What are they doing now?

21.1K 2.9K 47
                                        

"Maaf aku terlambat," sapa Darren saat tiba di hadapan Arabelle yang juga mengenakan gaun merah.

"I forgive you, tapi maaf aku makan duluan," balas Arabelle sambil tersenyum manis. Tangannya menunjuk sepiring pasta yang sudah dimakan separuh.

"My fault, I'm sorry ...." ucap Darren lagi.

"Ada pekerjaan mendadak?" tanya Arabelle setelah Darren duduk dan mulai membuka-buka menu.

"Sort of ... tidak terlalu menarik untuk diceritakan. Well, it's good to see you, Ara. It's been a while ...."

"Bella .... I thought you remember that everyone call me Bella," protes Arabelle walau dia tertawa kecil saat mengucapkannya.

Teringat akan kejadian tadi, Darren ikut tertawa. "Noted. I will always call you Bella from now on."

"Kamu mau pesan apa, D?"

"Aku gak terlalu lapar. Kurasa aku langsung pesan dessert saja. Kamu mau pesan apa, Bella?"

Darren memanggil pelayan, menyebutkan pesanannya dan Arabelle.

Saat pesanan mereka datang, Arabelle tersenyum tipis melihat betapa antusiasnya Darren menyantap dessert itu.

"Kupikir kamu tipe yang suka sour cake," tuding Arabelle.

Darren menatap chocolate fudge cake-nya yang tinggal tersisa sedikit lagi. "Nope! I'm addicted to choco."

-----------

Ara pulang ke apartemennya masih dalam keadaan malu yang belum juga sirna.

Kok bisa dia salah orang???

Untung ganteng dan yang terutama, gak macem-macem.

Stres memikirkan rasa malu yang membuat dia ingin menenggelamkan diri ke rawa-rawa, Ara bergegas melakukan hal yang selalu dia lakukan setiap mengalami bad day.

Memasak!

Ara berganti pakaian dengan kaus dan celana santai tanpa menghapus make up, dia bergegas ke dapur. Terlalu sayang kalau menghapus make up seharga jutaan. Ara berniat membiarkan wajahnya tidak diseka setidaknya sampai besok pagi.

Ara mengenakan apron lalu langsung sibuk menakar, menyiapkan bahan-bahan yang sudah dia hapal di luar kepala karena ini adalah kue kesukaannya.

Butuh waktu dua jam sampai kue siap untuk disantap. Saat ini memang sudah tengah malam, namun tak masalah, selama ini Ara memang pantang berdiet.

Ara memotong chocolate fudge cake dalam potongan besar, memindahkan ke piring saji, cepat menyendok satu bagian.

Mulutnya sibuk mengunyah, merasa puas dengan rasanya. Tadi dia baru mengutak-atik resepnya lagi dan kali ini hasilnya sempurna.

Dia akan memberikan resep ini ke kakaknya yang membuka usaha cake and coffee shop di kawasan apartemen yang sama dengan Ara.

Dia yakin sekali coba saja, Septy akan setuju dan berkata kalau kue ini bisa dijual di cake shop-nya.

Ara melanjutkan makan dengan senang sampai kue di piringnya habis. Setelahnya dia pergi untuk menggosok gigi lalu segera rebah di kasur tak mempedulikan make up cetar membahananya tercetak jelas di bantal.

-----------
Bulan-bulan berikutnya, Ara benar-benar melaksanakan keinginannya berkeliling dunia walau hanya seputaran Asia, New Zealand, dan Australia. Papanya tak bersedia memberi dana tambahan ketika dia mengutarakan keinginan merambah Eropa.

Miss AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang