Please don't fall in love without me

9.3K 2.4K 186
                                        

"Kenapa kamu cuma bawa sedikit?" tegur Ara setelah dia menghabiskan semua makanan yang dibawa Darren dalam satu kali makan saja, hanya menyisakan secuil untuk Darren.

Darren yang dari tadi diam menunggui Ara makan sambil memainkan ponsel, melirik sinis ke tangan Ara yang belepotan sambal. "Udah bagus aku lolos bawa itu!"

"Iya, kok bisa, sih? Aku bawa ikan asin aja dulu, failed! Padahal udah aku declare," tanya Ara penasaran.

"Faktor luck kayaknya, aku bahkan pernah lolos bawa rendang ke US."

Ara memerhatikan Darren. "Tergantung charm kali ya... Muka bule kamu ada pengaruhnya juga kali. Tapi tetep, segini kurangggg ...." rengek Ara.

Darren menaruh ponselnya di meja, meraih piring bekas Ara makan dan membawanya ke tempat cuci piring setelah memberikan tisu basah ke Ara sebagai pengganti air untuk mencuci tangan.

"Ya ampun, D! Aku masih bisa cuci piring sama cuci tangan sendiri! Menurut kamu aku hidup kayak gimana coba selama seminggu ini!" protes Ara saat Darren santai saja mencuci piring.

Ara bangkit untuk mencuci tangan. Tak betah rasanya jika hanya menyeka dengan tisu saja.

"Gak bisa diem!" gerutu Darren saat Ara sudah berdiri di sampingnya dan ikut mencuci tangan sampai bersih.

"Kamu serius mau nginep di sini? Di sini kan lebih sempit dari tempatku di Jakarta," tanya Ara lagi setelah mereka berdua sudah duduk santai di sofa two seater miliknya.

Darren meraih remote TV, mencari-cari program TV yang bagus untuk ditonton sebelum menjawab. "Iya, lihat kamu gak bisa diam dari tadi malah bikin aku was-was. Kapan sembuhnya kalau kamu terus begini?"

Ara mendelik, memukul lengan Darren. "Nginep ke hotel aja sana! Kalau gak, aku kasih biaya sewa." Dia kesal karena merasa dia tak butuh pengawas. Dari sejak Darren datang, sudah terhitung 10 kali pria itu meminta Ara untuk tidak banyak bergerak. How come? Dia kan bukan manekin yang tak butuh menggosok gigi dan buang air.

"How much?" tanya Darren tak peduli.

Ara memaki dalam hati, dia yakin jika dia memberi tarif $1.000,- sekalipun, Darren pasti bersedia membayar.

"Kalau gak, kamu sewa hotel, nanti aku yang di sana," usul Ara lagi.

Mendengar itu, Darren memutar bola matanya. "What for?"

"Ngincer room service-nya, lah!!" jawab Ara yang merasa heran kenapa Darren tak paham hal sesederhana itu.

Darren tertawa, mengacak rambut Ara, gemas. "I can cook for you," jawabnya langsung.

Kening Ara berkerut tak percaya. Dia pernah melihat Darren menyeduh teh, kopi, susu, memanggang roti, mengoleskan selai, membuat oat instan, tapi, selain itu, tak ada kegiatan memasak yang pernah Darren lakukan lagi selain menghangatkan makanan di microwave.

"How?" tanya Ara penasaran.

"Aku bisa masak, kok," aku Darren.

"Diajarin mama kamu?" selidik Ara, memandang Darren penuh kecurigaan. Dia tak yakin lidahnya akan selamat kalau itu hasil ajaran Tante Shane.

Dua minggu lalu dia dan Mama Darren ber-video call ria hanya demi memasak flufy pancake. Ara sabar menuntun step by step walau dia sempat berteriak-teriak karena Tante Shane nyaris memasukkan terlalu banyak garam instead of baking powder.

"No, Nash taught me," jawab Darren.

Kening Ara berkerut semakin dalam. "Sempet dia ngajarin kamu masak?"

Miss AraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang