Selama perjalanan, suasananya hening, nggak ada satu orangpun yang mau buka suara lebih dulu, ini mah lebih canggung dari tadi, padahal udah gue bilang biar gue pulang sendiri tapi Bang Lian nggak mau denger.
"Lo mau makan dimana?" Bang Lian nanya.
"Tempat biasa." Kak Gea jawab.
Gue ngapain? Gue mulai mijitin kening yang makin pening, pusing yang gue bilang tadi nggak sepenuhnya bohong, malah makin menjadi ternyata.
"Masih pusing?" Gue membiarkan Bang Lian ngusap kepala gue karena memang gue terlalu pusing untuk berdebat sekarang.
"Heumm." Gumam gue mengiakan.
"Manja banget, biasanya kalau lambung kambuh cuma dibawa tidur." Kak Gea buka suara, gue langsung mindahin tangannya Bang Lian pelan, nggak mau makin ribut.
"Makanya gue minta pulang duluan dari tadi." Gue membatin, mana berani gue buka suara, yang ada ribet.
"Lo juga yang fokus bawa mobil, jangan kaya tadi." Kak Gea menambahi tapi kali ini kalimatnya tepat untuk Bang Lian, gue menghela nafas dalam dan memejamkan mata perlahan, lebih bagus gue tidur.
Gue nggak tahu sebenernya yang salah disini siapa? Apa Bang Lian salah? Atau Kak Gea? Atau bahkan gue sendiri ikut bersalah? Yang pasti, keadaannya beneran nggak nyaman, nggak kaya biasanya.
Mencoba terus memejamkan walau jujur aja, gue nggak bisa tidur sama sekali, gue cuma malas menanggapi dan takut salah, lebih baik pura-pura tidur sekalian.
"Udah turun, laper kan? Udah sana." Suara Bang Lian yang gue dengarkan.
"Terus lo nggak turun? Gue masuk sendiri nih?" Protes Kak Gea, kalau gue ikut nimbrung sekarang tar salah lagi.
"Kenapa jadi lo yang kaya anak kecil? Masuk doang sendirian, tar gue nyusul, pesen sekalian juga nggak masalah, kaya biasa." Kak Gea diam dan keluar dengan menutup pintu mobil cukup keras.
"Abang tahu kamu nggak tidur, masih pusing?" Gue membuka mata perlahan dan menatap ke atas sebentar.
"Abang turun aja, aku beneran nggak laper, aku tunggu disini, bukan ngambek atau apapun, cuma malas berdebat, nggak marah juga, udah sana, kasian Kak Gea sendirian." Gue ngomong gini nggak natap Bang Lian sama sekali.
"Turun dan ninggalin kamu sendirian? Nggak salah?" Ya memang nggak salah, gue nggak papa, setidaknya sendiri lebih nyaman.
"Yaudah Abang temenin Gea makan sebentar." Sambung Bang Lian yang gue iyakan, gue beralih dan menatap Bang Lian sebentar.
Yakin kalau Bang Lian udah masuk, gue menghela nafas dalam dan kembali memejamkan mata lelah, tapi kali ini tanpa sadar beberapa bulir air mata mulai menetes, gue kenapa?
Kenapa gue jadi kaya gini? Gue yang awalnya nolak perjodohan, gue yang berisi keras untuk nggak nikah, gue juga yang jelas ngomong kalau nggak punya perasaan apapun tapi kenapa tetap sakit? Gue harus gimana? Gue ngarepin apa coba?
Masih dengan air mata mengalir, gue malah tertawa miris mengingat nasib gue sendiri, udah dipaksa nikah, kudu ngadepin dua orang yang saling cinta tapi nggak bisa bersama, gue ngapain? Mau ambil peran apa?
"Gue bener ternyata." Tiba-tiba aja pintu mobil disebelah gue dibuka, gue kaget dan langsung mengusap air mata gue cepat.
"Kenapa balik? Kak Gea gimana?" Tanya gue gelagapan.
"Stop mikirin orang lain, cukup pikirin diri kamu sendiri." Bang Lian terlihat cukup kesal.
"Abang udah bilangkan, kamu boleh nuntut apapun." Sambung Bang Lian masih dengan raut wajah yang sama.
"Aku harus nuntut apa?" Bang Lian mau gue ngelakuin apa?
"Apapun itu, Abang udah milih kamu dan Abang tahu kalau sikap Abang dari tadi salah."
"Abang memang milih aku tapi aku juga harus tahu diri, bukan aku yang sebenernya Abang mau, gimana bisa aku nuntut sesuatu disaat aku tahu semuanya? Mana bisa?" Gue udah ngerasa kaya jadi orang ketiga, punya rasa bersalah itu beneran nggak enak.
"Kamu bisa, kamu berhak." Bang Lian menegaskan.
"Kamu boleh marah, kamu juga boleh pukul Abang tapi tolong, jangan cuma diam dan nangis sendirian kaya gini, Abang jauh lebih ngerasa bersalah Bia kalau kamu memilih diam dan pasrah sama keadaan." Bang Lian masih berusaha mengusap kepala gue sekarang.
"Sekarang Abang tahukan apa yang bikin aku takut?" Keadaan kaya gini yang gue takutkan.
"Jujur, walaupun menikah karena perjodohan, aku nggak pernah menilai Abang buruk, aku yakin Abang bakalan jadi suami yang baik tapi aku nggak bisa membayangkan keadaan kita nantinya."
"Abang baik tapi aku juga nggak buruk, Aku sayang sama Abang tapi aku cinta sama diri aku sendiri, aku nggak mau terus hidup dalam kecanggungan dan nahan diri kaya gini." Apa Bang Lian paham sekarang?
"Nggak ada yang minta kamu terus nahan diri, Abang memang nggak mau kamu ngelakuin itu."
"Terus Abang mau aku gimana? Marah? Mukul Abang kaya yang Abang bilang tadi? Aku juga nggak bisa."
"Kenapa nggak bisa?"
"Gimana aku bisa disaat aku tahu perasaan Abang untuk Kak Gea?" Gue udah kaya memulai hubungan dengan orang yang belum kelar sama masa lalunya.
"Kak Gea itu juga Kakak aku sendiri, kenyataannya dia juga suka sama Abang itu yang bikin keadaan lebih parah lagi, Abang lihatkan sikapnya dari tadi? Aku tahu Kak Gea kesal makanya aku nggak ngebantah apapun, dia kesal karena apa kalau bukan karena cemburu." Gue bukan anak kecil yang nggak bisa ngeliat kecemburuan dimata Kak Gea.
"Apa gunanya Gea cemburu kalau nyatanya dia tetap milih orang lain? Itu udah nggak penting." Ck
"Nggak pentingnya di mulut doang tapi dihati tetap khawatirkan?" Tebak gue yang bikin Bang Lian diam.
"Udahlah, aku capek, Abang masuk aja sana." Gue malas berdebat, gue juga malas menjelaskan.
"Kalau mau semuanya beres, ikut sama Abang sekarang."
"Kemana? Nemuin Kak Gea? Aku nggak mau." Ngapain kalau cuma untuk berdebat.
"Bia! Abang tanya sekali lagi, apa nggak masalah kalau Abang yang jadi suami kamu?" Tanya Bang Lian tiba-tiba.
"Memang nggak masalah tapi ki_"
"Abang juga nggak masalah kalau harus berdua sama kamu seumur hidup, apa itu cukup untuk meyakinkan kamu? Kalau cukup, turun dari mobil sekarang dan jangan nahan diri untuk apapun." Bang Lian menggenggam tangan gue sekarang.
Sadar kalau Bang Lian terlihat sangat serius, gue mencoba mengumpulkan keberanian dan turun seperti yang Bang Lian mau, gue mencoba menuruti keinginannya dengan harapan, akan ada hasil yang lebih baik.
"Good girls."
Masih dengan tangan di genggam erat, gue melangkah masuk beriringan dengan Bang Lian dan duduk tepat dihadapan Kak Gea dengan berdampingan.
"Kalian kenapa? Mau masuk medan perang atau gimana sampai harus gandengan begitu?" Tanya Kak Gea sinis.
"Nggak ada salahnya ngegandeng calon istri, lo kalau sirik, ajak calon suami sendiri gih, ajak gandengan sekalian." Jawab Bang Lian tersenyum kecil.
"Norak banget kata-kata lo, udah kaya orang lagi jatuh cinta aja." Sambung Kak Gea ikut menertawakan.
"Nggak masalah kalau lo mau mikir kaya gitu, anggap aja gue laki-laki yang udah pasrah sama perempuan yang selama ini gue kejar dan beruntungnya gue udah nemuin perempuan yang jauh lebih baik." Tawa Kak Gea hilang seketika.
"Ian, lo_"
"Buruan makan, Bia masih kurang sehat, butuh istirahat banyak." Potong Bang Lian cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romance"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
