(3)

5.7K 472 31
                                        

Sama halnya Bang Lian yang terpaku di tempat, gue juga sama terpakunya, bedanya gue terpaku bukan untuk pemberitahuan Kak Gea tapi lebih ke nggak tega ngeliat Bang Lian sekarang.

"Aliandra, lo denger gue nggak sih? Gue dilamar sama Dimas? Lo nggak mau ngucapin selamat? Lo nggak happy untuk gue?" Kak Gea melepaskan pelukannya dan menatap Bang Lian dengan ekspresi pura-pura dibuat kesal.

"Seneng." Bang Lian terlihat sangat amat memaksakan satu kata yang keliar dari mulutnya tapi sayang, mukanya itu berasa ada subtittle, kebaca sama gue.

"Ck, palsu banget elah." Gumam gue tanpa sadar, capek banget gue sama drama mereka berdua.

"Dek! Kamu nggak ikut seneng? Sini dong peluk." Tanpa reaksi berlebihan, gue berjalan dan nepuk pelan lengan Kakak gue.

"Pikirin lagi deh, itu yang Kakak rasain cinta atau bukan?" Gue ngomong kaya gini ke Kak Gea tapi natapnya ke Bang Lian, ego mereka berdua gedenya minta ampun, nggak ada yang mau ngalah.

"Kalau nggak cinta, mana mungkin lamarannya Kakak terima? Kamu nanya jangan aneh-aneh."

"Kalau cinta ya bagus, asal jangan cuma buat manasin kompor doang, nikah sekali seumur hidup, bukan untuk ngomporin orang yang masih hidup." Kalimat gue udah cukup jelaskan?

"Apaan sih, Dek?" Sikap gelagapannya Kak Gea sekarang semakin membuat gue yakin, dia juga suka sama Bang Lian, umur doang yang dewasa, egonya setinggi harapan Ayah sama Bunda ke gue.

"Aku cuma mau yang terbaik untuk kalian berdua, pahamkan? Paham dong, yang terbaik untuk Kakak, untuk Abang juga." Gue melepaskan jaket yang gue pakai dan ngasih balik ke yang punya.

Nggak memperpanjang, gue pamit masuk ke kamar duluan, gue udah mengusahakan tapi gue juga nggak mau terlalu ikut campur, gimanapun itu urusan mereka berdua, gue udah mengingatkan dan harusnya maksud ucapan gue barusan udah sangat jelas.

.

"Dek! Ayah sama Bunda mungkin nanti siangan udah di rumah, kamu mau langsung pulang ke rumah atau gimana?" Gue mendongak menatap Kak Gea yang memang berdiri di samping gue sekarang.

"Aku langsung pulang ke rumah aja, udah pamitan juga sama Bang Lian tadi." Gue hampir menyelesaikan sarapan, sebenernya Ayah sama Bunda juga ngabarin gue semalam.

"Kamu ketemu Lian? Kapan? Kok Kakak masuk ke kamarnya barusan orangnya nggak ada?" Heumm memang sekarang orangnya udah nggak ada.

"Tadi subuh ketemunya, Bang Lian ada perlu di kantor jadi berangkat lebih awal." Tetap gue jelasin ke Kak Gea walaupun gue tahu Bang Lian cuma ngasih alasan, menghindarnya udah sangat jelas saudara-saudara.

"Kok nggak pamit ke Kakak kalau mau berangkat lebih awal?" Tanya Kak Gea seolah nggak ada yang salah sama kalimatnya barusan.

"Memang sejak kapan Bang Lian harus laporan dulu sama Kakak sampai ke jadwal kantornya? Memang Kakak siapa? Pacar? Calon istri? Bukankan." Jawab gue nggak kalah santai.

Lagian mereka berdua udah keliatan jelas sama-sama suka tapi kelakuannya juga jelas bikin gue pusing, yang satu menghindar, yang satu pura-pura bego terus, ini adalah alasan kuat gue malas ikut campur, nambah kerjaan gue doang.

"Kamu kenapa sih, Dek? Dari semalam omongan kamu nggak enak banget di denger, kamu punya masalah? Cerita." Hooh masalah gue ya mereka berdua sekarang.

"Aku berangkat ke kampus sekarang ya? Tar pulangnya juga langsung ke rumah, nggak kemari, jadi nggak usah tanya-tanya lagi." Gue udah laporan duluan.

Meneguk minuman gue cepat, gue pamit ke Bi Sari dan keluar dari rumah, gue udah pesan ojek online tapi kayanya belum dateng, masih gue nunggu, kehadiran seseorang sukses membuat gue menghela nafas dalam.

"Udah ketebak memang, mana ada kantor yang masuk subuh?" Lembur mah mungkin ada tapi ini masuk subuh wak, ya mungkin ada juga tapi itu jelas nggak akan kejadian sama Bang Lian.

"Ayo naik, Abang anter." Nerima helmnya, gue naik ke motor Bang Lian tanpa banyak perdebatan, harus buru-buru sebelum Kak Gea lihat.

"Kamu buru-buru nggak?" Tanya Bang Lian nepuk lutut gue.

"Abang mau ngajak minum kopikan? Heum yaudah ayo, aku masuk siangan juga." Tadi gue sempat baca pesan grup katanya dosennya berhalangan, cuma di kasih tugas tapi karena gue udah terlanjur rapi, gue berangkat aja.

'Palingan mau curhat tentang Kak Gea.' Gue membatin.

-------

Menurut gue Bang Lian itu baik banget, dia sama Kak Gea juga cocok-cocok aja, gue malah seneng kalau Bang Lian yang jadi Abang Ipar gue tapi satu hal yang bikin gue nggak habis pikir, kenapa Bang Lian nggak ngungkapin perasaannya aja? Apapun hasilnya kan yang penting udah lega.

Di satu sisi gue kesal sama sikapnya tapi gue yakin Bang Lian juga banyak pertimbangan, gue juga nggak bisa bohong kalau gue nggak tega setiap kali ngeliat Bang Lian harus nahan diri di depan Kak Gea, harus pura-pura bahagia setiap kali Kak Gea ngomong punya pacar baru dan puncaknya ya kemarin.

Ekspresi Bang Lian beneran sakit, gue yang liatnya aja bisa tahu, gimana sama Bang Lian? Tapi semuanya seakan terjawab begitu Bang Lian datang dengan orang tuanya ke rumah malam ini, awalnya gue pikir cuma mau ngobrol biasa tapi ternyata enggak, gebrakan Bang Lian nggak kaleng-kaleng, ini lamaran.

Dari jauh gue tersenyum bahagia melihat ke arah Bang Lian yang keliatan sedikit gugup, tapi nggak papa deh, sebelum keluarga Kak Dimas yang dateng ngelamar, lebih baik Bang Lian duluan yang dateng.

"Dek, Kakak kamu mana? Ajak turun sebentar, kalian ikut duduk disini." Ucap Ayah yang gue angguki, dengan langkah cepat gue berjalan nyamperin Kak Gea di kamarnya dan ngajak turun paksa, Kak Gea kayanya belum sadar maksud kedatangan orang tua Bang Lian itu apa.

"Cepetan turun." Ajak gue semangat.

"Nah itu mereka datang." Bunda nepuk sofa disisinya untuk gue sama Kak Gea duduk, gue ambil posisi tepat dihadapan Bang Lian sekarang, senyum gue sangat jelas tapi kayanya nggak untuk Bang Lian, apa ada masalah? Mendadak perasaan gue jadi nggak enak.

"Kenapa Yah?" Tanya Kak Gea buka suara.

"Begini Kak, sebenernya maksud kedatangan Om Ari sama Tante Fera kemari itu mau menyampaikan keinginan mereka untuk menjadikan kamu menantu." Nah benerkan.

"Maksudnya gimana?" Kak Gea pura-pura nggak paham atau memang nggak ngerti situasi?

"Mereka datang dengan maksud melamar kamu untuk jadi istrinya Lian." Bagus dong, diperjelas lagi sama Ayah.

"Ayah, tapi_"

"Tapi karena Ayah tahu kamu punya pacar dan Dimas udah melamar lebih dulu, jadi lamaran keluarga Lian sudah Ayah tolak."

"Hah?" Kaget gue nggak sadar.

"Sebenernya, Ayah sama Om Ari sudah lama ingin menjodohkan kalian, Ayah sama Om Ari akan sangat senang kalau kami bisa berbesanan tapi karena kamu sudah mendapatkan lamaran lebih dulu, Ayah tidak bisa memaksa." Gue masih mendengarkan gebrakan dari Ayah sekarang.

Jadi ini alasan Bang Lian nggak bisa tersenyum lepas, lamarannya di tolak ternyata, lagian Kak Gea juga, udah tahu suka sama orang lain, ngapain nerima lamaran Kak Dimas coba? Nyari masalah aja, harusnya udah happy ending, ini mah jadinya gantung ending.

"Tapi kalau memang Gea sudah dilamar, kenapa perjodohannya nggak sama Bia aja?" Ide gila apalagi sekarang?

"Hah?" Kaget gue beneran.

"Mau Gea ataupun Bia yang jadi istrinya Lian, Om sama Tante sama sekali nggak keberatan kok."

"Heh?" Gimana? Gue nggak salah dengerkan?

"Ma!" Bang Lian bereaksi.

"Apa Ian? Kamu udah tahu lama kalau ada janji perjodohan diantara keluarga kitakan? Janji tetap janji, kalau bukan sama Gea, itu artinya ya sama Bia." Jelas Mamanya Bang Lian.

"Bia belum ada yang lamarkan, Mas? Mbak?" Tante Fera malah nanya ke orang tua gue? Kacau banget keadaannya sekarang.

"Hah? Apa-apa__"

"Hah heh hah heh, ikut Abang." Potong Bang Lian menggenggam lengan gue.

"Ma! Lian bicara sama Bia sebentar." Bang Lian bangkit dan langsung narik lengan gue untuk ikut, kenapa jadi rumit amat?

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang