(19)

4.1K 334 29
                                        

"Aku harus gimana?" Tanya gue terisak.

Bang Lian terpaku di tempat dengan tatapan nggak percaya yang penuh rasa bersalah, tubuhnya membeku, bahkan mulutnya tertutup rapat seakan kehabisan kata mendengar setiap kalimat yang gue keluarkan barusan. Apa ketakutan gue terlihat jelas sekarang?

"Kalau Abang nggak bisa ngasih aku solusi apapun, tolong jangan bersikap seolah Abang sangat membutuhkan aku, tolong jangan memberikan aku harapan appaun, tolong bantu aku untuk nggak berakhir semakin sakit nanti." Ini yang terbaik untuk gue sekarang.

Gue bukan nggak sayang, gue bukan nggak peduli tapi karena gue sayang, kerena gue peduli makanya gue bersikap kaya gini, gue nggak mau terikat lebih jauh dengan Bang Lian kalau masa depan rumah tangga kita berdua aja nggak jelas tujuannya apa.

Kalimat? Kata? Bahkan janji, semuanya itu cuma ucapan dan bisa berubah kapanpun disaat hati udah nggak sejalan, gue nggak mau mempertaruhkan seluruh hidup gue untuk menyambut dan menunggu perasaan Bang Lian berubah arah.

"Kalau menurut Abang kalimat aku berlebihan, aku minta maaf tapi aku tetap dengan keputusan aku sekarang, aku berusaha membuat Abang cinta tapi usaha dari satu arah itu lelah, aku memang snggak lagi cinta sama siapapun tapi bukan berarti aku mau terluka untuk siapapun." Ini yang harus Bang Lian tahu.

Usaha gue untuk membuat Bang Lian jatuh cinta sama gue, usaha membuat Bang Lian melupakan Kak Gea, bukan dari gue yang akan membantu tapi usaha dari Bang Lian sendiri yang akan membuat perubahan paling banyak.

Kalau semua usaha gue hanya di balas dengan sikap Bang Lian yang kembali peduli dengan Kak Gea, itu bukan hasil baik tapi cuma akan nembah masalah antara kita berdua, Bang Lian yang kembali dengan rasa bersalahnya dan gue yang kembali harus terluka karena sikapnya.

"Kenapa diem? Abang minta aku jujurkan? Sekarang aku udah jujur, apalagi yang salah?" Kalau kejujuran gue malah membuat Bang Lian menyerah sekarang, itu artinya memang nggak ada yang perlu diusahakan lagi.

"Kalau memang Abang nggak mau ngomong apapun lagi, aku_"

Belum gue menyelsaikan kalimat gue barusan, Bang Lian mendekat dan memeluk gue erat tiba-tiba, walaupun gue nggak membalas dekapannya tapi gue masih bisa ngerasain kalau tubuh Bang Lian bergetar cukup hebat,

"Abang kenapa?" Apa kalimat gue barusan sejahat itu? Apa gue sangat keterlaluan? Ini adalah salah satu sifat yang paling gue benci, gue yang merasa bersalah padahal bukan gue yang sepenuhnya melakukan kesalahan.

"Mungkin kalimat Abang sekarang nggak akan menenangkan perasaan kamu sama sekali tapi kalau kamu tanya siapa lebih penting antara rasa sakit Gea  dan tangisan kamu, Abang lebih terluka melihat tangisan kamu sekarang." Bang Lian belum melepaskan dekapannya.

"Bia! Lihat Abang, apa kamu yakin kalau ini yang terbaik untuk kita berdua?" Bang Lian melepas dekapannya dan beralih memegang kedua bahu gue, menatap mata gue langsung degan mata yang berkaca-kaca.

"Heum, aku yakin, ini yang terbaik untuk kita berdua." Jangan bersikap terlalu baik kalau rasa untuk Kak Gea belum berubah.

"Oke, kalau memang itu yang bikin kamu ngerasa lebih lega, lebih tenang, Abang terima tapi ada satu hal yang Abang mau dari kamu."

"Apa?"

"Jangan larang Abang untuk belajar jadi suami yang baik buat kamu, soal perasaan Abang ke Gea, Abang akan berusaha sebaik mungkin tanpa harus melibatkan kamu." Dan pembicaraan kita berdua selesai disini.

.

"Dek! Udah bangun belum?" Suara panggilan Bang Lian yang bisa gue dengarkan dari luar kamar.

Gue turun dari ranjang dan berjalan pelan ngebukain pintu, "Udah." Ucap gue begitu pintu kamar gue buka.

"Mau shalat subuh berjamaah sama Abang?" Tawar Bang Lian yang gue angguki, gue bergerak dari ambang pintu kamar dan membiarkan Bang Lian masuk, semalam Bang Lian tidur di ruang tamu, gue udah ngelarang tapi dia tetap kekeh.

"Aku ambil wudu dulu." Mendapat anggukan Bang Lian, gue buru-buru masuk ke kamar mandi biar Bang Lian nggak lama nunggu, setelahnya kita berdua shalat berjamah cuma begitu selesai shalat dan nyalim, Bang Lian nahan tangan gue dan minta gue duduk lebih dekat.

"Kenapa?" Jujur aja gue sedikit gugup, ini Bang Lian punya gebrakan apalagi?

"Nggak papa, Abang cuma mau natap kamu lebih lama."

"Hah?"

"Katanya waktu paling bagus buat belajar itu selepas subuh."

"Terus?"

"Abang lagi belajar mencintai kamu."

Gue langsung narik paksa tangan gue dari genggaman Bang Lian begitu denger jawabannya, gue pikir ada gebrakan apa subuh-subuh begini ternyata Bang Lian lagi belajar modus.

"Nggak boleh kasar sama suami, Bia." Bang Lian menatap gue tajam tapi begitu gue balas natap tajam balik, senyumannya langsung terlihat jelas.

"Nggak kasar cuma lagi buru-buru aja, takut telat ke kampus, perjalanannya jauhkan?" Alasan yang nggak nyambung.

"Makanya duduk dulu, Abang belum selesai." Bang Lian nepuk tempat kosong tepat dihadapannya dan gue balik duduk disitu dengan tatapan sedikit malas, awas aja kalau ngajak becanda lagi, gue lagi buru-buru.

"Soal tempat tinggal, Abang berencana ngajak kamu lihat rumah baru kita nanti sore, pulang kuliah kamu, pulang kantor Abang." Kenapa harus buru-buru banget? Itu masih bisa dipikirin nanti, nggak harus sekarang, nggak usah juga bukan masalah.

"Bang, memang harus banget beli rumah baru? Aku mau tinggal dimana aja beneran nggak masalah, kalau memang terlalu berat ditinggal di rumah keluarga aku, yaudah tinggal di rumah keluarga Abang aja." Nggak usah repot-repot nyari tempat tinggal lain lagi, toh orang tua kita berdua juga setuju aja.

"Kalau kamu serius sama ucapan kamu semalam, apa kamu pikir tinggal bareng tua kita bakalan bikin kamu nyaman? Jangankan nanya sikap, tahu kita tidur misah aja udah jadi masalah." Gue mendengarkan dan tanpa sadar mengiakan dalam hati, pertanyaan dari orang rumah pasti bakalan banyak banget.

"Kalau nggak nyari rumah baru, kamu mau kita gimana? Tinggal disini juga terlalu jauh untuk kamu." 

"Tapi kalau nyari yang dekat sama kampus aku, itu artinya jauh dari kantor Abangkan? Sama aja." Bang Lian yang bakalan kewalahan.

 "Jauh dari kantor Abang nggak masalah." Singkat, padat, kaya ada yang salah.

"Makanya, Abang mau kamu setuju sama keputusan Abang yang ini, Abang ngelakuin ini juga karena mikirin kamu." Sambung Bang Lian mengusap kepala gue sekilas, gue mengela nafas dalam dengan kepala tertunduk.

Mau gue bantah, omongannya bener, nggak gue bantah rasanya juga berat, kaya nyusahin banget punya istri kamu gue, belum apa-apa aja, keluar biayanya udah banyak banget, itu beli rumah pasti udah sekalian sama isinya.

"Satu lagi." Belum selesai ternyata.

"Kali ini apa?" Apa lagi yang harus gue dengar dari mulut Bang Lian subuh-subuh begini?

"Rumah baru kita, Abang beli atas nama kamu." Hah?

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang