(25)

3.7K 346 28
                                        

Karena mengingat keadaan Bang Lian yang kurang sehat, gue nahan diri untuk nggak terpancing emosi lagi dan berniat menghentikan pembicaraan kita berdua tapi jelas bukan Bang Lian namanya kalau mau ngerti maksud gue gitu aja.

"Abang mau jawaban yang jelas Bia, ada atau enggak? Bukan jawaban menggantung kaya gini." Sambung Bang Lian sangat sesuai dengan dugaan gue.

Menghembuskan nafas lelah, gue mengusap wajah kasar, memperbaiki posisi duduk lalu mencepol helaian rambut gue tinggi, suasananya makin panas, gue lelah, gue mencoba mengalihkan perhatian tapi yang dimaksud nggak ada pahamnya sama sekali.

"Aku cinta sama Abang."

"Kamu beneran cin_"

"Apa kalimat itu yang mau Abang denger dari aku sekarang?" Gue menatap Bang Lian datar, nggak mau berdebat dan nggak berharap banyak juga.

"Kalau aku bilang cinta, apa Abang beneran bisa ngelepasin Kak Gea gitu aja? Apa Abang beneran cuma akan natap aku sekarang? Apa Abang bisa ngelakuin itu? Enggak, Abang nggak akan bisa." Nggak usah Bang Lian jawab, gue udah tahu jawabannya.

"Selama Abang masih belum bisa ngelepasin Kak Gea sepenuhnya, jangan jadiin aku alasan untuk semua keraguan Abang itu."

"Abang sendiri yang pernah bilang, Abang itu laki-laki dan Abang tahu apa yang Abang mau,  kalau sampai sekarang Abang belum bisa lepas dari Kak Gea, berarti memang itu yang Abang pilih."

"Kalau itu yang Abang mau, aku nggak bisa berbuat apapun, aku nggak mau terus berusaha sendiri, terdengar egois tapi terkadang seseorang memang harus egois untuk melindungi perasaannya sendiri dan itu yang aku lakuin sekarang."

Gue memilih mundur dari pada harus ikut bermain dengan perasaan Bang Lian, gue bersikap kaya gini bukan berarti gue mikir kalau Bang Lian itu jahat tapi karena gue nggak mau mempersulit keadaan makanya gue narik diri.

Gue pernah diyakinkan untuk bahagia tapi kenyataan yang gue dapat nggak kaya gitu, gue malah berakhir bertahan sendiri, gue juga pernah mencoba mempertahankan tapi hasilnya gue malah dibuat kebingungan dengan perasaan gue sendiri juga, itu lebih dari cukup.

"Jadi sekarang jangan tanya aku kenapa tapi tanya sama diri Abang sendiri, Abang kenapa? Mau Abang apa?" Kalau Bang Lian udah pasti dengan jawabannya, udah yakin dengan apa yang dia mau, baru ajak gue bicara.

"Abang juga nggak tahu kenapa Abang bersikap kaya gini, Abang cuma_"

"Cuma apalagi? Sampai kapan aku harus ikut terpuruk karena kebingungan Abang?" Nada bicara gue sedikit meninggi.

Bang Lian yang sadar dengan kekesalan gue, menggenggam tangan gue erat, walaupun raut wajah bersalah itu ada tapi setidaknya Bang Lian masih berusaha menenangkan gue.

"Sikap Abang yang bikin aku bingung kaya sekarang." Ucap gue terbata berusaha menahan isak tangis, menatap gue khawatir, Bang Lian bangkit memeluk gue, hangat tubuh Bang Lian cukup terasa karena memang demamnya belum turun.

.

Pembicaraan gue sama Bang Lian kemarin berakhir dengan sebuah pelukan, gue nggak marah, gue udah benar-benar menjelaskan apa yang gue rasain, apa yang ada dipikiran gue jadi selebihnya gimana Bang Lian.

Alhamdulillah juga setelah istirahat cukup, demam Bang Lian udah turun cuma gue masih belum ngizinin Bang Lian berangkat ke kantor, setelah gue pikir lagi, mengingat keadaan Bang Lian yang kurang sehat, gue mutusin untuk nginep di rumah lama Bang Lian jadi jarak ke kantor Bang Lian bisa lebih dekat, gue juga cuma tinggal bimbingan jadi nggak harus selalu ke kampus, kerjaan Bang Lian lebih mendesak.

"Kamu ngapain, Dek? Masak?" Tanya Bang Lian yang sekarang melangkahkan kakinya masuk ke dapur.

"Bukan, lagi syuting film." Jawab gue asal.

"Ambil adegan apa? Istri yang lagi masak untuk suami?" Bang Lian berjalan cepat dan tiba-tiba aja memeluk gue dari belakang, kaget? Pasti.

"Abang ngapain?" Tanya gue balik.

"Lagi syuting film juga, ambil adegan suami ngusilin istri." Gue sama sekali nggak biisa nutupin senyuman gue mendengar jawaban Bang Lian barusan.

"Udah nggak usah becanda lagi, lepasin aku terus duduk sana." Bang Lian melepaskan pelukannya tapi nggak langsung duduk.

"Ada yang bisa Abang bantu?" Tanya Bang Lian membuka lemari pendingin, gue menggeleng karena memang semuanya dimit lagi beres.

"Abang bantuin jemurin cucian aja kalau gitu." Belum sempat gue larang, Bang liat mengusap kepala gue sekilas dan langsung jalan, Bang Lian kenapa? Demamnya turun tapi efek samping obat demamnya ngeri amat.

Mengabaikan sikap aneh Bang Lian, gue selesai menata makanan di atas meja bebarengan dengan Bang Lian yang masuk ke rumah dengan menengteng ember kosong ditangannya.

"Kamu senyam senyum kenapa natap Abang?" Tanya Bang Lian yang lagi cuci tangan.

"Abang keliatan cocok kalau ambil peran Ayah rumah tangga." Jawab gue masih dengan senyum yang sama.

"Ayah rumah tangga? Boleh aja, tapi harus ada pasukannya dulu baru bisa di panggil Ayahkan? Kapan kita proses?" Gue hampir aja numpahin air minum yang ada ditangan kalau nggak ada Bang Lian yang sigap bantu pegangin.

"Kenapa? Kaget sampai sebegitunya." Bang Lian juga nggak nutupin sama sekali senyumannya melihat reaksi gue sekarang.

"Ya Abang juga agak-agak, ngomongnya gitu banget." Gue gelagapan.

"Lah omongan Abang barusan salahnya dimana? Kalau kamu mau Abang ambil peran Ayah, kamu sendiri harusnya ambil peran jadi Ibu, salahnya dimana sayang?" Gue nggak jawaban apapun, nggak punya jawaban dan nggak berencana ngasih jawaban juga.

Gue mencoba mengubah topik dengan minta Bang Lian duduk biar kita bisa sarapan, bukannya nurutin, Bang Lian malah nangkup wajah gue dan menatap gue lama.

"Apa?" Gue nanya tapi pandangan gue kemana-mana.

"Istri Abang cantik banget ternyata." Kalimat Bang Liat yang sukses bikin gue natap dia kaget, mendadak gitu kalimatnya?

"Heh?" Apa efek samping obat demam bisa separah ini?

Masih dengan tangan Bang Lian yang nangkup wajah gue, tangan gue juga terangkat mulai mengusap kening, wajah dan bagian leher Bang Lian, masih demamkah?

"Udah nggak panas." Gumam gue yakin.

"Kamu pikir Abang masih sakit?" Gue mengangguk cepat, beneran efek samping obat kayanya.

Tertawa kecil, Bang Lian melepas tangkupannya di wajah gue dan beralih memeluk gue erat, tangannya yang sesekali mengusap kepala gue entah kenapa bikin perasaan gue terasa jauh lebih tenang, rasanya beban gue beneran berkurang banyak.

"Abang kenapa sebenernya? Jangan bikin aku khawatir." Sikap aneh Bang Lian malah bikin gue kepikiran, gue ngerasa aneh dan bahagia disaat bersamaan.

"Makasih karena kamu selalu ada disisi Abang, dari dulu, kamu hadir sebagai seorang adik, kamu hadir sebagai seorang saudara, kamu hadir sebagai keluarga." Kalimat Bang Lian yang masih gue dengarkan.

"Aku juga berterimakasih karena Abang selalu ada, sebagai seorang Abang, saudara dan keluarga." Gue juga ngerasain hal yang sama.

"Dan sekarang kamu hadir sebagai seorang istri, itu jauh lebih membahagiakan."

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang