Darren yang baru turun dari mobil mengecek pesan di ponselnya lagi.
Arabelle
I'm wearing a red dress. In case you forget my face. See ya there, D. 😊
Okay, woman in a red dress. Seharusnya tak sulit dicari, kan?
Darren masuk, memerhatikan sekeliling. Matanya menangkap sosok wanita dalam balutan gaun merah.
Penampilannya a little bit to much bagi Darren jika untuk sekadar makan malam, tapi, apa yang dia tahu soal fashion wanita?
Ragu-ragu, Darren menyapa wanita itu. "Ara?"
Dia balas bertanya. "D?"
Cepat, Darren mengangguk, merasa yakin kalau dia tidak salah, namun, kalimat lanjutan dari wanita itu membuat dia berpikir keras.
"Thank God, you're coming. Ayo, kita udah telat!"
Tanpa dia duga, wanita itu mengalungkan tangan ke lengannya, separuh menyeret Darren melintasi ruangan hingga menuju lift.
Darren tidak pernah terlambat! Dia bahkan datang 20 menit sebelum makan malam karena walau dia tidak bersemangat untuk bertemu dengan Arabelle, Darren pantang membuat orang menunggu.
Wanita itu tiba-tiba berbalik menatap dirinya saat mereka menunggu kedatangan lift. "Oke, kita gak lama-lama, kok, di sini. 20 menit aja gue rasa udah cukup. Remember, kalau ada yang nanya-nanya, senyumin aja. Kalau ada yang ngomongin di belakang, cuekin aja. Pura-pura aja kalau loe gak bisa bahasa Indonesia. Terutama kalau ada yang kepo maksimal nanya kapan kita jadian! Gak penting blass kalau ada yang segitu keponya!
Gue cuma butuh kita muter-muter bentar, show off, makan cemilan dikit deh kalau enak, dan yang paling utama, salaman sama manten! Pas nyampe panggung, loe boleh rangkul pinggang gue. Pinggang gue aja! Kalau tangan loe jalan ke mana-mana, bakal gue patahin!
Segitu aja udah keliatan mesra kan?? Iya kan??" cerocos wanita itu dengan ekspresi panik.
"Errrr, I guess ...." jawab Darren yang masih agak kebingungan.
Pintu lift terbuka, Ara menghela Darren untuk masuk, lalu memencet tombol lift menuju ballroom.
Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift dan wanita di hadapan Darren terlihat sangat tegang.
Ara mengibas-ngibaskan tangan, mencoba mengusir rasa tak nyaman yang membuat perutnya serasa terpilin.
"Jirrr, gue ngapain coba repot-repot gini? Pas nyampe sini baru berasa begonya. Emang bener ya, nyesel, tuh, selalu belakangan.
Niat gue cetek banget pengin bikin Didit nyesel udah selingkuh dari gue, padahal mau dia nikah sama Siska atau Genderuwo sekali pun, gue udah mati rasa juga! Bego beud loe, Ra!" Ara mengutuki dirinya sendiri.
"Eh, honest opinion dong, Derrek. Dandanan gue udah oke, belum?" Ara menatap Darren dengan raut memelas, meminta persetujuan.
Sementara Darren akhirnya bisa tersenyum simpul saat dia mulai memahami situasinya.
Tadinya dia ingin memberi tahu ke wanita yang sepertinya bernama Ara, kalau dia salah orang. Dia bukan 'D' si pacar sewaan yang ditunggu wanita itu dan berniat menertawakan situasi walau semua terasa canggung.
Akan tetapi hal itu dia urungkan. Tak baik rasanya mempermalukan wanita yang sudah mati-matian all out hanya untuk membalas sakit hati terhadap mantan. Demi sopan-santun, sebaiknya dia ikuti saja permainan Ara, toh, tidak akan memakan waktu lama juga seperti yang tadi wanita itu jelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Ara
RomanceCerita tentang Darren Pramudya dan Aurora si tukang kue. another rempongers project. (sinopsis menyusul kalau udah ada ide)
