(23)

3.5K 320 8
                                        

"Heh? Ingin konon sebagai, minggir." Gue mendorong tubuh Bang Lian kuat dan langsung kabur nyari aman, bisa sesak nafas gue lama-lama di posisi dan keadaan kaya tadi.

Niat hati mau ngebujuk malah gue yang ngacir duluan, lagian ngapain pembahasannya malah sampe ke ingin ingin kaya gitu? Menginginkan gue pula katanya, horor banget, gue masih anak-anak, tolong jangan diajak sesat.

Lagian Bang Lian juga satu, katanya nggak cinta tapi kelakuannya bikin orang mikir aneh mulu, dia sebenernya mau apa dari gue? Dia nggak cinta tapi nggak suka gue deket sama laki-laki lain? Kan sakit.

Kelakuannya makin hari makin aneh, omongan sama sikapnya makin nggak sejalan, kata-katanya selalu ngingetin gue kalau bukan gue yang dia cinta tapi kelakuannya seolah ngasih tahu kalau gue yang dia mau.

Mau sampai kapan gue harus ngadepin sikapnya? Marah nggak jelas, cemburuan nggak bertempat, gue suruh balik sama Kak Gea nggak mau, gue yang minta undur diri juga salah, ya begini keadaannya sekarang.

Mau melangkah maju dan buka hati tapi inget perasaan Bang Lian masih untuk siapa, mau mundur dan mulai dekat laki-laki lain juga cuma angan, boro-boro dekat, ketemu laki-laki lain aja, omongannya udah nggak karuan begini, nyampe kemana-mana pembahasannya, ribet.

"Bia." Panggil Bang Lian dari arah pintu kamar, nggak gue jawab tapi nggak lama kepala orangnya muncul dari balik pintu kamar yang dibuka perlahan.

"Apalagi? Jangan aneh-aneh ya Bang, kalau Abang mau aneh-aneh, bukan Abang yang gila sendirian, aku juga bakalan ikutan." Walaupun terdengar kaya becandaan tapi gue serius dengan kalimat gue barusan, sangat.

"Jangan aneh-aneh." Gue pertegas sekali lagi.

"Memang Abang mau ngapain? Kamu yang mikir aneh-aneh sendiri." Gue udah meleparkan tatapan menusuk menatap Bang Lian sekarang.

"Selama ini yang terus ngatain aku masih bocah itu Abang sama Bunda tapi aku rasa Abang juga tahu umur aku berapa sekarang, jangan pikir aku bodoh sampai nggak paham maksud Abang tadi." Gue nggak sebodoh itu, kalau gue iyakan, kita semua tahu akhirnya bakalan kaya apa.

"Kalau kamu paham, kenapa kamu terus menghindar?" Bang Lian yang awalnya cuma berdiri di ambang pintu malah melangkah masuk dan berakhir duduk di meja belajar gue, duduk menatap gue dengan tatapan yang entahlah, susah gue jelasin.

"Kalau aku nggak menghindar, kita kedepannya bakalan kaya apa?" Tanya gue balik, gue pikir pembahasan seriusnya udah kelar, ternyata belum.

"Mungkin dengan kehadiran seorang anak akan membuat hidup kita lebih bahagia." Bang Lian malah memperlihatkan senyumnya, gue yang mendengarkan malah tersenyum sinis.

"Ck, mungkin? Mungkin Abang bilang? Maaf banget Bang, aku nggak mau mempertaruhkan masa depan aku dengan kata-kata mungkin Abang itu." Harusnya ini udah sangat jelas.

"Kalau Abang sendiri belum yakin dengan perasaan Abang sekarang, gimana mungkin aku bisa yakin untuk menyerahkan masa depan aku gitu aja? Itu masih masa depan aku doang yang aku bahas, belum masa depan anak aku nanti." Bang Lian mikir sampai kaya gini nggak?

"Anak kamu yang kamu maksud barusan juga anak Abangkan? Abang nggak bermaksud mau__"

"Aku paham tapi aku harap Abang juga paham maksud aku itu apa." Ini bukan tentang aku suka sama orang lain sampai nolak dan menghindar dari Bang Lian, bukan tentang itu, nggak akan ada kemajuan apapun dalam hubungan gue sama Bang Lian selama Bang Lian belum menentukan perasaannya untuk siapa.

"Pikirin dulu perasaan Abang mau gimana? Untuk siapa? Kalau udah, datang ke aku karena aku nggak akan kemana-mana." Selama Bang Lian masih suami gue, ya gue mau kemana lagi memangnya?

Bang Lian menundukkan wajahnya setelah ucapan gue barusan, duduk tertunduk seakan memikirkan sesuatu, gue menunggu tapi diamnya terlalu lama, Bang Lian mikir apalagi sekarang?

"Kenapa diem?" Tanya gue memecah keheningan tapi Bang Lian belum memberikan reaksi apapun, Bang Lian malah terus menunduk seakan mengabaikan pertanyaan gue barusan.

"Abang." Gue melangkah mendekat dan beberapa detik kemudian, Bang Lian narik lengan gue yang sukses membuat gue terduduk di pangkuannya.

"Kenapa? Abang se__" Dan gue dibungkam gitu aja tanpa aba-aba.

"Abang malah bersikap kaya gini?" Tanya gue berkaca-kaca setelah beberapa saat.

"Kamu yang kenapa? Apa sesulit itu ngasih Abang kesempatan? Kamu terus minta Abang mempertimbangkan perasaan, sekarang Abang tanya, kalau Abang milih Gea, kamu gimana?" Nada bicara Bang Lian cukup tinggi.

"Jawab!" Bentak Bang Lian yang langsung membuat beberapa bulir air mata berhasil menetes di pipi gue.

Mata Bang Lian yang awalnya terlihat  penuh amarah, perlahan berubah begitu melihat gue mulai menangis masih dengan posisi duduk dipangkuannya.

"Abang minta maaf." Mengusap air mata gue dengan tatapan sedikit panik, Bang Lian membawa tubuh gue dalam dekapannya sembari terus berusaha menenangkan.

Berada dalam dekapan Bang Lian, gue berusaha keras nahan isak tangis tapi anehnya, bukannya berhasil tapi tangis gue malah makin menjadi, awalnya hanya tangan Bang Lian yang memeluk gue dan sesekali mengusap kepala gue menenangkan tapi sekarang, gue juga membalas dekapannya, nggak kalah erat.

"Kamu gini aja Abang udah kehabisan kata, gimana nanti kalau Abang beneran ninggalin kamu?" Gumam Bang Lian yang membuat gue melepaskan dekapan di tubuh Bang Lian perlahan, tatapan gue sama Bang Lian kembali bertemu.

"Kalau nanti Abang beneran ninggalin aku, aku memang nggak bisa berbuat apapun tapi seenggaknya, melepaskan Abang nggak akan terlalu sakit karena kita belum punya kenangan apapun." Karena sejatinya yang mengikat itu bukan waktu tapi kenangannya.

"Terus kamu pikir, sekarang ini Abang siapa? Apa Abang barang yang bisa kamu lepaskan gitu aja kalau memang ada orang lain yang menginginkannya?" Gue menggeleng cepat, gue nggak pernah mikir kaya gitu.

"Kamu terus nyuruh Abang mempertimbangkan perasan padahal udah jelas, disaat Abang berusaha keras melanjutkan pernikahan kita, disaat yang sama pula Abang memilih mmepertahankan kamu."

"Abang milih kamu makanya kamu yang jadi istri Abang sekarang, terus kamu nyuruh Abang mempertimbangkan perasaan lagi, perasaan apalagi yang kamu maksud, Bia?"

"Perasaan Abang untuk Kak Gea, semua be_"

"Udah telat Bia, kalau memang Abang ingin kembali sama Gea, Abang bisa aja membatalkan pernikahan kita tapi Abang nggak ngelakuin itu, kenapa? Walaupun Abang belum sepenuhnya melupakan Gea tapi Abang tulus memilih mempertahankan kamu."

"Tapi gimana__"

"Soal cinta? Yang pacaran bertahun-tahun aja belum tentu sampai nikah, yang baru kenal malah bisa bahagia sama-sama sampe tua, itu artinya apa? Cinta bukan jaminan pernikahan bisa berhasil dan berakhir bahagia."

"Tapi pernikahan bisa berhasil kalau suami istrinya punya rasa saling percaya, jujur dan selalu terbuka, asalkan punya tujuan yang sama, cinta bakalan hadir seiring kebersamaan kita berdua, apa nggak bisa kamu percaya sama Abang sekali aja, kasih Abang kesempatan."

"Kesempatan apalagi? Bukannya Abang suami aku sekarang?"

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang