(17)

3.6K 311 14
                                        

"Abang nggak perlu minta maaf karena kalau memang belum bisa, jangan di paksa, aku nggak papa, beneran." Gue memberanikan diri menatap Bang Lian sembari ngomong kaya gini, gue nggak mau memperburuk keadaan, cukup perasaan gue yang buruk sekarang.

"Kamu kaya gini malah bikin Abang makin ngerasa bersalah." Bang Lian mengusap kasar wajahnya menatap gue prustasi.

"Abang keluar sebentar." Bang Lian keluar dari kamar meninggalkan gue sendiri dengan penuh kebingungan.

Gue bingung sebenernya harus bersikap gimana, apa gue harus marah-marah? Tapi mau sampai kapan? Marah gue juga nggak akan ngubah perasaan Bang Lian, bukannya membaik tapi yang ada perasaan Bang Lian makin ngerasa bersalah.

Lihatkan keadaan gue sama Bang Lian sekarang, gue mencoba bersikap biasa aja Bang Lian ngerasa bersalah, apalagi kalau gue uring-uringan sampai melampiaskan kekesalan, Bang Lian bakalan gimana?

Lagian sebenernya gue juga nggak marah, gue beneran nggak nyalahin Bang Lian, ini lebih ke rasa kasihan sama diri gue sendiri, gue kasihan karena keadaan gue sekarang tapi mau kasihan juga buat apa? Udah telat, udah nikah jugakan?

"Ah nggak tahu." Gumam gue nepuk pipi gue pelan dan mulai kembali beralih ke pakaian yang lagi gue rapiin sebelum keluar belanja tadi, ini tujuan gue pulang ke rumah sebenernya.

.

"Bia! Dek! Bangun dulu." Mendengar panggilannya, gue menggeliat beberapa detik masih dengan mata terpejam.

"Bentar lagi, Nda. Lima menit." Gumam gue belum mau bangun, yang manggil gue Adek ya pasti cuma orang rumah, Bunda, Ayah sama Kak Gea.

"Bunda masih di dapur." Jawaban yang langsung bikin gue mikir ulang, ini suara cowo, kalau bukan Bunda terus siapa?

Seketika gue bangun dan duduk di ranjang dengan tatapan kaget, gue lupa kalau sekarang ada satu orang lagi yang manggil gue dengan sebutan dek, orang itu Bang Lian.

"Abang kapan pulangnya?" Tanya gue sedikit gelagapan, mengingat tadi Bang Lian keluar dengan keadaan kita berdua yang cukup canggung, gue jadi kepikiran juga.

"Dari setengah jam yang lalu, bangun, belum sholatkan?" Gue mengangguk cepat dan langsung bangkit dari ranjang, masih tangan gue sibuk ngikat rambut, tiba-tiba ada tangan lain yang melingkar di pinggang gue sekarang, Bang Lian orangnya.

"Abang kenapa?" Tanya gue kaget, perasaan.. gue nanya Bang Lian kenapa terus hari ini, padahal gue yang kenapa sebenernya?

Bukannya ngasih jawaban untuk pertanyaan gue barusan, gue malah ngerasa dekapan Bang Lian makin erat, Bang Lian kenapa sebenernya?

"Abang kenapa sebenernya? Jangan bikin aku khawatir." Sikap Bang Lian yang kaya gini malah bikin gue mikir aneh-aneh.

"Walaupun kamu bilang jangan, Abang tetap harus minta maaf, maaf untuk alasan yang sama." Gumam Bang Lian yang sekarang masih memeluk gue dari belakang.

"Aku ngerti, karena aku paham makanya aku bilang Abang nggak perlu minta maaf." Gue sama Bang Lian nggak harus ngebahas hal yang sama berulang kali.

"Tapi Abang ngerasa bersalah."

"Terus Abang mau aku gimana? Marah? Abang tahukan jawabannya? Ini udah pernah kita bahas." Dibahas berulang kalipun, jawabannya bakalan tetap sama.

Gue memang udah bilang kalau gue akan berusaha mempertahankan apa yang harusnya memang udah jadi milik gue tapi kalau milik gue sendiri yang belum bisa berubah rasa, gue bisa apa?

"Ayo pindah." Dua kata dari Bang Lian yang gue angguki.

"Aku kan memang udah pindah, ikut tinggal sama Abangkan?" Gue harus pindah kemana lagi?

"Bukan pindah ke rumah Mama sama Papa, tapi ayo pindah ke rumah kita sendiri, hidup cuma berdua, kita bangun keluarga kecil kita." Kali ini gue melepaskan dekapan Bang Lian dan berbalik menatap Bang Lian penuh tanya.

"Memangnya pindah bisa ngubah perasaan Abang untuk Kak Gea?" Tanya gue nggak yakin.

"Abang mau kita hidup berdua bukan untuk ngelupain Gea."

"Terus?" Gue bingung.

"Ayo pindah supaya Abang bisa belajar mencintai kamu." Bang Lian aja terlihat nggak yakin sama ucapannya.

Harusnya kalimat Bang Lian barusan terdengar maniskan? Tapi gue malah nggak ngerasa nggak kaya gitu, gue masih nggak ngerti, memangnya pindah bisa ngubah keadaan? Ini jatuhnya malah kaya menghindar dan kita semua tahu, menghindar jelas bukan solusi.

"Kenapa diem? Kamu nggak mau hidup berdua sama Abang?" Tanya Bang Lian mengusap kedua lengan gue.

"Bukannya nggak mau Bang, aku istri Abang sekarang, kalau bukan sama Abang, aku masih hidup berdua sama siapa lagi?"

"Itu artinya kamu setujukan? Kalau memang kamu setuju, ayo pindah."

"Dengerin aku dulu, tapi menurut aku, menghindar bukan solusi, cara terbaik untuk melupakan ya terima kenyataan, tetap berinteraksi kaya biasa dan biarin perasaan itu perlahan menghilang sampai akhirnya Abang bisa lupa." Ini menurut gue.

"Tapi gimana Abang bisa lupa kalau terus ketemu Gea? Terus khawatir sama Gea." Gue tersenyum miris mendengarkan kalimat Bang Lian.

Gue benerkan? Setuju menikah sama Bang Lian itu udah kaya memulai hidup dengan seseorang yang belum kelar sama masa lalunya.

"Abang khawatir karena Abang masih sayang, Abang masih cinta." Berat tapi ini kenyataan yang harus gue terima.

"Bia, Abang minta maaf, Abang tahu kalau sikap Abang hari ini nyakitin kamu."

"Aku udah bilangkan kalau aku nggak mau denger Abang minta maaf, sekali lagi aku denger, awas aja." Gue beneran nggak suka dengan raut wajah bersalah Bang Lian.

"Abang sayang sama kamu, kamu juga tahukan?" Gue mengangguk pelan, gue tahu, karena jujur gue juga sayang, sayang yang belum tentu itu cinta.

"Aku juga sayang, Abang pasti tahu." Bang Lian malah menatap gue lama begitu gue mengeluarkan kalimat kaya gini.

"Kenapa natap aku kaya gitu? Abang nggak tahu kalau aku sayang?" Yang bener aja.

"Abang tahu, Abang cuma nggak tahu kalau kalimat kamu barusan bisa bikin Abang sebahagia ini." Lah, mulut manisnya kumat lagi.

"Hah? Mulai mulai, sok manis." Gue berbalik dan mau jalan ke kamar mandi, gue belum sholat we, dramanya kepanjangan.

"Bentar, Dek." Allahu, Bang Lian mau ngomong apalagi?

"Apalagi Abang?"

"Abang tetap dengan keputusan Abang, Abang mau kita pindah."

"Kenapa? Kasih aku alasan yang meyakinkan."

"Nggak semua orang bisa melupakan dengan cara yang kamu bilang tadi, ada sebagaian orang perlu waktu untuk sendiri, menjauh, lalu melupakan secara perlahan, mungkin Abang adalah salah satu dari orang itu." Gue mendengarkan.

"Abang harus terbiasa tanpa Gea, Abang harus berhenti khawatir tapi gimana caranya Abang nggak khawatir kalau Gea terus muncul?"

"Abang juga nggak mau kamu terus ngerasa nggak nyaman, Abang yakin hidup berdua bakalan ngubah perasaan kita, apa kamu masih belum setuju?" Walaupun gue nggak yakin tapi yang Bang Lian omongin juga nggak salah.

"Bia! Sayang! Abang_"

"Okey! Ayo pindah." Okey kita coba.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang