"Kak! Kakak jangan nekat." Kepanikan gue berubah jadi ketakutan, gue nggak mau Kakak gue kenapa-napa.
"Apa? Lo sama aja, lo cuma mikirin diri lo sendiri." Gue diam dan tetap mengulurkan tangan meminta pisaunya, jangan nekat, bukan kaya gini jalan keluarnya.
"Batalin pernikahannya! Batalin!"
"I iya tapi jangan kaya gini!" Kalau memang terlalu berat untuk Kak Gea melangkah mundur, gue yang mundur, begitu lebih baik.
Dengan mata berkaca-kaca, gue mendekat dan ngambil pisaunya perlahan tetap aja, goresan kecil gue dapatkan, gue nggak mau memperpanjang apapun lagi.
"Bia, Abang nggak setuju." Bang Lian menatap gue nggak percaya, gue aja nggak percaya dengan pilihan gue sendiri.
"Gue nggak akan batalin pernikahannya." Kalimat Bang Lian cukup tegas.
"Kenapa? Lo nggak cinta sama Bia, kenapa nggak batalin aja? Lo itu cintanya sama gue." Kak Gea kembali berteriak, nggak lama, Ayah sama Bunda datang.
"Gea! Kamu apa-apaan?" Ayah narik lengan Kak Gea cukup kasar dan pisau ditangan Kak Gea diambil paksa, raut wajah Ayah memerah setelah mendengarkan ucapan Kak Gea.
"Aku cinta sama Lian, aku mau nikah sama Lian, biarin aku yang nikah sama Lian hari ini, tolong Yah, aku nggak bisa hidup kaya gini." Kak Gea begitu momohon, air matanya udah mengalir cukup deras.
Setelah gue pikir, omongan Kak Gea juga nggak sepenuhnya salah, Bang Lian nggak cinta sama gue, ini belum telat kalau memang mau di batalin, kalau memang keadaannya bisa berubah lebih baik, kenapa nggak diturutin aja.
Kalau dibatalin apa gue sama sekali nggak kecewa? Bohong kalau gue bilang semuanya akan baik-baik aja, 3 bulan ini, Bang Lian memperlakukan dengan sangat baik, rasa nyaman itu udah ada tapi gue belum berani bilang kalau perasaan gue sekarang adalah cinta, gue masih bisa mundur.
"Dek! Kamu baik?" Bunda nepuk lengan gue yang membuat pemikiran jauh gue kembali.
"Nda, batalin aja, lebih baik Kak Gea yang nikah sama Bang Lian, aku nggak papa." Sebisa mungkin gue mencoba untuk tidak meneteskan air mata, nggak ada gunanya juga gue nangis sekarang, yang ada cuma memperkeruh suasana.
"Bia udah setuju, biarin aku yang nikah sama Lian hari ini." Kak Gea terlihat cukup lega.
"Lo ngomong pake otak, lo pikir gue akan setuju?" Raut wajah Bang Lian nggak terbaca.
"Nggak! Nggak akan gue batalin, nggak akan." Lagi-lagi Bang Lian memperjelas penolakannya.
"Aku yang nggak setuju, apa disini nggak ada yang mau denger pendapat aku?" Bang Lian mengacak rambutnya kasar dan menatap Kak Gea penuh amarah.
"Lo mau ngelakuin apapun gue nggak peduli, lo mau ngancurin acara pernikahannya? Silahkan, mau lo ancurinkan? Sana, ancurin, atau mau gue bantuin?" Suasana yang awal mulai sedikit mereda kembali tegang setelah ucapan Bang Lian.
Setelah ucapan Bang Lian, kita semua terdiam di tempat termasuk Kak Gea, nggak ada yang berani membantah, Ayah nahan Kak Gea dan Bunda masih terus memeluk gue.
"Lo mau ngancurin semuanya? Silahkan, gue nggak peduli." Ulang Bang Lian yang membuat Kak Gea secara tiba-tiba tumbang gitu aja, dengan sigap Ayah membantu nahan Kak Gea dan gue sama Bunda balik panik.
"Ini kenapa? Penghulunya udah nunggu dibawah." Mama Bang Lian yang masuk ke kamar.
"Gea kenapa?" Tanya Mama cukup panik.
"Yah, Lian masih tetap dengan keputusan Lian barusan, Lian harap Ayah setuju." Ucap Bang Lian yang terlihat berusaha keras nahan emosinya.
Ayah menatap gue sama Kak Gea secara bergantian, gue nggak berani mengeluarkan sepatah katapun lagi, Kak Gea yang udah nggak sadarkan diri aja bikin gue kehabisan kata.
"Bunda, tolong panggilin Ali sama Dimas kemari, bantu mindahin Gea, yang lain turun duluan." Ucap Ayah yakin.
Bunda melepas pelukannya dan langsung turun manggilin Mas Ali sama Kak Dimas, Mas Ali itu sepupu gue, nggak lama mereka dateng dan mindahin Kak Gea ke kamarnya, Bunda membantu gue turun sedangkan Ayah sama Bang Lian udah duluan, orang tua Bang Lian juga udah turun dengan wajah penuh kebingungan, mungkin nanti bakalan di jelasin sama Bang Lian sendiri.
_____
"Ayah! Bunda! Lian pamit pulang dulu." Pamit Bang Lian berniat pulang, satu hal yang gue sadari, Bang Lian marah sama gue.
Gue tahu Bang Lian marah tapi gue nggak punya keberanian untuk membela diri, gue belum berani untuk mengeluarkan pembelaan melihat tatapan Bang Lian sekarang.
"Kalian hati-hati di jalan, jangan khawatir, urusan disini, biar Ayah yang urus." Jawab Ayah terlihat jauh lebih tenang tapi bentar, kalian? Kalian itu maksudnya siapa?
"Kamu tunggu apalagi, Dek? Nggak kasian sama Lian udah nunggu begitu?" Bunda nepuk lengan gue.
"Hah? Gimana? Memang aku harus ngapain Nda? Ikut nganterin maksudnya?" Gue masih bingung.
"Ikut nganterin? Ya ikut pulang bareng Lian, ikut suami."
"Heh?" Kenapa dadakan jadi begini? Kan katanya gue masih tetap tinggal sama Bunda, Bang Lian yang pindah kemari.
"Kamu belum ngomong sama Bia?" Tanya Ayah ke Bang Lian tapi seolah tahu ada yang salah dengan kami berdua, Ayah menghela nafas pelan dan mengangguk seakan mengerti sesuatu.
"Lian udah izin sama Ayah untuk ngajak kamu pindah dan Ayah rasa itu jauh lebih baik, Dek." Pemberitahuan Ayah yang membuat gue ikut menghela nafas dan harusnya ini bukan untuk gue bantah.
"Dek! Udah nggak papa setidaknya biarin semuanya tenang dulu, kalian berdua kayanya juga butuh bicara." Cicit Bunda meyakinkan.
"Heumm, kalau gitu aku pamit." Gue bangkit memeluk Bunda sama Ayah bergantian.
"Kita pamit Yah, Nda." Bang Lian berjalan lebih dulu dan gue hanya mengikuti langkahnya perlahan tanpa sepatah katapun, awalnya gue pikir kita bakalan naik mobil tapi ternyata motor.
"Pake jangan masuk angin." Gue nerima jaket Bang Lian dan naik motornya setelah memakai helm dengan baik, suasananya hening sampai kita berdua udah dirumah keluarga Bang Lian.
"Assalamualaikum." Ucap Bang Lian masuk lebih dulu, lagi-lagi gue cuma mengikuti dengan langkah lelah.
"Waalaikumsalam, loh Mas Lian bukannya nginep dirumahnya Mbak Bia?" Tanya Bi Sari kaget dengan kehadiran gue sama Bang Lian.
"Disana masih terlalu rame, Mama sama Papa mana, Bi?"
"Bapak sama Ibu udah tidur kayanya Mas, mau Bibi panggilin?"
"Nggak usah, kalau gitu kita naik dulu." Bang Lian berlalu naik lebih dulu, gue tersenyum kecil untuk Bi Sari dan berjalan ke dapur langsung, gue haus sama laper juga.
"Mau Bibi masakin Mbak?" Tawar Bi Sari yang langsung gue tolak.
"Nggak papa Bi, ini aja cukup kok." Roti sama susu harusnya memang udah cukup banget, lagi makan aja gue nggak berhenti menghela nafas lelah, nasib gue bakalan gimana sekarang.
Hampir setengah jam gue duduk di meja makan, gue bangkit dan mulai menimbang, gue mau tidur dimana? Kamar tamu? Kamar Bang Lian? Tapi kalau kamar Bang Lian mana berani gue, udahlah kamar tamu aja.
Masih gue berjalan pelan ke arah kamar tamu, tiba-tiba ada yang narik lengan gue yang memaksa gue berbalik arah.
"Kamu udah nggak tahu kamar Abang yang mana?" Tanya Bang Lian dingin bahkan nggak natap gue sama sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wrong Bride, The Right Love
Romansa"Nikah sama Bang Lian!" "Sama Bia juga nggak masalahkan?" "Hah?" Lian dan Bia sepakat menatap satu sama lain dengan raut wajah nggak peecaya. Karena perjodohan yang awalnya di rancang untuk Lian dan Gea gagal, pada akhirnya Bia yang dipaksa untuk m...
