(26)

4K 369 87
                                        

"Besok kita pulang ke rumah kita." Gue menatap Bang Lian sekilas sebelum kembali fokus dengan lipatan baju gue sekarang.

"Kita tinggal disini aja nggak papa kok Bang, biar Abang lebih deket kerjanya." Jawaban yang udah beberapa hari ini gue pikirkan.

"Kan Abang udah bilang, jangan khawatir, sekarang ini kita fokusnya ke selesain kuliah kamu dulu." Gue tersenyum kecil dan berdiri membawa beberapa baju yang udah gue lipat rapi untuk di susun di dalam lemari.

"Terus yang bilang kalau tinggal disini kuliah aku jadi nggak fokus juga siapa Abang?" Nggak ada kan?

"Aku udah mikirin ini beberapa hari terakhir, berhubung aku juga nggak harus terlalu sering ke kampus, jadi aku rasa tinggal di rumah yang lebih dekat buat Abang kerja itu lebih baik." Gue seminggu 2 kali bimbingan juga bisa, nah Bang Lian malah liburnya cuma sabtu minggu.

"Abang juga nggak masalah, kalau kita tinggal di rumah kita, kampus kamu lebih deket, rumah Ayah sama Bunda juga deket, jadi kalau Abang harus lembur atau ada kerjaan mendadak, banyak yang bisa jagain kamu." Jelas Bang Lian yang gue dengarkan baik.

"Aku berani sendirian, lagian katanya mau belajar hidup mandiri berdua, yaudah ini waktu paling cocok." Kalau terus dekat sama keluarga, kapan gue sama Bang Lian bisa belajar buat ngurus rumah tangga kita sendiri?

"Yaudah senyamannya kamu aja, intinya Abang udah mikirin semua yang menurut Abang baik tapi kalau kamu yakin, yaudah nggak papa, kita coba." Nah gitukan enak, nggak usah debat panjang kali lebar dulu.

"Okey." Menutup lemari rapat, gue membaringkan tubuh asal di ranjang, menghembuskan nafas panjang dan mulai memejamkan mata perlahan.

Dua hari ini gue memang kurang tidur, selain karena Bang Lian lagi sakit, gue memang lagi penyesuaikan juga, hal-hal kecil kaya beberes rumah, cuci baju, cuci piring, ngelipat sama nyetrikan baju harus mulai gue kerjain sendiri.

Bang Lian udah sempat nawarin untuk cari Mbak buat bantuin kerjaan rumah tapi gue yang nolak, gue udah pernah cerita sama Bang Lian, salah satu keinginan gue setelah menikah adalah ngurus rumah sendiri, nggak perlu nyari orang gaji.

Setuju sama keinginan gue, Bang Lian bolehin tapi kalau memang nanti gue ngerasa capek, gue cukup ngasih tahu Bang Lian untuk nyari orang buat bantuin gue ngurus rumah, ya setidaknya untuk sekarang gue masih yakin bisa sendiri.

Masih berbaring dengan mata terpenjang, tiba-tiba ada yang ikut berbaring disamping gue dan memeluk gue dari belakang, walaupun kaget, gue nggak perlu membuka mata untuk tahu siapa pelakunya.

"Abang kenapa? Masih sakit?" Tanya gue ikut memegang tangan Bang Lian yang memeluk pinggang gue.

"Kalau sakit bisa bikin kamu seperhatian ini? Abang demamnya lebih lama juga nggak papa." Gumam Bang Lian yang membuat gue nepuk punggung tangannya pelan.

"Jadi maksud Abang, selama ini aku kurang perhatian, perhatiannya pas Abang sakit doang? Gitu?" Tanya gue balik dengan nada bicara sedikit becanda.

"Bukan Abang yang ngomong tapi kamu sendiri ya, Dek." Ck, gue tersenyum kecil.

"Abang mau aku masakin apa buat makan siang nanti?" Gue masih membiarkan Bang Lian memeluk gue kaya sekarang.

"Temenin Abang tidur dulu, soal makan, nanti aja." Gue mengangguk pelan dan hening.

.

"Bia, bangun dulu." Panggil Bang Lian mengusap bahu gue.

Masih dengan mata terpejam, gue sadar sama panggilan dan usapan Bang Lian cuma mata gue masih terlalu ngantuk untuk di ajak bangun dan bekerjasama.

"Bia." Panggil Bang Lian.

"Bentar lagi, masih ngantuk." Gumam gue mencoba mengumpullan kesadaran.

"Bangun dulu, Abang udah masak, nanti makanannya keburu dingin." Mata gue langsung terbuka seketika begitu denger kalimat Bang Lian.

"Heh? Abang udah masak? Kenapa nggak bangunin aku aja?" Tanya gue mengusap wajah perlahan.

"Memangnya kalau Abang yang masak kenapa? Kan sama aja." Gue menggeleng cepat, nggak sama, beda.

"Abangkan sakit, harusnya aku yang masak, kenapa nggak Abang bangunin aku aja?" Gue memang udah niat banget mau masak, coba aja gue ngak ngiain buat nemenin Bang Lian tidur.

"Abang udah sehat, kamu keliatan capek banget, suami mana yang tega ngebangunin istrinya pas lagi tidur senyenyak itu, sayang?" Bang Lian nyubit pipi gue lengkap dengan senyum sumringahnya.

"Heh?" Gue malah hah heh hoh pas denger, makin aneh.

"Kamu hah heh terus dari tadi." Bang Liat nanya tapi senyumnya masih terlihat jelas.

"Ya gimana enggak, udah sikap Abang aneh, terus panggilannya juga macem-macem sekarang." Gimana gue nggak bingung, perubahannya terlalu dadakan dan bagigue jatuhnya malah mencurigakan.

"Macem-macem gimana? Kamu istri Abangkan? Panggilan sayang juga nggak aneh, terus kenapa?" Bang Lian sadar nggak sih sama omongannya barusan?

"Aku jadi istri Abang bukan baru kemarin tapi kenapa panggilannya baru muncul sekarang?" Ini yang gue maksud.

"Abang lagi belajar untuk nebus kesalahan Abang ke kamu." Senyum yang awalnya terlihat jelas malah hilang berganti dengan nada bicara yang cukup serius.

"Abang nggak harus ngela_"

"Abang harus." Potong Bang Lian cepat.

"Karena Abang nggak mau kehilangan kamu." Terdengar pelan tapi anehnya, tatapan Bang Lian sangat meyakinkan.

"Udah nggak usah mikir aneh-aneh, lebih baik sekarang kamu bangun, cuci muka, terus ikut Abang turun, kita makan, Abang tunggu di meja makan." Bang Lian keluar dari kamar lebih dulu sedangkan gue masih bengong di tempat untuk beberapa saat.

"Apa ini kabar baik?" Gumam gue nanya ke diri gue sendiri.

Gue nggak mau perasaan gue balik bingung karena sikap Bang Lian yang mendadak berubah kaya sekarang, gue udah mencoba untuk nggak berharap banyak tapi kalau sikapnya kaya gini, gimana gue bisa bertahan coba? Berat.

Nggak mau Bang Lian nunggu lama, gue bangkit dari ranjang, cuci muka dan setelahnya langsung keluar kamar menuju meja makan, belum juga sampai, senyum Bang Lian terlihat jelas sambilan narik kursi untuk gue duduk.

"Kenapa natap Abang sampai kaya gitu?" Tanya Bang Lian seolah sadar dengan gue yang terus natap dia nggak percaya.

"Heumm, nggak papa sebenernya, cuma, heummm, cuma aku ngerasanya Abang beda aja." Gue mencoba jujur.

"Nggak ada yang aneh, cuma Abang yang terlambat sadar." Bang Lian ikut duduk disamping gue.

"Sadar apa?" Gue ingin mendengarkan.

"Kamu tahu, tidur sambil memeluk kamu kaya tadi bikin Abang kembali sadar untuk satu hal."

"Apa?"

"Ternyata selama ini, disaat Abang kesusahan bahkan sakit sekalipun, cuma kamu yang selalu ada disisi Abang, bukan perempuan lain." Bang Lian menatap gue dengan senyuman sekaligus mata yang berkaca-kaca.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang