(5)

5.8K 412 21
                                        

"Dek! Kamu beneran mau nikah sama Lian?" Kak Gea duduk dihadapan gue dengan mata berkaca-kaca, kalimatnya terdengar bergetar dan senyumannya jelas dipaksakan.

"Apa aku bisa nolak?" Tanya gue balik, Kak Gea harusnya udah tahu jawaban dari pertanyaan barusan, ini bukan tentang gue mau atau nggak mau lagi.

"Lagian Kakak ngapain langsung cerita ke Ayah soal lamaran Kak Dimas? Aku udah ngingetin Kakak untuk mikirin semuanya baik-baikkan? Kalau Kakak bisa bersabar sedikit aja, aku nggak akan diseret sampai sejauh ini." Sesal gue untuk tindakannya Kak Gea.

"Lamaran itu kabar baik, untuk apa di tunda? Mungkin memang udah jodoh kamu sama Lian, Kakak ikut seneng untuk kalian berdua." Ck, gue makin nggak habis pikir.

"Seneng? Kakak pikir aku sama Bang Lian bisa seneng?" Gue bukan tipe orang yang bisa pura-pura.

"Kak! Kakak sadarkan dengan apa yang barusan Kakak omongin? Masih belum telat Kak? Kalau Kakak ngomong baik-baik ke Ayah sama Bunda, mereka akan ngerti." Masih belum telat untuk berubah pikiran.

"Kakak harus ngomong apa, dek? Ngomong kalau Kakak bakalan batalin lamaran Dimas dan nerima lamaran Lian?" Gue mengangguk cepat.

"Kakak nggak bisa setega itu sama Dimas, Ayah sama Bunda juga pasti bakalan marah, mereka akan kecewa, Kakak nggak mau sampai kaya gitu."

"Udah kamu jangan mikir aneh-aneh, hubungan Kakak sama Lian cuma sahabat, Lian itu laki-laki baik." Ya hubungan statusnya cuma sahabat tapi perasaannya gimana? Lebihkan.

"Ya yang ngomong kalau Bang Lian bukan laki-laki baik juga siapa? Kagak ada." Lagi-lagi malah ini yang diperjelas.

"Makanya kalau udah tahu, terima aja lamaran orang tua Lian."

"Tau ah, gua pikir-pikir dulu."

"Dek! Kamu di dalamkan? Bunda masuk ya." Belum gue jawab, Bunda udah duluan ngebuka pintu kamar gue.

"Kamu mau berangkat kuliahkan? Yaudah buruan turun, itu Lian udah nungguin di bawah." Yaelah itu orang juga kesambet apaan pake nyamperin pagi-pagi begini? Belum cukup bikin rusuh semalam?

"Ngapain di jemput sih, Nda? Udah suruh pulang aja sama, aku bisa berangkat sendiri." Protes gue nolak, gue padahal udah ngasih tahu Bang Lian jangan dateng, tapi susah banget dikasih tahu.

"Jangan banyak protes sama nolak ya, Dek, capek Bunda dengernya, udah turun sana." Sejak kapan gue bisa menang berdebat di dalam rumah ini?

"Udah sana, hati-hati ya." Di dorong kecil sama Kak Gea, gue nyelepangin tas dan turun ke bawah dengan langkah gontai, malas banget.

"Pagi." Sapa Bang Lian tersenyum lebar.

"Nggak usah sok-sokan ngucapin selamat pagi, panas ni."

"Karena Abang tahu kamu kepanasan makanya Abang jemput pakai mobil, biar adem." Bang Lian mengedipkan matanya ngajak becanda.

"Ahaha, wah lucu sekalih." Gue tertawa sembari memutar mata malas.

"Kan aku udah bilang nggak usah jemput, nggak usah dateng? Abang nggak denger ya? Nggak bisa baca pesan chat aku yak?" Gue meluapkan kekesalan begitu masuk mobil.

"Abang denger, Abang baca Bia, tapi kan kamu juga tahu, kalau Mama udah nyusuh, mana bisa di tolak."

"Oh Tante yang nyuruh, pantesan aja, kalau nggak boro-boro mau nganter, aku minta nebeng aja, alasannya banyak banget."

"Kamu cemburu?" Pandangan gue langsung teralih mendengarkan pertanyaan Bang Lian barusan.

"Kayanya diantara kita berdua nggak harus ada kata cemburu, cemburu itu cuma untuk orang yang jatuh cinta, kan kita enggak." Kata cemburu terdengar masih sangat asing untuk gue sama Bang Lian, kata itu nggak harus ada.

"Kamu bener, mana mungkin kamu cemburu." Nah itu orangnya tahu.

"Kalau ngerti yaudah jalan, aku masuk pagi, nggak mau telat." Setelahnya hening, gue nggak ngomong apapun lagi dan Bang Lian juga cuma fokus sama kemudinya, belum apa-apa aja hubungan kita berdua udah secanggung ini.

"Bilangin makasih ke Tante karena udah nyuruh Abang nganterin aku hari ini." Kalimat gue sebelum turun dari mobil Bang Lian begitu sampai di depan kampus.

"Bia!" Panggilan Bang Lian yang membuat langkah gue terhenti, Bang Lian menurunkan kaca mobilnya dan gue berdiri mendengar malas.

"Yang nyuruh memang Mama tapi yang ngeluangin waktu dan tenaga itu Abang." Terus Bang Lian berharap gue ngomong apa? Makasih?

"Nggak peduli, nggak maksa minta nganterin jugakan? Yang maksa Abang." Berbalik arah, gue melangkah meninggalkan Bang Lian yang terlihat cukup kehabisan kata.

"Pletuk.!" Dentingan handphone gue dan memperlihat nama Bang Lian yang terpanpang dilayarnya.

"Pulang Abang jemput jadi tunggu." Dan nggak gue balas.

______

"Bia, lo beneran nggak mau ikut kita makan?" Tawar temen sekelas gue begitu kelasnya bubar.

"Enggak dulu deh, gue lagi nggak enak badan, gue mau langsung pulang, lain kali ya." Tolak gue memperlihatkan senyuman, mendadak gue memang ngerasa nggak enak badan, badan gue berasa anget, apa karena gue nggak makan dari semalam? Tadi dikantin gue juga cuma minum kopi, lambung kumat kayanya.

Tapi apapun, gue nggak lupa sama pesan chat Bang Lian yang bilang tunggu, gue tungguin tapi yang nyuruh nggak nongol-nongol, karena badan gue makin nggak karuan, gue nggak mungkin nunggu lebih lama jadi gue milih pulang pakai taksi aja.

Sampai di rumah, gue juga nyalim sama Bunda dan langsung ngacir ke kamar, gue butuh kasur yang bisa menenangkan keadaan gue sekarang, banyak pikiran dan telat makan adalah kombinasi yang sangat bagus untuk nyari penyakit, ditambah gue nggak bisa tidur juga semalam, komplit banget.

"Dek! Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Bunda yang ikut nyusulin gue masuk ke kamar.

"Heummm, Bia tidur bentar ya." Gumam gue nggak jelas, setelahnya gue nggak tahu Bunda ngomong apaan, yang gue tahu, Bunda narik selimut gue dan mengusap kepala gue sesekali, jiwa sebocil ini dipaksa berkelahi dengan yang namanya pernikahan, menyala nggak tuh.

Entah berapa lama gue tidur, gue bangun karena ngerasa panas banget, selimut tebal ditambah gue belum sempat ganti baju, boro-boro ganti baju, hijab aja masih nyangkut dikepala kaya gini.

"Udah bangun?" Gue yang kaget langsung duduk dan melihat sekeliling, ternyata Bang Lian yang udah duduk di depan meja rias kamar.

"Abang ngapain disini?" Tanya gue serak.

"Kalau sakit harusnya bilang, Abang panik nyariin kamu." Bang Lian bangkit dan duduk di ranjang tepat di samping gue, gue langsung melihat sekeliling.

"Kenapa? Pintu kamarnya Abang buka, Bunda juga tahu kalau Abang ada di kamar kamu." Jelas Bang Lian seakan paham maksud kekhawatiran gue sekarang.

"Aku nggak papa, Abang pulang aja." Usir gue halus, Bang Lian nggak perlu maksain diri, gue tahu dia cuma ngikutin kemauan Mamanya.

"Kenapa? Kamu nggak suka Abang disini?"

"Abang yang nggak harus maksain diri."

"Bukan Mama yang minta Abang kemari, Abang disini karena khawatir sama kamu, stop mikir aneh-aneh." Bang Lian tersenyum kecil mengusap kepala gue sekilas.

"Aku juga beneran nggak cemburu? Aku cuma_"

"Cuma apa?"

"Tahu kalau sikap baik Abang cuma karena permintaan dari orang lain itu bikin aku ngerasa nggak berharga, ternyata aku nggak sepenting itu." Sakit tapi itu bukan tentang cemburu.

The Wrong Bride, The Right LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang