(10)

4.1K 363 27
                                        

"Ini gue kan lagi makan tapi Ian, lo memang udah yakin untuk nyerah sekarang?" Kak Gea bertanya dengan tatapan penuh harap, gue juga nunggu jawaban Bang Lian.

"Ini kesempatan Abang untuk jujur." Cicit gue narik lengan Bang Lian pelan, kalau mau berubah pikiran, belum telat.

"Lo berharap gue ngasih jawaban apa? Lo sendiri udah milihkan? Ya terus gue mau ngapain lagi? Terus berharap dan nunggu lo berbalik arah kaya orang bego?" Dan akhirnya Bang Lian berani ngomong begini.

"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti." Kak Gea terlihat kaget tapi masa iya nggak paham, gue aja paham.

"Lo tahu maksud gue apa, lo tahu yang gue maksud itu siapa." Harusnya kaya gini dari awal.

"Lo tahu gue suka sama lo udah lama tapi lo dengan santainya gonta ganti pacar di depan gue, 8 tahun Ge, lo anggap gue apa sebenernya?" Sambung Bang Lian yang masih gue dengarkan.

"Lo nggak pernah ngungkapin perasaan lo sama gue jadi perasaan apa yang harus gue terima?" Nahkan, bener kata gue, Kak Gea juga suka.

"Oke salah gue yang selalu kehilangan kesempatan untuk jujur tapi gimana sama lo? Lo udah tahu lama tentang perasaan gue, lo tahu tapi lo masih bisa pacaran bahkan nerima lamaran laki-laki lain."

"Gue perempuan Ian, gimana bisa gue ngomong duluan?" Heh? Jawaban apaan begini? Gue pas ngungkapin perasaan ke Mas Azan waktu itu ugal-ugalan, gue perempuan jugakan?

"Gue nggak akan mempermasalahkan kenapa kita nggak jujur tentang perasaan masing-masing tapi yang bikin gue nggak ngerti, kenapa lo bisa pacaran sama orang lain kalau memang lo juga suka sama gue?" Tanya Bang Lian lagi, bener sih, kalau memang sama-sama suka, walaupun nggak sampai jadian paling nggak bertahan dengan kesendirian aja.

"Lo pikir kenapa selama ini gue masih tetap sendiri? Itu karena gue menghargai perasaan gue, gue menghargai rasa suka yang lo maksud itu tapi sorry Ge, gue nggak bisa terima dengan cara lo nerima lamaran laki-laki lain."

"Lian, gue nggak bermaksud, gue cuma mau lo_"

"Lo nerima lamaran laki-laki lain saat tahu diantara kita ada janji perjodohan dari keluarga, lo anggap gue apa Gea?" Nada bicara Bang Lian meninggi.

Bukan cuma Kak Gea yang kaget, gue jauh lebih kaget lagi, jadi ternyata Kak Gea juga tahu tentang perjodohannya? Pantesan Bang Lian sekecewa ini.

"Setelah tahu tentang perjodohan keluarga kita, gue pikir lo akan berhenti bersikap acuh tapi ternyata gue salah, lo malah nerima lamaran laki-laki lain seakan nggak pernah ingat kehadiran gue." Gue makin nggak percaya kalau Bang Lian bisa sesabar itu.

"Gue perempuan dan gue butuh kepastian." Ck, klasik banget.

"Perjodohan keluarga kita apa bukan kepastian untuk lo? Cukup Ge, lo udah milih jadi sekarang biarin gue milih yang terbaik untuk diri gue sendiri juga." Mata Kak Gea langsung berkaca-kaca.

"Gue minta maaf." Cicit Kak Gea mencoba menggenggam tangan Bang Lian.

"Nggak perlu, gue sadar kalau gue juga punya salah." Bang Lian narik tangannya.

"Kita masih bisa bicarain semuanya, nggak_"

"Nggak ada yang perlu dibicarain lagi, gue ngomong kaya gini bukan untuk bikin lo berubah pikiran tapi gue mau Bia yang berubah pikiran, gue nggak mau Bia hidup sama gue dalam keadaan penuh rasa bersalah."

"Bang!" Gue natap Bang Lian khawatir sekaligus nggak tega sama Kak Gea.

"Ini cara Abang meyakinkan kamu." Terdengar menenangkan untuk gue tapi malah menyakitkan untuk Kak Gea.

"Jadi gue minta tolong, gimanapun akhirnya, gue akan tetap menganggap lo sahabat tapi gue nggak akan bisa memperlakukan lo kaya dulu lagi, jangan bersikap kekanakan dengan terus nuntut banyak hal dari gue, gue bukan milik lo lagi, Ge." Apa ini akhirnya?

"Dari awal memang bukan." Bang Lian terlihat menatap Kak Gea lama.

"Bukannya yang mau lo lamar itu gue?" Gue kira semuanya beres tapi pertanyaan Kak Gea malah seakan ngasih bahan baru untuk ribut.

"Lamaran apaan lagi? Bukannya lo udah nerima laki-laki lain, lo mau gue terus berharap atau gimana? Gue juga cape, jadi lebih baik sekarang kita fokus dengan hidup masing-masing."

"Tapi_"

"Nggak ada tapi, gue udah berusaha dan gue udah nggak punya penyesalan apapun." Potong Bang Lian lagi.

"Kenapa harus sama Bia? Banyak perempuan lain di luar sana, kenapa harus adik kandung gue?" Tanya Kak Gea belum menyerah.

"Jangan bilang sama gue kalau lo nggak pernah mempertimbangkan kemungkinan gue nikah sama Bia, ini perjodohan keluarga Ge, kalau bukan sama lo, itu artinya sama Bia, dari dulu kemungkinan ini ada."

Gue diam mendengarkan dan sama sekali nggak bisa berkomentar apapun, banyak hal yang baru gue tahu, soal Kak Gea yang juga tahu soal perjodohan, soal pemikiran Bang Lian yang membahas soal kemungkinan nikah sama gue, semuanya beneran info dadakan.

"Setelah hari ini, gue harap lo paham situasinya, gimanapun lo tetap akan jadi keluarga gue jadi gue nggak mau Bia terus ngerasa canggung, gue nggak mau Bia tertebani dengan alasan yang udah nggak penting lagi."

"Tapi gimana sama perasaan kita berdua?"

"Perasaan? Udah gue relakan." Bang Lian terdengar tegas.

"Gue udah merelakan perasaan gue untuk lo, yang harus gue pentingkan sekarang itu perasaan calon istri gue." Dan hening.

_______

"Abang mau bicara sebentar." Bang Lian nahan lengan gue, Kak Gea yang ikut mendengarkan menatap ke arah gue datar, Kak Gea langsung turun tanpa sepatah katapun lagi.

"Kenapa?" Tanya gue begitu Kak Gea masuk ke rumah.

"Abang minta maaf, Dek." Heh? Dek? Gebrakan apalagi sekarang?

"Heumm, untuk apa? Abang kebanyakan minta maaf hari ini." Banyak banget malah, gue sampai nggak ngerti lagi Bang Lian minta maaf untuk apa.

Awalnya gue memang sedikit kesal dengan sikap Bang Lian yang nggak pernah mau jujur tentang perasaannya ke Kak Gea tapi setelah denger semuanya tadi, pendapat gue berubah, Bang Lian melakukan usaha terbaik untuk bertahan tapi memang kesempatannya yang nggak ada.

"Ada sikap Abang yang nyakitin hati kamu hari ini, Abang minta maaf untuk semuanya, Abang lagi nyoba memperbaiki semuanya jadi tolong, jangan terus meragu."

"Bantu Abang melupakan Gea, kasih Abang kesempatan untuk belajar mencintai kamu." Kenapa harus gue?

"Kenapa diem? Bisakan, Dek?"

"Kenapa harus aku? Abang yang bilangkan, Abang itu laki-laki, jadi kalau memang bukan itu yang Abang mau, nggak ada yang bisa maksain." Nggak salahkan kalau gue nanya kaya gini?

"Dari awal Abang nggak pernah membayangkan akan menikahi perempuan lain lagi, mungkin ini bakalan nyakitin hati kamu lagi tapi bagi Abang, kalau bukan sama Gea, itu artinya harus sama kamu." Kenyataan memang selalu sakit.

"Kalau aku nolak lamarannya, Abang bakalan gimana?"

"Abang nggak akan nikah untuk seumur hidup mungkin." Gue tersenyum kecil, pinter banget ngomongnya.

"Akhirnya, senyum kaya gini yang mau terus Abang liat, jadi gimana? Kamu setuju? Kasih Abang kesempatan."

"Dek! Coba kamu pikir, orang yang baru kenal aja bisa jatuh cinta, masa kita yang udah kenal lama nggak bisa."

"Drama itu Bang, drama, di dunia nyata sulit bah." Gue belum pernah ngeliat orang yang jatuh cinta setelah menikah.

"Nggak ada yang nggak mungkin, kamu juga bisa belajar untuk cinta sama Abang." Lah gue juga disuruh usaha.

"Gimana?"

"Heummm, iya tapi tembok hatinya Abang tinggi banget, susah manjatnya."

"Tenang, Abang cariin tangga darurat, gampang."

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang