(14)

3.7K 323 22
                                        

"Jadi Abang udah nggak marahkan?" Tanya gue memastikan.

"Masih." Lah, kok masih? Kan gue udah minta maaf.

"Kan aku udah minta maaf."

"Minta maaf wajib, ngasih maaf tergantung usaha." Adanya yang modelan begini.

"Ya terus?" Gue harus apa supaya dimaafin lahir dan bathin?

Gue masih nunggu jawaban dan begitu senyum Bang Lian terlihat sambilan nunjuk pipinya, permintaannya terlihat jelas.

"Wah berani sekali kamu." Gue udah nepuk tangan salut.

"Mau dimaafin nggak? Lagi Abang kasih peluang ni, kalau nggak ya nggak papa, biar Abang duluan." Heh tiba-tiba aja Bang Lian narik lengan gue untuk duduk dipangkuannya terus ngecup pipi gue tiba-tiba juga.

"Abang maafin tapi nggak ada lain kali, tadi terakhir kalinya." Gue mengangguk cepat.

________

"Abang! Bangun, subuh subuh." Gue nepuk lengan Bang Lian pelan tapi yang di bangunin kagak ada pergerakan, apa gue harus pakai cara biasa?

"Fuhhhh." Gue niup kening Bang Lian beberapa kali dan orangnya langsung bereaksi.

"Ayo bangun dulu, aku mau sholat bareng Abang." Ucap gue pelan, Bang Lian tersenyum kecil masih dengan mata terpenjam.

"Malah senyum, ayo bangun, fuhh fuh." Gue tiup lagi nih.

"Kalau kamu mau kuliah kamu lancar sampai diwisuda, segera cari cara lain untuk bangunin Abang." Bang Lian bangkit sembari mengusap kepala gue sebentar.

"Maksudnya apa coba?" Ngelanturkah karena baru bangun? Kesadarannya belum terkumpul atau gimana?

"Yaudah geser, mau sholat sama-samakan? Udah wudu belum?" Bang Lian bangkit dari ranjang.

"Tadi udah tapi kudu wudu lagi, Abang kaya giniin kan barusan." Jawab gue mengusap kepala gue sendiri, batal wudu gue.

"Yaudah ayo bareng." Bang Lian mengulurkan tangannya.

"Jangan aneh-aneh ya, udah sana duluan." Gue nepuk uluran tangan Bang Lian dan mendorong tubuh Bang Lian masuk ke kamar mandi lebih dulu.

Setelah mutusin untuk mempertahankan Bang Lian, gue juga mulai lebih berani, salah satu hal yang gue lakuin sekarang menghabiskan list keinginan yang mau gue lakuin bareng suami gue, keinginan pertama adalah sholat sama-sama.

______

"Abang!" Panggil gue biasa.

"Apa sayang?" Jawabannya malah luar biasa, gue nggak bisa buat nggak senyum, ini pertama kalinya Bang Lian manggil gue kaya gitu.

"Kenapa?" Tanya Bang Lian ulang.

"Abang belum masuk kantorkan? Masih cutikan?" Gue memastikan, anggukan Bang Lian gue balas dengan senyuman.

"Kalau gitu nanti kita pulang ke rumah Ayah sama Bunda bentar, aku mau ngambil barang soalnya, masa harus pakai baju Abang terus." Barang gue masih di rumah semua, perlengkapan gue banyak, nggak cuma baju sama celana doang.

"Memang kalau pakai punya Abang kenapa? Abang nggak masalah, tetap cantik." Lah, bukan itu intinya.

"Terus dalamannya kudu pakai punya Abang juga? Aga-aga ya." Wajah panik Bang Lian terlihat jelas, masa harus gue jelasin serinci ini dulu baru paham? Dasar.

"Yaudah nanti kita kesana." Nah kalau dari tadi kaya ginikan enak.

"Terus itu kamu mau kemana?" Gue udah rapi dengan pakaian gue semalam.

"Turun ke bawah mau bantuin Tante nyiapin sarapan." Masa iya hari pertama nginep sebagai menantu udah bangun kesiangan.

"Hei, siapa itu Tante?"

"Hehe Mama maksudnya."

"Tapi Mama jarang nyiapin sarapan, kan ada Bi Sari, lagian Abang sama Papa jarang sarapan di rumah, nggak perlu repot-repot." Bang Lian menjelaskan, pantesan setiap kali gue sama Kak Gea nginep, cuma kita doang yang sarapan, paling ditemenin sama Mama.

"Jadi Abang ke kantor nggak sarapan dulu?" Pertanyaan gue yang diangguki.

"Tapi aku tipe yang harus sarapan, gimana tu? Nggak mau makan sendiri juga, maunya ditemenin." Gue masih ingat dengan lambung, ngelewatin sarapan itu artinya kepala pening menjelang siang karena telat makan.

"Yaudah nanti ditemenin Mama." Masa ditemenin Mama, ya nggak papa juga tapi tetap aja sesekali maunya sama suami.

"Maunya ditemenin Abang, gimana?" Bang Lian yang awalnya masih sibuk dengan beberapa berkas ditangannya langsung beralih menatap gue lama.

"Kenapa natap aku kaya gitu?" Ada yang anehkah?

"Abang baru tahu kalau kamu punya sisi kaya gini."

"Ya memang begini? Kenapa? Nyesel? Sayang, udah telat, Abang udah nggak bisa mundur." Kalau udah gue genggam, nggak akan gue lepas, Bang Lian yang udah milih nyerahin diri ke gue jadi jangan coba-coba buat lari.

"Nggak ada juga yang mau mundur, kita trobos." Ahaha, pembicaraannya berakhir dengan ketawa kita berdua.

Membiarkan Bang Lian melanjutkan kegiatannya, gue tetap turun ke bawah dan bener aja, cuma Bi Sari yang di dapur, Mama masih di kamar kayanya.

"Mau sarapan sekarang Mbak?" Tawar Bi Sari yang gue angguki, cuma begitu Bi Sari mau nyiapin, gue milih untuk nyiapin sarapannya sendiri, nggak harus repot, roti sama telur aja cukup, gue bikin dan gue bawa ke kamar, ngapain juga makan sendirian.

"Abang! Ayo sarapan." Ajak gue yang diangguki Bang Lian.

"Kamu mulai kuliah kapan?" Bang Lian mulai menyuap makanannya.

"Lusa, kenapa?" Gue memang cuti seminggu, walaupun katanya semua di urus Ayah sama Bunda, gue juga butuh persiapan, persiapan mental lebih tepatnya.

"Nggak papa, Abang tanya supaya bisa ngantur waktu biar sempet nganterin kamu dulu sebelum berangkat ke kantor." Heum gue mengiakan.

"Oke."

"Satu lagi, lain kali siapin susu sama makanannya untuk kamu aja, Abang cukup buatin kopi, sayang kalau kebanyakan." Beneran nggak bisa diajak sarapan kayanya tapi nggak papa, yang penting di temenin makanannya.

"Heumm oke." Gue iyain tapi muka lumayan datar.

"Makannya sepiring berdua aja sayang jadi nggak usah pasang wajah cemberut begitu, udah buruan habisin sarapannya, Abang anter ke rumah Ayah sama Bunda." Bang Lian meneguk minumannya dan gue juga mulai menyuap makanan gue pelan.

Setelah selesai, gue sama Bang Lian pamit pulang, awalnya Mama sama Papa lumayan kaget begitu tahu kalau kita tidur disini tapi Bang Lian udah jelasin semuanya jadi aman-aman aja.

"Kalian hati-hati ya." Gue sama Bang Lian sepakat mengiakan, berangkat naik motor tapi suasananya nggak kaya semalam yang hening nggak karuan, kali ini lebih banyak becandanya eh tahu-tahu udah di depan rumah aja.

"Nanti di dalam, tahan emosi." Kalimat kaya gini malah bikin gue ketawa.

"Harusnya aku yang ngomong kaya gitu sama Abang, tar tahan emosi, banyakin sabar." Yang emosian bukan gue soalnya.

"Assalamualaikum." Gue masuk lebih dulu dan jujur aja, gue lumayan kaget begitu tahu kalau yang bukain pintu Kak Gea.

"Ngapain kemari? Bukannya udah kabur sekalian bawa calon suami orang?" Sapa Kak Gea menusuk.

"Heumm, ini orangnya aku bawa pulang sekalian." Jawab gue malas dan langsung narik lengan Bang Lian masuk ke kamar, wah baru beberapa menit aja udah panas gini.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang