"Dan bukanlah cinta, bila tidak sepenuh hati." Gue nggak akan pernah lupa dengan kalimat Bang Lian yang ini.
Gimana bisa gue lupa, kalimat inilah yang membuat gue ikhlas melepaskan lelaki yang udah gue kejar lebih dari 5 tahun lamanya, gue pikir bertahan dan terus ada akan membuat dia berbalik arah tapi gue salah.
Mau berapa lamapun gue nunggu, dia nggak akan pernah berbalik arah kalau memang bukan gue yang dia mau, lama gue menunggu berhasil mengubah rasa cinta gue menjadi rasa lelah, gue muak dengan cara dia memperlakukan gue selama ini.
Mungkin gue memang belum secinta itu sampai bisa menunggu sepenuh hati, gue berada di titik lelah dan memilih menyerah, baiknya adalah, kalimat Bang Lian mempercepat kesadaran gue saat itu, gue mengakhiri dan melangkah pergi tanpa sesal.
"Woi Abang yang galau kenapa malah kamu yang bengong? Masih mikirin tu orang lagi?" Kali ini Bang Lian nepuk lengan gue pelan, sadar kalau gue berlarut untuk sesaat, gue tertawa getir menatap Bang Lian.
"Dipikirin juga udah nggak guna, Bang! Semuanya udah lewat dan aku udah nggak punya penyesalan apapun."
"Laki-laki baik nggak akan ngegantungin perempuan sampai bertahun-tahun kaya gitu, Bia." Gue mengangguk cepat, karena gue udah paham makanya gue melangkah mundur.
"Karena aku sadar dia nggak akan pernah berbalik arah, biar aku yang berbalik arah dan melangkah pergi menjauh." Cinta harus dua arah, bukan terus mengikuti tanpa tahu tujuan pastinya apa.
"Kalau laki-laki baik nggak ngegantungin, terus Abang apa? Bukannya Abang juga ngegantungin Kak Gea? Berarti Abang juga bukan laki-laki baik." Ceplos gue nggak merasa bersalah sama sekali, ya memang gue nggak salah, kan gue ngomong jujur.
"Abang memang bukan laki-laki yang baik untuk Gea tapi setidaknya Abang berhasil jadi Abang yang baik untuk kamu." Beuh kagak nyambung banget jawabannya.
"Abang sakit kayanya, udah istirahat sana, aku juga mau tidur, pokoknya aku udah ingetin, nggak ada salahnya Abang jujur ke Kak Gea, walaupun belum pasti diterima tapi setidaknya Abang udah mendapatkan kepastian, kepastian untuk terus menunggu atau berbalik arah dan melangkah mundur kaya aku." Gue nepuk lengan Bang Lian keras dan berjalan masuk ke kamar, gue beneran butuh tidur.
.
"Bi! Bia!" Panggil Bang Lian dari depan pintu kamar.
"Iya! Masuk aja, pintunya nggak dikunci." Teriak gue dari dalam kamar, beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka.
"Heumm apa?" Gue melirik ke arah Bang Lian yang berdiri di ambang pintu.
"Abang mau keluar cari makan, kamu mau ikut nggak?"
"Makan? Memangnya Bi Sari nggak masak? Kak Gea gimana? Belum pulangkah?" Gue masih belum berniat keluar.
"Bi Sari masak tapi Abang mau makan diluar, Gea pulangnya bentar lagi, kamu mau ikut nggak?" Gue terdiam sembari menimbang, bukan ajakan Bang Lian yang gue pertimbangkan tapi ekspresi Bang Lian sekarang yang jauh bikin khawatir, kegalauannya berlanjut ternyata.
"Yaudah aku ikut, tunggu bentar." Ikut aja deh dari pada ni orang galau sendirian, makin kasian jadinya.
"Abang tunggu di bawah, jangan lama." Gue mengacungkan jempol cepat dan Bang Lian nutup pintu kamar gue lagi.
Beberes kilat, gue turun ke bawah dan ternyata Bang Lian bukannya nunggu di depan tapi nunggu diatas motornya.
"Bang! Ini seriusan mau naik motor malam-malam begini?" Tanya gue nggak yakin, yang bener aja.
"Jadi ikut atau enggak? Kalau enggak, Abang tinggal ni." Haduh, udahlah nggak usah gue perpanjang kalau udah begini, dengan helaan nafas terdengar jelas, Bang Lian ngasih gue helm dan naik motornya dalam diam, nggak gue protes lagi.
"Kita mau makan dimana memangnya?" Tanya gue karena kelamaan hening juga nggak baik, takut gue Bang Lian gilanya kumat di tengah jalan.
"Kamu mau makan apa?" Lah kok gue? Yang ngajak tadi juga siapa?
"Abang yang ngajakkan? Kenapa nanya aku?" Tanya gue balik, gue cuma mau nemenin bukan mau pusing nyari tempat makan.
"Kalau nggak tahu mau makan dimana, yaudah kita pulang makan di rumah aja." Reflek gue ngedeplak helm Bang Lian, kan kan kan gilanya kumat.
"Kalau ujung-ujungnya makan di rumah, ngapain Abang ngajak keluar gila? Mending di rumah dari tadi." Keluh gue ngegas.
"Kamu ngatain Abang gila?"
"Nggak? Abang nggak gila, stress lebih tepatnya." Lama-lama gue ikutan stress kalau begini ceritanya.
"Yaudah kita makan di tempat biasa aja." Nggak merespon lebih banyak, Bang Lian mengiakan dan kita berdua meluncur kesana, tempat makannya dekat kampus gue juga.
"Turun!" Satu kata dari Bang Lian yang membuat gue kembali menghela nafas dalam.
"Lah ini kan lagi turun Abang, bukan tidurnya aku disini, nggak mungkin tidur dong, nggak mungkin." Ya Allah, kuat-kuatin ngadepin yang modelan begini.
Narik lengan Bang Lian masuk, gue yang mesenin semua dan Bang Lian mulai menyuap beberapa makanannya dengan sangat tidak semangat, tidak berselera sama sekali, padahal kalau moodnya lagi bagus, pasti bakalan nambah itu.
"Abang khawatir sama Kak Gea kan?" Gue yang mulai buka obrolan, siapa tahu setelah ngomong sama gue, perasaannya bisa sedikit membaik.
"Abang masih ngerasa kalau Dimas bukan yang terbaik." Dalam hati gue juga mengiakan ucapan Bang Lian barusan, kelakuan pacarnya Kak Gea memang rada-rada.
"Abang jangan khawatir, Kak Gea udah di rumah kok, aku udah dapat pesan chat dari Kak Gea, dia nanya kita dimana, kenapa rumah sepi?" Itu artinya Kak Gea udah dirumakan?
"Yaudah kalau gitu buruan abisin makanannya, kita pulang sekarang." Ajak Bang Lian nggak liat siatuasi, makanannya gue masih banyak woi.
"Bang! Abang makan aja baru beberapa suap, okelah kalau Abang udah kenyang dadakan, tapi pengertian dikit sama aku bisakan? Aku laper." Capek ngurusin drama percintaan mereka.
"Makanya makan cepetan, sini Abang suapin sekalian biar lebih cepet lagi." Gue kehabisan kata beneran, Bang Lian bisa segila ini ternyata.
Lelah berdebat, akhirnya tetap Bang Lian yang menang, belum juga itu makan habis, gue udah di seret keluar dan sekarang gue udah berdiri natap Bang Lian kesal.
"Jaket kamu mana?" Tanya Bang Lian sembari membantu gue pakai helm.
"Mana ada jaket, Abang baru sadar sekarang?" Cinta memang buta, gue udah kedinginan dari tadi ni orang nggak sadar.
"Pakai punya Abang " Menghela nafas dalam, Bang Lian melepaskan jaketnya dan ngasih untuk gue, apa bakalan gue tolak? Ya enggaklah, beneran dingin soalnya.
Duduk tenang, gue nggak banyak bicara karena yakin kalau perasaan Bang Lian jauh lebih baik dan itu terbukti, kita berdua sampai di rumah dengan selamat, Bang Lian masuk dengan sedikit terburu-buru ninggalin gue lebih dulu malah, dasar.
"Lian gue seneng banget." Terdengar jelas suara Kak Gea yang kegirangan, gue melangkah masuk dan mendapati Kak Gea udah meluk Bang Lian erat.
Gue ikut tersenyum kecil, aslinya mereka berdua itu keliatan sama-sama suka cuma yang satu nggak mau ngungkapin karena takut di tolak, yang satunya gengsi ngomong lebih dulu.
"Lo kenapa?" Tanya Bang Lian yang terlihat ikut membalas pelukan Kak Gea bahagia.
"Dimas ngelamar gue." Dan deg, seketika Bang Lian mengkaku di tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romansa"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
