Cahaya yang tiba-tiba saja muncul dari ponsel Ara membuatnya berbalik, melepaskan diri dari pelukan Darren untuk mengecek pesan yang masuk.
Ara membuka email yang masuk, membacanya sekilas.
"Who's that?" tanya Darren sambil membelai punggung Ara.
"My sister," jawab Ara singkat. Dia bergegas mengetikkan pesan balasan, lalu rebah kembali setelah menaruh ponselnya.
"Ada kabar apa?" tanya Darren lagi. Mereka sudah pergi bulan madu selama sebulan lebih dan sebetulnya aman untuk tiga minggu pertama tanpa ada gangguan pekerjaan. Namun, memasuki minggu ke empat, ada saja yang mengganggu mereka.
Ara mengangkat bahu. "Standar. Nanya kabar, kapan balik, sama tiba-tiba aja kirim proposal."
Kening Darren berkerut penasaran. "Proposal apa?"
Lagi-lagi Ara mengangkat bahu, bersikap seolah tak peduli. "Belum aku baca detail. Intinya pengajuan untuk buka cabang baru Moi's. Ada yang mau join," jawabnya datar.
Sepertinya imbas dari semua berita buruk yang dulu beredar, hubungan Ara dengan Darren sampai ke pernikahan mereka membawa dampak lain untuk Moi's cafe.
Kafe milik Salim sisters tak pernah sepi pengunjung. Untuk jam-jam tertentu bahkan antriannya sampai membludak. Review yang mereka terima juga sangat baik menjadikan tempat itu layak untuk dikunjungi.
"Kupikir kamu gak mau buka cabang baru ...." tuding Darren tak senang.
Sudah lama dia memberi usul ke Ara untuk membuka cabang baru, namun, usulnya selalu ditolak. Ara beralasan kalau dia harus menjaga quality control. Memastikan setiap menu yang keluar harus sempurna. --Ara memang seperfeksionis itu-- dan mengelola satu kafe saja sudah sering membuatnya sakit kepala.
"Kalau kamu benar mau buka cabang baru, aku mau jadi pemberi dananya. Gak boleh kasih ke yang lain," tegas Darren.
Ara memutar bola mata, menangkup pipi Darren, gemas. "Apa, sih? Aku juga belum mikirin itu, kok. Kan Moi's udah tambah besar juga. Mau fokus ke situ dulu aja. Lagipula kita kan udah deal gak akan ganggu bisnis satu sama lain."
Saat ini Moi's memang sudah bertambah besar dua kali lipat dari awal berdirinya. Ara membeli tempat di samping Moi's untuk melebarkan kafenya, namun, membuka cabang baru adalah hal yang perlu dipikirkan masak-masak.
"Aku gak ganggu, Ra. Aku cuma mau join. Buka di kantorku, dong. Jadi aku kalau mau kue pas jam makan siang gak perlu nunggu kamu bawain. Sama itu .... Caffe latte-nya."
"Cari another Rangga itu susah. Ummm, udah ada Ari, sih. Tapi, buat aku tetep lebih enak buatan Rangga," jelas Ara.
"Ya terserah, deh. Yang penting kalau kamu mau buka cabang, aku ikut!" jawab Darren keras kepala.
Ara menjulurkan lidah, tak peduli akan kengototan Darren dan membuat suaminya sekarang tertawa melihat tingkah konyol istrinya.
"Ada kabar dari Mama?" tanya Ara mencoba mengalihkan pembicaraan dari bisnis yang terlalu membosankan untuk dibahas saat akan memasuki jam tidur. Dia tahu kalau tadi Darren sempat bertelepon dengan mamanya sebentar.
"Cuma cerita soal Shea yang jatuh dari sofa."
Mata Ara terbelalak mendengar kabar soal anak Andrew yang super lucu itu. "Whattt??? Gapapa tapi?"
"Iya, gapapa. Jaraknya gak terlalu jauh dan karpetnya tebal. Tapi Papa abis dimarahin sama Mama. Jadi kemarin, Papa minta Andrew bawa Shea ke rumah, mau dia yang jaga aja. Gak lama Andrew pergi, malah anaknya dibuat gelinding dari sofa. Kata Papa, padahal dia cuma angkat pantat sebentar buat ambil ponsel di meja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Ara
Любовные романыCerita tentang Darren Pramudya dan Aurora si tukang kue. another rempongers project. (sinopsis menyusul kalau udah ada ide)
