ikut menatap Bang Lian serius, mau diperjelas? Oke.

"Abang berharap aku punya perasaan apa memangnya? Apa sayang aja nggak cukup?" Mengingat sikap Bang Lian yang kebingungan antara aku sama Kak Gea, bukannya perasaan sayang aku sekarang udah lebih dari cukup?

"Kamu tahu perasaan yang Abang maksud itu apa." Gue tahu tapi jangankan gue, Bang Lian aja ragu sama pertanyaannya sendiri.

"Apa? Cinta? Hidup aku sekarang terlalu melelahkan untuk mikirin cinta." Hidup dan drama pernikahan gue udah cukup melelahkan jadi gue masih setia dan bisa sesayang ini aja sama Bang Lian harusnya udah jadi pencapaian besar.

"Apa menikah sama Abang semelelahkan itu?" Ck, makin capek gue, beneran.

"Abang mau ngajak ribut?" Jangan kaya anak kecil yang terus mancinng perdebatan sama gue, perihal cinta itu udah pembahasan lama.

"Abang tanya." Bang Lian masih berusaha keras.

"Abang udah tahu jawabannya." Bukan pernikahannya yang melelahkan tapi sikap plin plan Bang Lian yang bikin gue bingung, perasaan bingung dan rasa di gantunglah yang bikin lelah.

"Abang nggak tahu." 

"Abang mau aku jawab apa sebenernya? Abang mau aku jujur tentang perasaan akukan? Aku cinta atau enggak?" Apa ini yang sangat ingin Bang Lian dengar, walaupun jawaban jujur gue mungkin nggak akan membahagiakan.

"Aku pernah bilangkan sama Abang kalau seandainya Abang berbalik arah sekarang, aku masih akan melepaskan Abang balik sama Kak Gea." Ini aja udah jelas jadi jawabannya.

"Bukan kalimat ini yang mau Abang denger dari mulut kamu." Mau gue perjelas lagi kayanya.

"Aku rasa, aku belum secinta itu sama Abang sampai mau berebut Abang sama Kakak aku sendiri." Kalau harus gue lepaskan, walaupun sakit, gue masih sanggup melakukannya.

Mungkin terdengar egois tapi ini perasaan gue untuk Bang Lian sekarang.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang