Shera melemparkan sekantung besar Cha Cha ke arah Ara yang tiduran di sofa bed-nya.
Hari ini setelah menjenguk papanya, dia melarikan diri ke rumah Shera. Dia butuh tempat menenangkan diri sejenak setelah tadi dia dicecar oleh wartawan bahkan sebelum dia menutup pintu mobilnya.
"Bentar lagi Tania sama Annisa dateng," ucap Shera setelah melihat layar ponselnya.
"Nissa gapapa, tuh, jalan ke sini? Bisa bangun? Masih mabok kan dia?" tanya Ara.
"Dia lebih khawatir sama loe ketimbang sama mual-mualnya. Tania bilang dia mau bawa asinan mangga buat Nissa. Siapa tau bisa ngurangin mualnya."
Ara terdiam, membuka bungkus cokelat yang tadi dilemparkan oleh Shera, mengambil segenggam dan memakannya sekaligus.
Shera yang sekarang ikut duduk di sebelah Ara, merebut bungkusan cokelat, ikut menyantapnya. "Darren udah balik?"
Ara menggeleng. "Hari ini jadwal dia pulang. Pas denger kabar soal bokap, dia langsung telepon gue, bilang kalau dia mau pulang nemenin gue, cuma gue larang. Urusan bokap gak ada kaitannya sama dia. Mending dia kerja aja. Lebih guna kerja ketimbang ngurusin si Salim," jelasnya muram.
Setelah mendapat kabar dari infotainment soal penangkapan papanya dan si wanita jalang disertai bukti 8 gram ganja, 6 butir pil ekstasi, mimpi buruk Ara segera dimulai.
Mamanya tak mau berurusan sama sekali, begitu pun dengan Kak Septy yang sudah terlanjur sakit hati. Hanya Ara yang tersisa untuk mengurus semuanya. Biar bagaimana pun juga, seburuk apapun dia, dia tetap papanya. Tak ada yang bisa menghilangkan ikatan itu walau Ara sering berharap dia bertukar papa dengan pria yang jauh lebih beradab. Namun, mau bagaimana lagi? Toh, selama ini Ara besar karena dibiayai oleh Pak Salim.
Ara yang sibuk menghubungi pengacara, diskusi soal langkah yang diambil untuk meringankan hukuman, mencairkan aset-aset yang ada untuk membantu melancarkan segalanya. Belum lagi memastikan usaha papanya tetap berjalan dengan memaksa iparnya untuk ikut turun tangan walau Kak Marcel enggan.
Yang terburuk adalah, ketika dia harus menghadapi wartawan. Ditanya apapun, Ara tak bisa menjawab karena dia memang tidak tahu apa-apa. Dia kan sudah enam bulan tidak bertemu dengan Papanya.
"Bokap loe kenapa, sih?" gerutu Shera.
Lagi-lagi, Ara hanya bisa menggelengkan kepala tak mengerti. "Mungkin dia pikir narkoba sama kayak viagra kali," jawabnya asal.
Tawa Shera membahana. "Taekkkk!! Perlu banget bahas viagra!"
"Yah, siapa tau butuh mengingat bininya muda banget. Perlu ektra tenaga buat ngimbangin," tambah Ara dengan nada datar.
"Puber keduanya ganggu, ye...." ledek Shera.
"Bukan maen!" keluh Ara kesal.
"Loe sekalian urus mamak tiri?" tanya Shera lagi.
Ara mendelik, melempar Shera dengan bantal sofa. "Ogah amat! Gue bilang ke bokap kalau gue gak sudi ngurus tuh betina. Kalau bokap maksa gue bantuin dia, gue kaga bakal sudi ketemu dia lagi. Bodo amat! Kaga dibagi warisan juga gapapa!" serunya berapi-api.
Kekesalan Ara agak teredam sedikit saat semua sahabatnya datang mencoba memberi dukungan. Mereka mengobrol tak jelas untuk mengalihkan perhatian Ara walau di sana Ara lebih banyak diam, tak berisik seperti biasanya. Usai maraton nonton Taken trilogy, mereka kembali ke rumah masing-masing setelah memeluk Ara erat untuk menunjukan kalau mereka akan selalu ada untuknya.
Mood Ara semakin membaik saat Darren meneleponnya, memberi tahu kalau dia sudah sampai, namun, meminta maaf karena dia tidak bisa pulang ke apartemen dan menemui Ara karena ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan papanya soal kesepakatan bisnis terbaru. Hari ini dia akan menginap di rumahnya, besok baru dia bisa bertemu Ara lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Ara
Storie d'amoreCerita tentang Darren Pramudya dan Aurora si tukang kue. another rempongers project. (sinopsis menyusul kalau udah ada ide)
