(4)

5.5K 458 22
                                        

Mengikuti langkah Bang Lian dengan pemikiran kacau, gue narik paksa lengan gue dari genggamannya karena terlanjur kesal, lebih tepatnya gue marah sekarang.

"Sekarang jelasin!" Nada bicara gue sedikit meninggi, gue marah tapi gue sadar siapa yang berdiri dihadapan gue sekarang.

"Abang juga nggak tahu kenapa jadinya kaya gini, Abang udah jelasin semuanya sama kamu tadi pagikan? Abang jujur semuanya sama kamu." Jelas Bang Lian yang membuat gue tersenyum sinis.

"Jujur? Semuanya? Abang yakin? Terus yang katanya Abang udah tahu soal perjodohan keluarga kita kenapa nggak pernah ngomong sama aku? Adanya Abang cerita? Kagak." Apa-apaan tetiba ada perjodohan kaya gini? Ini udah tahun 2025.

"Abang tahu Abang salah tentang satu hal itu, Abang pikir kalau waktunya tepat, Abang akan datang melamar tapi sekarang malah kaya gini." Desahan berat Bang Lian masih gue dengarkan.

"Malah kaya gini? Salah siapa ini berakhir kaya sekarang? Salah Abang."

"Sekarang aku tanya, apa ini alasan Abang nggak pernah jujur ke Kak Gea? Itu karena Abang udah yakin kalau perjodohan keluarga tetap harus berlangsung? Abang yakin kalau Kak Gea nggak akan nolak, wah kocak." Gue berasa ditipu abis-abisan, gue seakan nggak kenal lagi siapa laki-laki yang berdiri dihadapan gue sekarang.

"Abang akui kalau Abang salah, Abang sama sekali nggak mikir kalau Gea udah cerita lebih dulu ke orang tua kalian kalau Dimas ngelamar, Abang pikir, Abang masih punya kesempatan." Jelas Bang Lian menatap gue penuh rasa bersalah.

"Wah, wah ternyata gua salah menilai orang." Gumam gue nggak habis pikir.

"Oke apapun alasannya terserah, aku udah nggak peduli, yang aku mau sekarang Abang jelasin ke orang tua kita kalau perjodohan itu udah nggak mungkin." Nggak ada cerita gue dijodohin, gue mau cari calon suami sendiri.

"Kenapa diem? Aku butuh solusi Bang." Malah bengong.

"Batalin perjodohannya itu nggak mungkin, kamu juga lihat sendiri gimana reaksi keluarga kitakan?" Kesannya kenapa pasrah begitu?

"Abang nggak beneran mikir perjodohannya bisa dilanjutinkan?" Jangan mengada-ngada, gue belum sebodoh itu untuk terjun bebas walau udah ada dihujung jurang sekalipun.

"Ya gimana cara nolaknya? Janji tetap janji, kamu nggak denger kalimatnya tadi?" Ck.

"Lah terus aku gimana? Kudu nikah sama Abang ngegantiin Kak Gea gitu? Ogah, aku nggak mau." Gue bahkan natap muka Bang Lian membayangkan dia jadi suami gue untuk sesaat, nggak bisa, gue nggak bisa ngasih posisi suami untuk Bang Lian dalam hidup gue, posisinya sekarang udah sangat jelas, Abang, Abang Ipar atau anak sahabat Ayah sama Bunda.

"Kamu pikir Abang mau?" Heh? Bagus kalau memang nggak mau, itu artinya Bang Lian masih waras.

"Adanya aku peduli? Pokoknya aku nggak mau dijodohin, titik, masih kuliah gini, mana ada ceritanya nikah, calon suaminya modelan Abang lagi, nyusahin."

"Kamu juga sama nyusahinnya, tolong sadar diri, Bia."

"Ah terserah, aish, kirain bakalan happy ending tahunya malah kaset rusak." Gue udah nggak bisa mikir.

Karena nggak ada respon apapun lagi dari Bang Lian, gue balik nemuin Ayah sama Bunda untuk nolak perjodohan, gue beneran nggak mau.

"Udah kalian bicarainkan? Kita tinggal tentuin tanggal pernikahannya." Belum juga gue ngomong, Ayah udah ngomong lebih dulu.

"Ayah, Bia nggak bisa nikah sama Bang Lian, aku masih kuliah, aku belum mau nikah." Alasannya udah sangat bagus menurut gue.

"Nggak ada larangannya mahasiswi menikah, Ayah juga nikah sama Bunda pas Bunda baru lulus SMA." Bengong dong gue, berasa langsung zonk, disamain lagi, dari sudut ruangan, Bang Lian juga terlihat menahan tawa kecil mendengarkan jawaban Ayah barusan.

"Tapi itukan Bunda, bukan aku." Sabar Bia, sabar, sama orang tua nggak boleh emosi.

"Bia, kalau memang alasan kamu menolak karena takut nggak bisa kuliah setelah menikah nanti, kamu tenang aja, nanti biar Tante yang ngomong ke Bang Ian supaya nggak macem-macem sama kamu dulu." Sambung Mamanya Bang Lian, bukan cuma gue yang kehabisan kata, Bang Lian bahkan langsung keselek angin.

"Ma!"

"Apa Ian? Mama benerkan? Yang pasti, pernikahannya tetap jadi, inget umur Bang, kamu udah nggak muda lagi, tahun depan kamu udah 25 tahun." Wah, itu tua dari segimananya?

Gue maunya nikah sama Om Om ganteng, umur 30 deh minimal, lah ini apaan?

"Pokoknya kalian tahu beres, nggak usah pusing-pusing, biar Mama sama Bunda kalian yang urus semua." Ya Allah, susah banget dikasih tahu.

"Ini Kak Gea kemana?" Gue mengalihkan pembicaraan.

"Kakak kamu udah masuk ke kamar, kurang enak badan katanya." Jawab Bunda, itu mah bukan nggak enak badan tapi nggak enak hati lebih tepatnya.

_______

"Udah denger sendirikan? Nolak udah nggak mungkin." Bang Lian kembali mengeluarkan suara setelah hening lama, orang tua kita udah pada sibuk ngerencanain pernikahan sedangkan gue sama Bang Lian duduk terpaku dengan beban pemikiran masing-masing.

"Tapi nikah itu bukan main-main Bang, berat itu tanggungjawabnya, aku belum siap, beneran." Gue belum mau nikah.

"Abang nggak akan nuntut apapun, apa itu bisa ngurangin beban pikiran kamu?" Beban gue bukan cuma tentang Bang Lian, beban gue termasuk Kak Gea, gue nggak bisa nikah sama laki-laki yang dicintai Kakak gue sendiri.

"Bang! Memangnya Abang bisa nikah sama aku?" Tanya gue mencoba lebih tenang.

Lama gue nunggu tapi nggak ada jawaban, gue udah bisa nebak, Bang Lian juga nggak berniat untuk beneran nikah sama gue, keluarga yang memaksa.

"Paling nggak sekarang ini kamu bukan milik siapapun, kamu nggak terikat dengan laki-laki manapun." Gue hampir aja melayangkan tamparan kalau nggak gue sabar-sabarin, gila jawabannya.

"Abang setuju karena mikir aku bukan milik siapapun, nggak ada laki-laki manapun, terus gimana sama perasaan aku?" Perasaan gue siapa peduli?

"Maksud kamu?"

"Abang pernah mikirin posisi aku nggak? Gimana bisa aku nikah dengan laki-laki yang cintanya tertaut untuk perempuan lain, perempuan lain itu kakak aku sendiri, parahnya Kakak aku juga cinta, Abang mikir gini nggak?" Masalahnya sulit.

"Gea juga akan menikah dengan laki-laki lain."

"Terus kalau Kak Gea nikah sama orang lain, apa perasaan Abang bisa berubah gitu aja? Yang Abang cinta itu Kak Gea, bukan aku." Ini aja udah sangat jelas.

"Aku nggak mau jadi pengganti Kak Gea, apa nggak cukup dengan dipaksa menikah? Apa aku harus menjadi pengganti perempuan lain?" Gue sedikit terbata dengan kalimat yang gue keluarkan barusan.

"Kamu nggak akan jadi pengganti siapapun, kamu tetap kamu, Gea bukan kamu dan kamu juga bukan Gea, Abang harus menikahi kamu, yang akan jadi istri Abang nanti juga kamu, bukan perempuan lain, Bia."

"Mulutmu Bang, pinter ngomong manis doang." Gue nggak habis pikir.

"Manis? Memang pernah kamu cobain?"

"Uhukk, Abang kenapa jadi beneran gila kaya gini?"

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang