(11)

4.3K 357 32
                                        

3 bulan kemudian.

Hampir 3 bulan berlalu, keadaan gue sama Bang Lian semakin membaik, gue mulai terbiasa dengan kehadirannya yang masuk dadakan dalam hidup gue, memang selama ini Bang Lian bukan orang lain tapi dengan status tunangan kaya sekarang, banyak hal yang berubah.

Hari pernikahan kita berdua juga semakin dekat, tinggal hitungan hari, bohong kalau gue bilang nggak ngerasain apapun, deg degan ya pasti ada, cuma Bang Lian berhasil menenangkan gue untuk kesekian kalinya.

Setelah menikah, gue masih boleh ngelakuin apapun yang gue suka asalkan itu baik, Bang Lian nggak akan maksain apapun, senyamannya gue aja dan gue bersyukur.

Semuanya berjalan baik, kekhawatiran gue sekarang cuma satu, Kak Gea, sikap Kak Gea beneran berubah, setiap kali Bang Lian dateng ke rumah, dia pasti menghindar.

'Apa keadaan kaya gini bakalan baik?' Gue bahkan terus mempertanyakan hal kaya gini ke diri gue sendiri.

"Dek! Tamu undangannya udah semuakan? Jangan ada yang ketinggalan." Bunda mengingatkan dan gue mengangguk pelan, pekara undangan harusnya udah beres.

"Nda, Kakak kemana? Aku nyariin ke kamar kok nggak ada?"

"Tadi pamitnya keluar mau ketemu Dimas, kenapa Dek?"

"Heum nggak papa, nanya aja." Jawab gue singkat, Kak Gea sama Kak Dimas juga udah tunangan kok, cuma nikahnya masih 2 bulan lagi.

"Kamu nggak berencana mau keluar nemuin Lian jugakan? Jangan macem-macem ya, Dek, hitungan hari, nanti ketemu pas hari akad aja." Entah udah berapa kali Bunda ngomong kaya gini sama gue.

"Iya Bunda, lagian siapa juga yang mau ketemu sama Abang."

"Bagus kalau kamu tahu, calon pengantin itu harus banyak-banyak istirahat, biar mukanya keliatan seger, biar makin cantik." Gue tersenyum kecil.

"Aku memang udah cantik Nda jadi tenang aja, aman." Mengakhiri obrolan sama Bunda, gue berjalan masuk ke kamar dan berdiri tepat didepan jendela menatap ke arah luar rumah, di luar lagi gerimis.

Semoga semuanya berjalan lancar seperti harapan gue sekarang.

_______

"Cantik banget." Ucap Kak Gea menatap gue yang udah selesai di dandani.

"Makasih, nanti waktu Kakak yang nikah pasti bakalan lebih cantik lagi." Gue yakin.

"Semoga ya, semoga jadi juga nikahnya." Hah? Gimana? Gue langsung kaget mendengar jawaban Kak Gea barusan, ini serius atau cuma asal jawab aja?

"Kak! Maksudnya gimana?"

"Ya nggak ada maksud apapun, semoga acara nikahannya kita berdua lancar-lancar aja." Jawaban yang makin membingungkan untuk gue, Kak Gea kenapa sebenernya?

"Udah nggak usah di pikirin, pokoknya kamu yang paling cantik hari ini." Apa gue masih bisa tersenyum sekarang?

Udah beberapa hari ini, gue memang ngerasa sikap Kak Gea aneh, dia selalu terkesan memaksakan senyuman, awalnya gue pikir, ah mungkin karena Kak Gea belum bisa bener-bener melepaskan Bang Lian tapi kalau sikapnya begini, gimana gue bisa tenang?

"Kak! Kalau aku punya salah, maafin ya." Gue mengulurkan tangan gue meminta Kak Gea mendekat, gue sama Kak Gea cuma berdua, gue nggak mau berantem apalagi ribut-ribut, gue mencoba menjaga hati Kakak gue juga.

"Memang kamu salah apa?" Tanya Kak Gea balik, gue terdiam memikirkan.

"Untuk apapun itu, asalkan Kakak bisa ikut bahagia hari ini." Gue juga mau Kak Gea ikut bahagia dihari bahagia gue.

"Kamu mau Kakak bahagia? Bisa aja, batalin pernikahan kamu atau mau tukaran calon suami?" Kak Gea tertawa lepas memberikannya jawabannya.

"Kenapa? Katanya kamu mau Kakak bahagia." Gue memang mau Kakak bahagia tapi nggak dengan cara kaya gini, gue malah nggak bisa tertawa sama sekali sekarang.

"Becanda, serius banget, Dek." Kak Gea nepuk pelan bahu gue tapi gue udah beneran nggak bisa senyum sama sekali, gue tahu mana yang becanda dan mana yang bukan, Kak Gea serius dengan ucapannya tadi.

"Kak! Kakak mungkin sakit tapi aku nggak pernah ngerebut apapun atau siapapun, Kakak yang lebih dulu memilih jadi jangan bersikap kaya gini." Jangan bersikap seolah dia yang paling tersakiti, jangan membuat gue hidup dalam rasa bersalah, gue nggak ngelakuin kesalahan apapun.

"Ck! Udah ngerasa hebat kamu karena mikir bisa nikah sama Lian, inget ya, yang Lian mau itu Kakak, bukan kamu, yang Lian cinta itu Kakak, bukan kamu, kamu itu cuma pengganti, nggak usah bersikap seolah kamu lebih bagus, munafik banget." Dan Kak Gea keluar gitu aja.

Ini adalah pertama kalinya gue mendengar kalimat menyakitkan kaya gini keluar dari mulut Kakak gue sendiri, bohong kalau gue nggak sakit hati tapi gue nggak mau nambah masalah, gue nggak mau nambah masalah tapi raut wajah gue juga nggak tertolong.

"Dek! Kamu kenapa?" Kali ini Bunda yang masuk.

"Nda, Bang Lian udah dateng belum?" Tanya gue mulai tercekat, gue butuh Bang Lian sekarang.

"Lian udah di bawah, Bunda naik memang mau ngajak kamu turun, kenapa Dek? Jangan bikin Bunda khawatir." Tanya Bunda seolah sadar kalau ada yang salah dengan gue.

"Nda, boleh minta tolong panggilin Bang Lian dulu nggak? Tolong Nda, Bia mohon." Gue nggak bisa nikah dengan perasaan kacau kaya gini.

"Tapi, Dek __"

"Tolong Bunda." Gue memohon sekarang.

"Sebentar Bunda panggilin." Masih dengan raut wajah khawatir, Bunda bergegas turun dan nggak lama, Bang Lian muncul dengan raut wajah sama khawatirnya.

"Hei, kenapa?" Bang Lian langsung berlutut dihadapan gue.

"Aku nggak ngerebut Abang dari siapapunkan? Bang! Kak Gea belum bisa lupa, aku_"

"Abang yang milih kamu jadi kamu nggak ngerebut siapapun, Abang milik kamu." Bang Lian ikut menggenggam tangan gue yang mulai bergetar, berkali-kali Bang Lian meyakinkan gue hal ini tapi kalimat Kak Gea tadi beneran merusak semuanya.

"Gea ngomong apa sama kamu?" Tanya Bang Lian berniat bangkit tapi gue tahan.

"Wow, langsung laporan, aku benerkan? Dia ngerebut kamu dari aku, yang harusnya nikah sama kamu hari ini tu aku, kita berdua saling cinta dan udah seharusnya kita berdua bahagia." Kak Gea ikut masuk dan memperkeruh semuanya, Bang Lian bangkit mengusap kasar wajahnya.

"Lo ngomong apaan Ge? Gue rasa ucapan gue kemarin udah sangat jelas, kalau lo nggak bisa jaga sikap, bukan gue yang akan pindah kemari tapi gue akan bawa Bia keluar dari rumah." Kemarin? Mereka ngomongin apa?

"Aku udah ngaku kalau aku salah, aku nyesel, aku akan batalin pernikahan aku sama Dimas jadi kamu juga harus batalin pernikahan kamu sekarang, kita berdua masih bisa bahagia." Kak Gea bahkan maju memeluk Bang Lian yang langsung di lepas paksa saat itu juga.

"Jangan gila." Bentak Bang Lian.

"Aku memang beneran bisa gila kalau kamu tetap nikah sama Bia." Kak Gea kembali memeluk Bang Lian dan Bang Lian juga tetap melepas paksa.

"Kalau kamu nggak mau batalin pernikahannya secara baik-baik, biar aku yang batalin dengan cara aku sendiri." Kak Gea mengeluarkan pisau dari genggamannya.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang