(16)

3.7K 315 24
                                        

"Minggir, ngalangin jalan." Ucap Kak Gea yang entah sejak kapan udah ada di dekat gue sama Bang Lian, bukannya tadi Kak Gea bareng Bunda?

"Bunda mana Kak?" Tanya gue biasa, gue sangat mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin.

"Makanya kalau niatnya mau belanja sama Bunda, nggak usah berdua terus sama cowo sampe nggak tahu Bunda kemana." Jawaban sinis Kak Gea lagi-lagi membuat gue menghela nafas.

'Sabar Bia, tahan emosi.' Gue terus mengingatkan kalimat kaya gini ke diri gue sendiri.

"Lo kalau ngomong bisa baik-baik nggak? Bia nanya bukan mau malakin uang jajan sama lo." Kali ini Bang Lian buka suara.

"Gue juga ngomong sama Bia, bukan sama lo? Atau Bia udah nggak punya mulut buat ngomong sampai-sampai kudu lo yang ngasih jawaban?" Helaan nafas gue sama Bang Lian terdengar jelas, nggak usah berdebat deh sama Kak Gea, buang-buang waktu sama tenaga.

"Susah ya ngomong sama orang keras kepala, dibilangin ma_"

"Keras kepala kaya gini juga lo cintakan? Nggak usah munafik dengan nunjukin sikap sok manis sama Bia di depan gue, kita semua tahu sebenernya yang lo cinta itu siapa." Kak Gea tersenyum sinis menatap gue dan berlalu pergi gitu aja.

Mendengar kalimat terakhir Kak Gea, bohong kalau gue bilang gue nggak ngerasain apapun, yang diomongin Kak Gea seolah sindiran terang-terangan yang beneran nggak bisa gue bantah.

Kalimat Kak Gea kembali menyadarkan gue akan satu hal, mau semanis apapun sikap Bang Lian sekarang, dalam hatinya pasti masih ada Kak Gea, dia nggak akan lupa semudah itu dan sayangnya, malah gue yang lupa untuk sesaat karena terlena dengan sikap manis Bang Lian.

"Kenapa?" Tanya Bang Lian melambaikan tangannya didepan muka gue.

"Nggak papa, cuma haus aja, mau minum." Gue tersenyum kecil dan langsung berjalan lebih dulu buat nyari minum, tenggorokan gue kering mendadak.

"Lian!" Panggil seseorang yang membuat gue memberhentikan langkah, gue berbalik dan mendapati Bang Lian lagi ngomong sama seorang perempuan, keliatan akrab tapi gue nggak tahu itu siapa.

"Lagi jalan sama adik lo?" Tanya orangnya menatap ke arah gue, Bang Lian tersenyum kecil dan menggeleng cepat.

"Lo sih pindah nggak ngabarin, kenalin ini istri gue, Bia kenalin, ini Riana, temen sekelas Abang waktu SMA." Gue tersenyum kecil mengulurkan tangan lebih dulu untuk kenalan.

"Istri? Ini Bia yang itu kan Ian? Bukannya Bia udah lo anggap kaya adik sendiri? Calon adik iparkan? Selalunya lo bilang gini ke anak-anak." Dan lagi-lagi senyum gue hilang seketika.

"Jodoh nggak ada yang tahu Ri, Bia sekarang istri gue, lo sendiri sama siapa? Suami mana?" Tanya Bang Lian balik dan seakan ganti topik.

"Gue sendirian, suami gue mana mau gue ajak belanja begini, lo kaya nggak kenal Kak Ken aja." Perempuan yang baru gue tahu namanya Riana itu terus natap gue sama Bang Lian dengan senyum yang cukup cerah, orangnya keliatan sangat ramah.

"Kendra bener-bener, kulkas dua pintu lo nggak berubah kayanya."

"Hei sekarang udah empat pintu, anak gue ngikut kelakuan Bapaknya banget." Dan mereka berdua tertawa cukup lepas.

"Lain kali kita ketemu deh, kabarin aja kapan lo luang, gue tarik keluar Kak Kendra."

"Salam kenal ya, kalau Lian berulah, laporin Mamanya aja, dijamin aman." Gue ikut tertawa dan mengangguk mengiakan, beneran temen kayanya.

"Yaudah kalau gitu, gue duluan ya, salam untuk Om sama Tante." Bang Lian mengiakan.

"Lo juga, salam untuk Kendra." Dan akhirnya kita misah, setelah Kak Riana agak jauh, gue mulai menatap Bang Lian lama dengan tatapan menusuk.

"Kenapa natap Abang sampai kaya gitu? Nyeremin banget." Bang Lian yang sadar sama tatapan gue sekarang.

"Oh jadi selama ini Abang ngasih tahu temen-temen Abang itu kalau aku itu cuma adik? Calon adik ipar lebih tepatnya?" Tanya gue to the point, lagian gue nggak bakat buat basa-basi, raut wajah gue nggak bisa di ajak kompromi soalnya.

"Kamu tahu perasaan Abang selama ini jadi Abang harap kamu paham, tapi apapun semuanya cuma masa lalu." Jawaban Bang Lian terdengar jujur, masuk akal tapi sayangnya tetap nyakitin.

"Hemm, yaudah ayo jalan." Gue nggak punya alasan untuk marah, Bang Lian juga nggak salah, setidaknya Bang Lian jawab jujur, bukan cuma mau nyenengin hati gue doang, karena kalau nggak sekarang, kedepannya kalau gue ketemu sama temen Bang Lian yang lain, proses kaya gini tetap harus gue lewati jadi gue harus paham.

Dalam diam, Bang Lian berjalan menggandeng lengan gue buat nyariin Bunda, gue yakin Bang Lian sadar dengan perasaan gue sakarang tapi ngomongin hal kaya gini diluar itu nggak guna, seharusnya memang bukan masalah jadi gue abaikan sebisa mungkin.

Selama perjalanan pulang, gue lebih banyak diam dan Kak Gea juga memilih tidur, suasananya tenang banget sampai Bunda nanya sebenernya gue kenapa? Ini yang gue maksud tadi, gue bisa ngontrol kata-kata tapi raut wajah gue nggak akan mendukung.

"Nggak papa Nda, lagi capek aja." Alasan nggak berbobot yang bisa gue dapatkan tiba-tiba.

Setelah jawaban gue, Bunda juga nggak nanya banyak, cuma Bang Lian yang terus natap gue khawatir, sesekali tangannya mengusap kepala gue sembari menyunggingkan senyuman, gue harus terbiasa.

"Bunda masuk duluan." Ucap Bunda begitu kita sampai di rumah, Kak Gea yang ternyata beneran tidur juga bangun, awalnya gue mikir kalau Kak Gea pura-pura tidur tapi ternyata gue salah, muka bantal Kak Gea keliatan jelas.

Berjalan masuk ke rumah dengan langkah gontai, Kak Gea nggak sengaja nubruk pintu rumah dan di saat yang sama, Bang Lian yang berdiri di belakang Kak Gea langsung megangin lengan Kak Gea kaget, bibir sama tangan Bang Lian beneran bisa menjelaskan semuanya, bibir yang ingin nanya keadaan Kak Gea dan tangan yang dengan sigap mau meriksain keadaan Kak Gea nggak akan luput dari penglihatan gue.

"Lo jalan hati-hati, kalau ngantuk ngapain ikut segala? Nyusahin." Kalimat Bang Lian terdengar kesal tapi gue tahu, Bang Lian khawatir.

"Alasan gue ikut, lo juga tahu kenapa." Kak Gea menatap gue sama Bang Lian bergantian dan berjalan masuk ke rumah lebih dulu.

Gue yang memang menenteng beberapa belanjaan juga masuk ke rumah sembari memaksakan senyuman untuk Bang Lian, gue nggak mau suasananya jadi canggung, gue nggakk bisa marah, gue nggak bisa bersikap kaya gitukan? Alasannya jelas, karena gue tahu perasaan Bang Lian masih untuk siapa.

"Abang bantuin." Tawar Babg Lian yang gue tolak.

Mendengarkan jawaban dan penolakan gue, Bang Lian tetap ngambil paksa semua belanjaan yang ada di tangan gue dana berjalan lebih dulu ke dapur.

Menghela nafas pelan, gue mengikuti langkah Bang Lian jalan ke dapur dan ngambil satu susu kotak gue sebelum berbalik arah dan mulai menaiki tangga masuk ke kamar, gue nggak marah, gue nggak menghindar, gue cuma nggak bisa mengondisikan raut wajah gue sekarang.

Masih gue menaiki tangga dengan langkah pelan, Bang Lian berjalan cepat dibelakang dan langsung narik lengan gue masuk ke kamar.

"Kenapa?" Tanya gue nggak natap Bang Lian sama sekali.

"Abang_"

"Jangan minta maaf, Abang nggak perlu ngelakuin itu." Potong gue cepat, gue nggak mau denger permintaan maaf Bang Lian, permintaan maaf Bang Lian cuma akan memperjelas luka di hati gue.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang