"Nikah sama Bang Lian!"
"Sama Bia juga nggak masalahkan?"
"Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya.
Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
"Kan berangkat dadakan, cuma ada baju ini, pake ini aja." Jawab gue seadanya, gue memang nggak tahu kalau bakalan ikut Bang Lian jadi baju yang ada ya cuma yang gue pake doang.
"Ganti pake baju Abang, ambil aja di lemari." Bang Lian menunjuk lemari dengan dagunya dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, udahlah, orang kalau udah marah bebas.
"Heum." Bergumam mengiakan, dengan sangat tidak yakin, gue membuka lemari Bang Lian pelan dan langsung ambil apa yang ada, kaos lengan pendek sama celana panjang, harusnya udah cukup nyaman.
Menutup pintu lemari, nggak sengaja tatapan gue sama Bang Lian bertemu, beuh kacau, sekamar tapi suasananya canggung begini, gue pikir berantem sama Kak Gea udah canggung yang paling parah tapi ternyata ini lebih ekstrim.
Langsung mengalihkan perhatian, gue berjalan cepat dan masuk ke kamar mandi untuk ganti, menatap wajah sendiri di pantulan cermin, rasanya gue lebih rela tidur dikamar mandi dari pada harus ngadepin Bang Lian sekarang.
"Gue harus gimana?" Gumam gue mengusap wajah kasar, apa gue nunggu Bang Lian tidur dulu baru keluar? Tapi mana ada jaminan Bang Lian tidur cepat? Begadangnya mah udah mendarah daging setahu gue.
"Tok tok." Suara pintu kamar mandi yang di ketuk dari luar.
"Sebentar." Jawab gue nggak yakin, kayanya gue nggak punya pilihan selain pasrah, mau di marahin yaudahlah, ketimbang begini terus.
Narik nafas dalam, tangan gue menyentung gagang pintu dan membuka pintu perlahan, pintu gue buka dan hampir aja gue teriak begitu mendapati Bang Lian udah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Abang mau masuk?" Tanya gue memaksakan senyuman.
"Mau meriksain kamu takutnya ketiduran di dalam." Beuh jawabannya, langsung kena mental.
"Enggak kok, Abang kalau mau tidur yaudah duluan aja." Lo ngomong apaan Bia?
"Kamu pikir kita bisa tidur dalam keadaan kaya gini? Nggak ada yang mau kamu omongin sama Abang sekarang?" Tanya Bang Lian seakan mendesak gue untuk ngelakuin sesuatu.
"Abang keliatan capek, aku pikir lebih baik Abang __"
"Abang bukan tipe orang yang bisa tidur sambil bawa masalah, kamu tahu." Potong Bang Lian cepat.
"Kamu tahu apa kesalahan kamu hari ini kan, Dek?" Nada bicara Bang Lian melembut.
"Liat Abang kalau Abang lagi ngomong." Tangan Bang Lian menyentuh dagu gue bikin gue reflek langsung nutup mata, tatapannya tolong dikondisikan Bang.
"Gimana mau aku liat kalau tatapan Abang nyeremin gitu?" Udahlah, trobos aja.
"Abang marah sama aku dari tadi semenjak akad aku tahu kok, Abang duluan yang nggak mau natap aku yaudah sekarang aku juga gitu, jadi sekarang aku yang salah?" Sambung gue nggak mau kalah.
"Bagus kalau kamu tahu Abang marah jadi harusnya kamu tahu kamu salah apa hari ini." Gue langsung nurunin tangan Bang Lian dan mencoba natap Bang Lian walaupun rada nggak yakin.
"Memang aku salah apa?" Tanya gue balik.
"Kamu nolak Abang 2 kali hari ini apa kamu sadar? Kalau bukan karena Abang yang tetap milih kamu, kalau bukan Abang yang tetap mau pernikahannya dilanjutin, apa kamu pikir keadaan kita berdua akan kaya sekarang?" Jadi karena ini?
"Abang nggak liat keadaan Kak Gea tadi? Gimana bisa aku__"
"Kamu kenal Gea udah berapa lama? Sejak kapan Gea pernah serius kalau ngancem orang rumah, Bia?" Bang Lian terlihat sangat prustasi menatap gue.
"Kamu nggak beneran mikir Gea pingsan tadikan?" Tanya Bang Lian yang bikin gue membelalak kaget.
"Memang nggak beneran?" Serius?
"Allahuakbar, huh, wow sekali kamu." Bang Lian menggepalkan tanggannya tepat di depan muka gue.
"Tangan kamu mana? Masih sakit?" Gue langsung menggeleng cepat, kegores dikit jadi nggak papa.
"Kamu mikir apa sampai mau ngambil pisau ditangan Gea kaya tadi? Abang selalu bilang, sebelum mikirin orang lain, pikirin diri kamu sendiri lebih dulu." Lagi-lagi gue mengangguk cepat tapi tetap aja, eksekusinya berlawanan, gue mana bisa mikir kalau Kak Gea usah pegang pisau begitu.
"Jadi Abang marah karena itu?"
"Terus kamu pikir Abang marah karena apa?" Bang Lian menggenggam tangan gue dan berjalan duduk di ranjang, Bang Lian udah duduk tapi gue masih berdiri dihadapannya.
"Aku pikir Abang marah karena acara pernikahannya jadi kacau, semua orang jadi panik karena ulah aku." Gue harus menunduk untuk menatap Bang Lian sekarang.
"Hah? Nggak ada yang kacau diacara pernikahan kita, bukan kamu juga yang berulah, kenapa pemikiran kamu selalu nyalahin diri sendiri?" Tangan Bang Lian beralih mengusap kedua lengan gue.
"Ya kan memang begini, dari pada sibuk nyalahin orang, lebih baik nyalahin diri sendiri." Ini yang gue pikirkan, nyalahin orang lain cuma akan memperpanjang masalah, nyalahin diri sendiri yaudah sih.
"Abang pernah bilang, kadang berdebat lebih baik dari pada diam saat disalahkan, nggak ada yang salah dengan membela diri." Heumm membela diri di depan orang yang nggak mau salah juga susah.
"Abang marah karena kamu begitu mudah melepaskan Abang untuk Gea, Abang udah minta tolong sama kamukan untuk ngasih Abang kesempatan, bantu Abang merelakan Gea tapi kenapa kamu kaya tadi?" Pembicaraan balik serius.
"Karena aku pikir semuanya belum telat, Abang sama Kak Gea_"
"Apa 3 bulan ini cuma Abang yang bahagia sendiri?" Pertanyaan yang membuat gue sedikit tercekat, apa Bang Lian juga ngerasain yang sama.
"Aku juga bahagia tapi mungkin Abang akan lebih bahagia ka_"
"Bia Bia Bia, stop mikir kalau bareng Gea hidup Abang akan lebih bahagia, kalau dia bisa ninggalin Dimas gitu aja cuma untuk hidup sama Abang, apa kamu pikir Gea nggak akan ngelakuin hal yang sama nantinya?" Gue nggak berpikir sampai kaya gitu.
"Dalam pernikahan bukan cinta yang paling utama, Dek." Gue tahu.
"Terus Abang mau aku gimana?" Bersikap seolah semuanya akan baik-baik aja?
"Yang Abang mau, disaat Abang udah memilih untuk menggenggam tangan kamu tolong jangan lepas genggamannya cuma karena orang lain meminta untuk kamu lepaskan." Bang Lian menatap gue dengan tatapan memohon.
"Abang milih kamu, apa nggak bisa kamu ngelakuin hal yang sama? Apa nggak bisa kamu tetap mempertahankan Abang seberapa sulitpun keadaan kita nanti?" Tatapan Bang Lian kenapa kaya gini?
"Kalau aku udah beneran milih untuk mempertahankan Abang, sampai kapanpun aku nggak akan ngasih Abang kesempatan untuk balik sama Kak Gea, apa itu nggak papa?" Gue mau Bang Lian tahu, sebelum menikah gue masih bisa merelakan tapi setelah gue dapatkan, gue nggak akan melepaskan untuk alasan apapun lagi.
"Bukannya Abang milik kamu sekarang? Jangan pernah lepasin kalau gitu." Bang Lian tersenyum sembari menengadah menatap gue.